Mas Asdos

Dulu ketika masih semester-semester awal kuliah, saya selalu menganggap asisten dosen adalah mahasiswa dengan tingkat kecerdasan dan kepintaran di atas rata-rata. IPK pasti langitan. Kalau nggak, masak sih Dosen mau hire? Anggapan ini lalu berubah setelah negeri api menyerang. Saya akhirnya jadi asisten dosen, bukan karena pinter, tapi kok ya pas Dosen tersebut sedang butuh dan para kandidat yg IPK nya tinggi-tinggi sedang KKN (Bukan di desa penari lho. Hehe). Jadi kandidatnya tinggal saya. Tapi, di posting ini saya tidak mau cerita tentang itu. Saya mau cerita tentang mas di sebelah saya ini. Mas Anthony.

Kala itu saya ambil mata kuliah Ekonometrika 1. Sebagai anak IPS, subjek yg ada ika-ikanya terasa berat buat saya. Alhamdulillah, Dosennya sangat amat baik mengantarkan kuliah sehingga mahasiswa semangat. Yaiyadong, FEB UGM gitu lho. Hehe. Salah satu sesi kuliah ini menghadirkan kuliah tamu seorang Professor dari US. Prof ini salah satu tim yg bikin software Ekonometrika Gretl. Saya lupa isi sesi itu, yang saya perhatikan prof tersebut ditemani dua asisten dosen. Mas Anthony dan Mas Said Fathurohman (sekarang dosen di UNAIR). Saya menggumam dalam hati melihat mas Thony dan mas Said, wah enak ya jadi asisten dosen, dekat dengan lingkungan akademik dan sumber ilmu. Kayaknya keren gitu 🙂

Entah bagaimana ceritanya, saya yang SKSD bisa kenal dengan mas Anthony dan suatu waktu pernah meng”grebek” (pakai bahasa Atta geledek) pengen tahu apa sih yang dilakukan seorang asisten dosen. Ternyata dari cerita beliau pekerjaannya bisa A sampai Z. Sebagai contoh, waktu itu Mas Anthony diminta membuat resume buku-buku terbaru, yang kemudian bisa dipajang di Perpustakaan. Bu Dosen pengen, mahasiswa-mahasiswa update dengan literatur terkini. Saya diminta bantuin, eh ternyata malah ngrecokin dan banyak nanya karena semua teks dalam bahasa Inggris. TOEFL saya yang cuman 430 tidak banyak membantu 😀

Fast forward, sekarang mas Anthony ternyata tidak mengambil jalur sebagai akademisi. Padahal saya kira bakalan jadi dosen 😀 Saat ini mas Anthony berprofesi sebagai entrepreneur sukses. Justru, keputusan yang diambil menurut beliau mengamalkan Ilmu Ekonomi. “Lah, sakikiy taktakoni, nek dewe sekolah terus duwur-duwur (katakanlah kuwi x) lalu apakah output e (y) akan naik? Lak yho durung mesti tho???” Saya cuman bisa mesem-mesem “Benerrrrr jenengan massss 😀 ”

Pagi hari saat itu sejuk. Pertemuan yang sudah lama tidak terjadi itu menjadi ajang jual-beli cerita dan gosip 😀 Dasar lidah surplus, lambe turah. Ditemani dengan nasi uduk lauk aneka rupa, taklupa kopi hangat menjadikan diskusi takterasa. Biar tidak mengentek-entekkan makanan, saya pamitan karena sorenya harus balik ke Rotterdam. Sampai ketemu lagi Mas Asdos! 🙂

Rotterdam, 16 September 2019

Catatan Hati Seorang Cleaner #2

mas catur

Kemarin cleaner kantoran dengan cleaner sekolahan reuni. Mereka sudah lebih dari dua tahun tidak bertemu. Mereka ditemani seorang pejabat kementrian perdagangan.

Dalam sebuah chat, sebelum ketemu, sang cleaner kantoran mem-bully cleaner sekolahan dengan kalimat: “resiki sak sekolahan mung 4 jam, kerjo opo bunuh diri yo”. Cleaner sekolahan hanya bisa menjawab “Luwih tepatnya diplekotho!”. “Ning doyan ” si cleaner elit menimpali. “iya juga sih” gumam cleaner kroco dalam hati.

Di Australia, para student … eh cleaner Indonesia (ups), sangat disukai oleh boss-boss atau klien penyewa jasa kebersihan. Klien mereka bisa rumah pribadi, sekolah, perkantoran, kampus universitas dan pertokoan. Para pejuang kebersihan Indonesia terkenal lebih tidak suka complain (di depan boss, entah bergunjing di belakang hehe), tepat waktu dan kerjanya bersih. Intinya penurut  Value ini tidak ada pada para pekerja dari asia timur dan asia selatan. Tahulah darimana.

Setelah para veteran cleaner OZ ini bertemu, obrolan tidak jauh-jauh tentang bebersih. Saya baru tahu bahwa senior saya satu ini juga mengalami perasaan yg sama ketika melihat toilet di kantor atau kampus yg kurang bersih. Kaca penuh debu. Mold di cermin. Wastafel yg tidak kinclong. Tissue toilet habis. Kayak gatel pengen untuk ngerjain. Ada rasa berkecamuk dalam hati. Menggumam, “Sini mas saya aja yg ngerjain” Atau “chemical-nya kurang nih!” Belagu bet yak. Syndrome ini sepertinya belum ada nama. Ada usul?

Selain bercerita pahit dan getir selama menjadi aktivis kebersihan, kita juga membahas pendapatan. Cleaner sekolahan menjadi minder karena cleaner kantoran memiliki superannuation sangat tinggi. Jika superannuation segitu gede, maka berapa totalnya! Duh, jadi pengen balik ke OZ. Haha. Tapi juga ada kabar kurang menggembirakan, perusahaan tempat sang cleaner kantoran sekarang sudah gulung tikar. Padahal dulu bisa banyak menyerap tenaga kerja kita.

Kami berharap semoga keunggulan komparatif para cleaner Indonesia bisa ditingkatkan. Bahkan jika perlu, kita membuka company di OZ agar bisa mengurangi defisit current account kita yg semakin menganga. Semoga 

Jakarta, 30 May 2019

signature-pugo

 

Singgahan Pertama

mufti
Beberapa grup WA di Belanda mengabarkan bahwa sebagian mahasiswa yang menjalani studi pada tahun-tahun belakangan mengalami kesulitan mencari akomodasi permanen atau sementara. Dulu saya termasuk diantara golongan mahasiswa tersebut. Pada 5 Oktober 2016 saya menginjakkan kaki di tanah para Meneer dan Mevrouw tanpa akomodasi permanen. Beginilah nasib orang yg tidak mencari akomodasi jauh-jauh hari, dan kebanyakan nggak bisa bayar karena keluarga kami nggak punya kartu kredit 

Alhamdulillah. Ada rekan satu Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP 70 bersedia menolong saya. Beliau berkenan membuka pintu agar bisa numpang sementara di kamarnya. Saat itu memang belum memasuki winter, tapi pemuda tropis ini sudah tidak tahan dengan angin dingin Rotterdam. Dinginnya angin aja nggak kuat, apalagi dinginnya sikapmu #eaaa. Saya tinggal di kamar tersebut satu malam sebelum kemudian pindah lagi ke akomodasi sementara (lagi). Seblum saya mendapat rumah yg saya dan keluarga huni sekarang, saya pindah rumah/kamar sebanyak lima kali. Membawa tiga koper kemana-mana, apalagi kalau naik tangga tipikal rumah Belanda yg berkemiringan 85 derajat. Lantai 3. Tanpa lift. Beuhhh.

Singgahan pertama ini di benua biru tidak akan saya lupakan, dan saya berusaha pay forward jika memungkinkan. Saya berpendapat seseorang jika memiliki tempat berteduh dan menghangatkan diri akan bisa berpikir dengan jernih, merasa secure dan siap menjalani tantangan hidup ke depan.

Kemarin saya akhirnya bisa silaturahmi dengan tuan rumah. Pemuda harapan bangsa seorang analis ekonomi di lembaga riset ekonomi ternama di Indonesia. Mas @muftifaisal. Saya belajar banyak lagi tentang kondisi makroekonomi. Banyak yg lupa euy.

Bagi rekan-rekan yg akan datang ke Belanda dan sedang mencari singgahan pertama, semoga segera mendapatkan titik terang dan kabar baik 

Jakarta, 27 May 2019

signature-pugo

KMF. Konco Monetary Fund. 

mas_Afi

Hidup di perantauan apalagi di luar negeri membutuhkan teman yg saling membantu. Para WNI yg tinggal di mancanegara, atau Diaspora meminjam istilah anak Jaksel, pun juga begitu. Mereka harus tulung tinulung dalam masa-masa sulit. Apalagi dalam hal finansial alias duit.

Hal itu terjadi pada saya di awal kedatangan saya di negeri van Oranje. Saya kesusahan untuk mendapatkan akomodasi hampir selama tiga bulan. Saya sangat menyesal tidak mencari jauh-jauh hari rumah yg akan saya tinggali. Awalnya pengen cari tempat singgah sementara tapi ternyata banyak landlord yg tidak mau, kontrak minimal dalam satu tahun. Itupun juga sulit dengan budget saya yg nggak masuk. Yang masyuk cuman Pak Eko. 

Dalam apply akomodasipun ada beauty contest dalam hal finansial karena pendaftarnya banyak. Misalnya, pendapatan per bulan dan jumlah tabungan di rekening sebagai indikator pelamar bisa bayar biaya rental bulanan. Nah, masalahnya tabungan saya dalam bentuk Euro tidaklah banyak. Ia hanya cukup satu bulan impor #halah. Jika jumlah saldo di tabungan kurang meyakinkan maka dia sulit diterima lamarannya oleh landlord. Landlord dah kayak calon mertua kan? hehe

Alhamdulillah, dalam batch kedatangan saya ada konco wong Semarang bernama mas Dwi Afianto atau biasa dipanggil mas Afi. Pria lulusan SMA 3 Semarang dan STAN ini berkenan memberikan bantuan tanpa bunga pada saya agar rekening tabungan saya minimal keliatan wangun bin layak lah jika dilihat sama Landlord. Dan nggak saya belanjakan juga sih. Alhamdulillah, setelah 3 bulan pencarian aplikasi saya diterima landlord. Rumah itu hingga dua tahun ini saya tinggali. Saya dibantu oleh dana pertemanan alias Konco Monetary Fund.

Saat ini mas Afi sekeluarga sudah back for good ke Indonesia. Thesis beliau mendapatkan nilai 9. Raihan yg jarang dicapai student Indonesia bahkan mahasiswa bule. Foto ini diambil hari kamis pekan kemarin sebelum pagi nya harus kembali ke Indonesia untuk mengabdi di Dirjen Pajak dan mbak Lia mengembangkan bisnis kateringnya. Matur nuwun mas Afi! 

Note: KMF juga bisa berarti nama acara kumpul-kumpul Kagama di Netherlands. Kumpul. Mangan. Foto.

Rotterdam, 6 September 2018

signature-pugo

Pencitraan

mbakChikuSekeluarga

Pencitraan itu kadang perlu. Terutama untuk mengubah perilaku. Contohnya adalah gubuk lusuh kami di pinggiran rel stasiun metro Zuidplein. Pada hari-hari biasa, rumah berantakan. Cucian kemana-mana. Pemean alias jemuran malang melintang. Dapur tiada aturan. Semua itu akan berubah jika ada tamu yang akan datang. hehe. Ruang tamu bersih tiada pakaian berhamburan. Dapur pun bersih. Mengejutkan. Entah darimana energi bersih-bersih itu berasal   Tapi kami seneng kok jika ada tamu. Kata pak Ustadz, saling berkunjung itu memperpanjang rezeki dan umur.

Alhamdulillah, akhir pekan lalu kedatangan tamu dari Bonn Germany. Mbak Retno yg biasa dipanggil mbak Chiku beserta mas Radit dan putri imutnya Zahra (18 m) main ke Rotterdam. Mbak Chiku ini yg banyak menginspirasi kami dalam sekolah luar negeri. Sudah tidak terhitung jumlah negara yg beliau kunjungi. Saya dan Sari belum ada apa-apanya. Nah, essay dan proposal LPDP mbak chiku pulalah yg saya liat-liat sebagai referensi sebelum submit dulu. Banyak posting beliau di blog juga sangat membantu. Alhamdulillah, diterima. Terimakasih atas inspirasi dan sharingnya mbak Chiku dan mas Radit. Semoga selalu terjalin silaturahmi.

Buat temen-temen yang mau main. Monggo. Biar kami sering pencitraan dan rumah bersih 

 

Rotterdam, 4 September 2018

signature-pugo

Paradoks Waktu Luang (Catatan Hati Seorang Cleaner)

forde_canberra_school

Jika tidak salah hitung, kira-kira sudah hampir empat bulan saya menjalani profesi sebagai Teaching Assistant di sebuah sekolah dasar katolik di Canberra. Keren bukan, judulnya aja teaching assistant. Padahallll tupoksi alias tugas pokok dan aksinya adalah: membuang sampah, vacuum, ngepel, bersihin toilet, ngelap kaca dan lain sebagainya. hehehe. Aku memang membantu guru sebelum mereka mengajar namun dengan cara membersihkan kelas sehingga bersih dan nyaman 😀

Tidak hanya semakin sehat dan gesit karena banyak bergerak, ada banyak manfaat selama saya menjadi ‘teaching assistant’. Selama empat bulan sebagai tukang bersih-bersih akhirnya bisa membeli urunan sama istri untuk tiket pulang kampung pada bulan Juni 2014.

Pun selain itu ada  banyak pengalaman berharga yang bisa diambil salah satunya tentang paradoks waktu.  Dalam kurun waktu empat bulan tersebut saya mulai bisa mempelajari pola kerja dan waktu yang perlu saya habiskan untuk mengerjakan tugas. Satu yang menurut saya paradoks adalah setiap saya berangkat lebih awal dalam bekerja. Saya yang biasa bekerja mulai jam 4 sore dan selesai 8 malam, kemudian mencoba mulai jam 15.30 karena sekolah selesai jam 15.00. saya merasa bahwa saya akan cepat selesainya. Tapi nyatanya tidak. Saya pulang malah ngelewati jam yang ditentukan. Misal jatahnya selesai empat jam, saya selalu kelebihan 15-30 menit. What a waste. Karena toh saya tidak digaji kelebihan 15-30 menit tadi.

Setelah saya evaluasi, ketika merasa waktu lebih panjang, ada kecenderungan saya menjadi tidak disiplin. Satu pekerjaan yang biasanya cepat selesai misalnya 10 menit jadi 11-12 menit. Kok ya ndilalahnya, itu merembet pada tugas-tugas yang lain. Makanya, jika dijumlahkan tambahan 1-2 menit tiap pekerjaan, tumpukan keterlambatan menjadi banyak.  Hal ini juga berlaku pula untuk persiapan ujian final mikro/makro/ekonometrika beserta tugas-tugasnya 😀

Dalam hidup pun, sebenarnya kita menghadapi hal yang sama. Awalnya menganggap bahwa waktu kita masih banyak, tapi kok tambahnya usia jadi makin cepet ya?  Pun sekarang dah beristri dah punya anak lagi (sambil ngaca). Peran dan tanggung jawab kita bertambah, baik untuk kehidupan pribadi, keluarga, sosial. Video abstraksi dari ceramah Nouman Ali Khan tentang Surah Al-Ashr di bawah ini sangat relevan dalam pembahasan kita. Betul-betul nasihat buat saya pribad: “Hati-hati dengan waktu luangmu”.

#verylatepost

 

signature-pugo

Teman Teladan #1

anzas_nuning

Alhamdulillah, dua minggu yang lalu mendapatkan kesempatan disambangi dan bertukar cerita dengan pasangan “Njeruk” Teladan ini. Kami menyebut pasangan “Njeruk” bagi pasangan suami istri sesama alumni SMAN 1 ‘Teladan’ Jogjakarta tanpa memandang angkatan. Karena ada yg meminang adek kelas atau kakak kelas.

Mas Anzas dan Mbak Nuning bersama putrinya yg lucu bernama Seruni mampir ke Rotterdam setelah melancong ke Bruge dan Brussel di Belgia. Dalam kurun waktu yg singkat sudah tidak terhitung jumlah kota-kota di Eropa yg mereka sudah kunjungi mulai dari Edinburgh, Athens, Venice, Napoli dll. etc. Laporan lebih lengkapnya di IG mbak nuning di @nurul_kuning, sist! Nha, cerita mereka kontras dengan bapak dan ibuknya Fiza yg belum move on dari Belanda sejak pertama kali datang di bulan Maret yg lalu. Paling jauh ke Groningen beli Iga Bakar 

Dari pasangan kombinasi Bantul-Kulon Progo ini kami belajar meniru tag line/Meme filosofis Bus Sumber Kencono yg legendaris di Jawa Timur: “Sing Penting Mantep lan Yakin, InsyaAllah Mengko Alangane Minggir Dhewe”. Alias, Yang penting mantap dan yakin, InsyaAllah Halangan akan Minggir Dengan Sendirinya  Sing penting nekat tapi terukur. Karena waktu di Eropa juga nggak lama. Hehe.

Ini juga yang kami sesali sepulang dari sekolah di Canberra dua tahun lalu karena belum mampir Tasmania dan New Zealand. Kami terlalu itung-itungan. Dasar keluarga muda. KPR oh KPR  Kami ditolak KPR deng, BTW. #CurCol. Terimakasih ya, bapak dan Ibuknya Seruni. Semoga bisa jalan-jalan mentadaburi di sudut Bumi Allah yg lain.

#TemanTeladan #njeruk #LatePost

#TeladanTumandang #TeladanEverywhere#Teladan60Tahun #LustrumXIITeladan

 

signature-pugo

Ruang SEF 1.5×2 

uda_angga
Sebelum pindah ke ruangan sekretariat bersama JMME yang sekarang, ruang sekre SEF hanyalah ruang sempit 1.5×2. Padahal setiap angkatannya kurang lebih 30-35 anggota, Gan. Empet-empetan bukan? Namun ad hikmahnya, keterbatasan tadi membuat kita dekat, apalagi saat rapat. Literally.

Di ruangan itulah, saya diwawancarai kakak senior ini untuk menjadi anggota Sharia Economics Forum(SEF) UGM. SEF pertama, sebelum diikuti-ikuti Gunadarma. heuheu. Secara biar diterima menjadi anggota, maka saya jualan kecap. Ketika ditanya, apa visi menjadi anggota SEF, saya bilang akan menjadi Tokoh Anti Riba Indonesia. Naif, ya? Namanya juga Maba. Ternyata, setelah 12 tahun berlalu, saya belum jadi apa-apa. Meskipun, saya tetap pegang teguh untuk jadi anti riba dan ternyata dihindarkan dari riba. Contoh konkrit, saya ditolak bank ketika akan mengajukan KPR. Katanya nggak eligible. Ngutang saja tidak dipercaya 

Tapi yang ingin saya ceritakan lebih adalah sosok kakak senior yang mewawancarai saya, sekaligus ketua SEF saat itu. Uda Angga Antagia. Bisa dibilang, beliau salah satu inspirasi kami adek-adeknya dalam perjuangan Ekonomi Islam. Kala itu beliau pemuda yang punya banyak prestasi, cerdas, IPK tinggi, mudah bergaul dan ramah. Ketika khutbah Jumat dan berbagai diskusi pun beliau sudah sangat artikulatif di usianya. Salah satu rahasianya ternyata budaya literasi dan baca beliau yang tinggi. Tak terhitung jumlah buku di kamar asrama beliau.

Kebiasaan membaca beliau tidak berkurang hingga sekarang. Itu yang saya tangkap dari obrolan singkat sehari dengan beliau di Kota Leiden. Kota dimana dulu para pejuang kemerdekaan berkumpul. Konon, Bung Hatta sering main ke Leiden karena dia dulu kuliah Rotterdam, tapi banyak temennya di Leiden. Diskusi kemudian berlanjut tentang pengalaman kakak senior saya ini di DPR dan lembaga konsultan dimana sekarang bekerja. Mendengar ceritanya, seakan saya belum ngapa-ngapain dan belum banyak yang saya tahu.

Bertemu dengan Uda Angga, juga memberi ingatan kepada saya agar tetap istiqomah agar jangan dekat-dekat riba. Inget Go, wawancara dulu  Dan pastinya, mau belajar ekonomi apa saja, Ekonomi Islam harus selalu di hati.

signature-pugo

 

Perdebatan Ruang TV

habis_nonton

 

Foto di atas diambil saat saya pertama kali nonton bareng di Bioskop. Jika saya tidak keliru kami menonton Om James Bond. Untuk kedua kalinya  pada sekuel Quantum of Solace ini Daniel Craig bermain. Kami memang lebih biasa nonton film action atau horror. Jika ketika terkait dengan film-film romantis religius seperti Ketika Cinta Bertasbih, Mihrab Cinta tentu kita anak JW3 nggak nonton bareng.  Alhamdulillah kami masih normal. Ataupun nonton konser dua dekade Kahitna, live music Maher Zain tentu kami masing-masing cukup selektif mengajak siapa. Hehe.  Biasanya mereka cukup ahli menyembunyikan dengan siapa mereka menonton.

Tapi setahu saya, nonton bareng James Bond itu merupakan jama’ah paling banyak. Kita kemudian jarang nonton bareng karena mungkin banyaknya kesibukan, tapi ada pula andil adanya TV di ruang berkumpul kami di ruang tengah. Dan disanalah banyak perdebatan terjadi.

Saat makan malam habis maghrib biasanya kita berdebat dan eyel-eyelan. Kayak calon pejabat kami diskusi terkait bangsa dan negara. Dari kasus subsidi BBM hingga kasus KPK Cicak versus Buaya. Aktivis bener bukan? Tapi semua berubah setelah jam nonton TV.  Ada dua kutub dalam acara berdebat menonton TV di ruang tengah. Satu kubu punya pandangan bahwa film-film bagus itu ada di HBO ataupun fox movies. Film-film Holywood, Britania Raya dan Eropa jadi acuan. Yang ada di golongan ini di antara Syarif, Sinyo, Fadly, Abas, Dani dan masih banyak lainnya.

Kutub kedua yang juga garis keras meski minoritas adalah para penikmat Celestial Movie. Pendukung ide utamanya adalah Lakso Anindito dan saya sendiri. Kami berpendapat film-film dengan wajah oriental lebih nyaman ditonton dan lebih ideologis. Lakso lebih suka film-film Mandarin, mungkin,  karena wajahnya yang oriental.   Sedangkan saya film Jepang dan Korea. Dua kubu besar ini kemudian berebut dan beradu argumen film mana yang lebih worth it untuk ditonton.

Uniknya, dari dua kubu yang berbeda tadi bersepakat bahwa FTV adalah tayangan wajib di pagi hari. Terutama Bang Fadly. Kalian bisa confirm semua judul FTV pada medio 2009-2010 sudah kami tonton semua. Mulai dari judul-judul aneh seperti “Pacarku Tukang Ojek”, “Cinta di Kandang Sapi”, “Kekasihku Orang Desa”  dan judul-judul sejenis. Bahkan, kami tahu ada seri FTV yang ditayang ulang. Plotnya pun selalu sama: (1) Melibatkan dua karakter berbeda, biasanya yang satu berlatar belakang sangat miskin satu sangat kaya (2) Ketemu tidak diduga  (3) Selalu bertengkar, berkonflik dan benci dulu (4) Karena sering ketemu maka benih-benih cinta muncul  (5) Ada orang ketiga, konflik pun terjadi (6) Jadian dan Happy Ending. Dah gitu-gitu aja 😀

Untuk tayangan olahraga, biasanya perdebatan tidak banyak terjadi. Akan menonton bersama-sama jika final liga champion. Untuk MU maka akan ada Syarif dan Arief yang akan menonton. Chelsea main pasti ada Aulia disana. Jika Arsenal bermain, biasanya sepi dan hanya ada Sinyo di ruang TV 😛 Yang tidak beruntung saya dan Agung Baskoro, kala itu Juventus baru jelek-jeleknya. Tidak ada stasiun televisi yang menyiarkan.

Apapun itu, perdebatan ruang TV akan selalu dirindukan. Dari mulai kekonyolan tak terperi, curhat-curhat, konsolidasi peta persebaran jajahan. Sloga kami perkuat pusat, perbanyak cabang.  Lalu taklupa momen makan malam bareng, makan oleh-oleh yang dibawa kawan kontrakan dari pulang kampung, termasuk pudding, cake atau kue yang penuh cinta dari para fans dan gebetan. Hehe.

Aduh mbak-mbak, andai kalian tahu siapa kami  😀

#KamiTidakBubar #JW3NovusOrdo

Kerja Keras atau Kerja Cerdas?

museum_angkut

Dalam dua minggu belakangan ini setelah berinteraksi dengan banyak orang saat lebaran, mengikuti PK 70 LPDP di Wisma Hijau Depok dan IRSA 13 di Malang, pertanyaan pilih mana kerja keras atau kerja cerdas mulai terlihat benang merahnya. Untuk saya pribadi, lebih baik kerja keras untuk tipikal orang orang Indonesia. Kerja cerdas akan mengikuti.

Dari beberapa kolega kerja yang berhasil mencapai level ,’kerja cerdas’, saya melihat mereka sudah memulainya dengan berlatih dengan waktu panjang untuk hal-hal teknis. Misal belajar statistika dan ekonometrika lalu software Latex, Stata, R, Eviews, SPSS, matlab dan lain sebagainya. Hal yang sama juga terjadi menulis di koran atau jurnal. Diawali dengan menulis di koran/jurnal ditolak belasan atau puluhan kali. Namun kemudian mereka bisa mengolah data dengan cepat, menulis artikel yang masuk koran dengan rutin atau berderet -deret list publikasi di CV. Semua ada learning curve-nya.

Foto di atas diambil di Museum Angkut, Batu Malang sepekan yang lalu. Pedagang dahulu ternyata sudah pandai memaksimalkan potensi. Termasuk potensi sepedanya untuk membawa barang secara kolosal. Kerja kerja kerja, gajian gajian gajian, dolan dolan dolan 😀

#random #siap2sekolah