Singgahan Pertama

mufti
Beberapa grup WA di Belanda mengabarkan bahwa sebagian mahasiswa yang menjalani studi pada tahun-tahun belakangan mengalami kesulitan mencari akomodasi permanen atau sementara. Dulu saya termasuk diantara golongan mahasiswa tersebut. Pada 5 Oktober 2016 saya menginjakkan kaki di tanah para Meneer dan Mevrouw tanpa akomodasi permanen. Beginilah nasib orang yg tidak mencari akomodasi jauh-jauh hari, dan kebanyakan nggak bisa bayar karena keluarga kami nggak punya kartu kredit 

Alhamdulillah. Ada rekan satu Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP 70 bersedia menolong saya. Beliau berkenan membuka pintu agar bisa numpang sementara di kamarnya. Saat itu memang belum memasuki winter, tapi pemuda tropis ini sudah tidak tahan dengan angin dingin Rotterdam. Dinginnya angin aja nggak kuat, apalagi dinginnya sikapmu #eaaa. Saya tinggal di kamar tersebut satu malam sebelum kemudian pindah lagi ke akomodasi sementara (lagi). Seblum saya mendapat rumah yg saya dan keluarga huni sekarang, saya pindah rumah/kamar sebanyak lima kali. Membawa tiga koper kemana-mana, apalagi kalau naik tangga tipikal rumah Belanda yg berkemiringan 85 derajat. Lantai 3. Tanpa lift. Beuhhh.

Singgahan pertama ini di benua biru tidak akan saya lupakan, dan saya berusaha pay forward jika memungkinkan. Saya berpendapat seseorang jika memiliki tempat berteduh dan menghangatkan diri akan bisa berpikir dengan jernih, merasa secure dan siap menjalani tantangan hidup ke depan.

Kemarin saya akhirnya bisa silaturahmi dengan tuan rumah. Pemuda harapan bangsa seorang analis ekonomi di lembaga riset ekonomi ternama di Indonesia. Mas @muftifaisal. Saya belajar banyak lagi tentang kondisi makroekonomi. Banyak yg lupa euy.

Bagi rekan-rekan yg akan datang ke Belanda dan sedang mencari singgahan pertama, semoga segera mendapatkan titik terang dan kabar baik 

Jakarta, 27 May 2019

signature-pugo