Mas Asdos

Dulu ketika masih semester-semester awal kuliah, saya selalu menganggap asisten dosen adalah mahasiswa dengan tingkat kecerdasan dan kepintaran di atas rata-rata. IPK pasti langitan. Kalau nggak, masak sih Dosen mau hire? Anggapan ini lalu berubah setelah negeri api menyerang. Saya akhirnya jadi asisten dosen, bukan karena pinter, tapi kok ya pas Dosen tersebut sedang butuh dan para kandidat yg IPK nya tinggi-tinggi sedang KKN (Bukan di desa penari lho. Hehe). Jadi kandidatnya tinggal saya. Tapi, di posting ini saya tidak mau cerita tentang itu. Saya mau cerita tentang mas di sebelah saya ini. Mas Anthony.

Kala itu saya ambil mata kuliah Ekonometrika 1. Sebagai anak IPS, subjek yg ada ika-ikanya terasa berat buat saya. Alhamdulillah, Dosennya sangat amat baik mengantarkan kuliah sehingga mahasiswa semangat. Yaiyadong, FEB UGM gitu lho. Hehe. Salah satu sesi kuliah ini menghadirkan kuliah tamu seorang Professor dari US. Prof ini salah satu tim yg bikin software Ekonometrika Gretl. Saya lupa isi sesi itu, yang saya perhatikan prof tersebut ditemani dua asisten dosen. Mas Anthony dan Mas Said Fathurohman (sekarang dosen di UNAIR). Saya menggumam dalam hati melihat mas Thony dan mas Said, wah enak ya jadi asisten dosen, dekat dengan lingkungan akademik dan sumber ilmu. Kayaknya keren gitu πŸ™‚

Entah bagaimana ceritanya, saya yang SKSD bisa kenal dengan mas Anthony dan suatu waktu pernah meng”grebek” (pakai bahasa Atta geledek) pengen tahu apa sih yang dilakukan seorang asisten dosen. Ternyata dari cerita beliau pekerjaannya bisa A sampai Z. Sebagai contoh, waktu itu Mas Anthony diminta membuat resume buku-buku terbaru, yang kemudian bisa dipajang di Perpustakaan. Bu Dosen pengen, mahasiswa-mahasiswa update dengan literatur terkini. Saya diminta bantuin, eh ternyata malah ngrecokin dan banyak nanya karena semua teks dalam bahasa Inggris. TOEFL saya yang cuman 430 tidak banyak membantu πŸ˜€

Fast forward, sekarang mas Anthony ternyata tidak mengambil jalur sebagai akademisi. Padahal saya kira bakalan jadi dosen πŸ˜€ Saat ini mas Anthony berprofesi sebagai entrepreneur sukses. Justru, keputusan yang diambil menurut beliau mengamalkan Ilmu Ekonomi. “Lah, sakikiy taktakoni, nek dewe sekolah terus duwur-duwur (katakanlah kuwi x) lalu apakah output e (y) akan naik? Lak yho durung mesti tho???” Saya cuman bisa mesem-mesem “Benerrrrr jenengan massss πŸ˜€ ”

Pagi hari saat itu sejuk. Pertemuan yang sudah lama tidak terjadi itu menjadi ajang jual-beli cerita dan gosip πŸ˜€ Dasar lidah surplus, lambe turah. Ditemani dengan nasi uduk lauk aneka rupa, taklupa kopi hangat menjadikan diskusi takterasa. Biar tidak mengentek-entekkan makanan, saya pamitan karena sorenya harus balik ke Rotterdam. Sampai ketemu lagi Mas Asdos! πŸ™‚

Rotterdam, 16 September 2019