Tentang Jaket Kampus

anu

Suatu waktu saya sedang belanja di sebuah toko kelontong dekat rumah. Agak unik, bapak yang menerima pembayaran saya tersenyum melihat jaket hoody yang saya kenakan. Jaket hoody kampus yang saya beli dengan diskon dari University Shop tempat saya menempuh program master. “Wah, bapak ini kenal kampus saya kali ya” batin saya. Eh dia kemudian berujar, ” Ha niku jaketipun tulisannya kok anu, mas [itu kok jaketnya kok tulisannya anu, mas]”. Anu. Kata multitafsir bin ambigu dalam bahasa jawa yang bisa dimaknai apapun. Jika ditanya orang, sekolahnya dimana. Kujawab “ANU mas”. mbalik nanya lagi ” kok ANU, ANU napa mas?” Percakapan pun jadi zingg. Nah,Nggak jadi bangga deh sama sekolah. Makane ora oleh sombong le. leh mu sekolah nengendi. Ona anu. Urip mung mampir ngombe, Hidup itu cuman mampir minum.

Lha, apa perlu saya jelaskan bahwa ‘ANU’ adalah salah satu kampus di Ibu Desa Australia. Dan membaca ‘ANU’ itu harusnya ei-en-yu. Kemudian apa juga perlu di-jlentrekkan bahwa ANU menurut QS ranking world ranking di tahun 2016 termasuk ranking 19 dunia dan menurut Time Higher Education (THE) tahun 2016 masuk 51 besar dunia? Lulusannya pernah menduduki jabatan menteri di Indonesia mulai dari Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif misalnya. Lak yho ora perlu tho yho kang?

Jangankan ANU. Lha wong ada cerita unik dari teman saya yang diterima di Harvard University. Ia sempat terdiam membisu mendengar jawaban Ibu-nya ketika dia memberikan kabar baik akan diterimanya dia. “Buk, kula ditampa Harvard [Ibu, saya diterima sekolah di Harvard]”. Ibunya pun menjawab, “Harvard iku apa tho, le? [Harvard itu apa tho, nak]”. Gimana nggak mesem. Dan ini bagian yang membuat saya bangga dengan almamater saya. Si Ibu meneruskan, “Iku karo UGM luwih apik endi? [itu dengan UGM bagusan mana?]. 😀 . Begitulah kira-kira percakapannya. Menurut teman saya, Ibu tetap bahagia, karena jika anaknya menganggap itu baik maka beliau percaya itu kampus yang baik dan bagus. Nderek sungkem nggih Bu. [note buat temenku: kalau ada redaksi yang salah monggo diedit. hehe]

Katanya hari ini ANU ulang tahun yang ke-70, mirip nih dengan angkatan persiapan keberangkatan (PK) saya juga yang ke 70. Kampus tersebut merupakan tempat dimana sentuhan pertama saya dengan dunia Internasional, bertemu banyak bangsa-bangsa di dunia. Umur 70 itu termasuk muda jika dibandingkan dengan kampus-kampus terbaik lainnya. Semoga terus bisa menelurkan agen perubahan dunia. Naturam Primum Cognoscere Rerum. First to learn the nature of things.

#OurANU70th

The Future of Islamic Finance in Australia: Ringkasan Kuliah Singkat

ANU memang menawarkan banyak hal dan fasilitas bagi mahasiswanya untuk belajar. Salah satunya adalah menyediakan ruang diskusi, sharing, update ilmu bagi civitas akademika sekaligus masyarakat umum dengan mengadakan seminar dan dialog. Semuanya itu gratis, meskipun yang jadi pembicara orang-orang terkenal 😀 Tinggal registrasi klik-klik bentar. Beres sudah. Oh iya, setahu saya, jumlah seminar maupun diskusi yang diadakan di sebuah kampus juga merupakan tolak ukur bagus tidaknya kampus. Jika di Indonesia, itu nanti menjadi penilaian dalam akreditasi kampus.

Contoh kuliah gratis yaa kuliah singkat tadi siang saya ikuti. Habis lunch, Crawford School mengadakan  kuliah  tentang masa depan Keuangan Islam di Australia.  Kuliah ini  menghadirkan  Talal Yassine OAM seorang Honorary Professorial Fellow di Crawford School of Public Policy ANU. Kalau nggak salah, beliau masih baru di Crawford dan kuliah ini adalah kuliah pertamanya.

Saya tertarik untuk mengikutinya karena keingin tahuan saya mengenai perkembangan  keuangan berbasis nilai Islam di Negara Kangguru ini. Dua tahun di sini masak nggak tahu apa-apa tentang bagaimana perekonomian Islam berkembang kan lucu (soalnya saya sarjana Ekonomi, meski kadang malu juga ada gelar S.E di belakang nama. Ngrasa nggakpantes :P). Ekspektasi saya dengan mengikuti kuliah ini nantinya bisa tahu apa benar keuangan Islami sudah berkembang ? Karena setahu saya di ranah akademik ada beberapa  beberapa program doktoral dan master Keuangan Islam di La Trobe University, Melbourne. Lalu apakah itu berbanding lurus dengan perkembangan kegiatan keuangan Islaminya?

34e649c7-1ec3-4cd4-9d62-75df269a4728wallpaper

Pendahuluan

Dalam kuliah tersebut Prof. Talal mengawalinya dengan dasar-dasar keuangan Islami secara singkat apa itu 5 pilar keuangan Islam.  Kemudian dilanjutkan dengan filter, yaitu apa saja yang  dilarang dalam keuangan Islami baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Filter kualitatif bisa berupa tidak boleh menginvestasikan uang pada bisnis produk yang dilarang oleh Islam secara umum misal yang mengandung riba/interest, minuman keras, tembakau, judi, senjata untuk perang dan pork. Selain itu ada filter kuantitas dimana ada ukuran dan syarat  keuangan tertentu yang perlu dipenuhi agar aman bagi investor untuk berinvestasi dan tidak terlalu berisiko. Singkatnya, kata beliau, keuangan Islami itu bersifat: low risk, low return.

Beranjak ke bagian kuliah selanjutnya, Prof.Talal menunjukkan beberapa data demografi pertumbuhan komunitas muslim di Australia. Secara umum, populasi muslim di Australia dari tahun 2006 meningkat hingga 40% dimana sebelumnya 340.392 jiwa menjadi 476.291 jiwa pada tahun 2012.  78 % dari jumlah tersebut kebanyakan tinggal di Sydney dan Melbourne.  Apabila menilik pada profil umur, 97% usia mereka di bawah 65 tahun dan 50% berumur antara 25-44.  Ketika melihat jumlah , dimana muslim di Australia hanya 2.1% dari 23 juta total penduduk, maka sepertinya muslim hanya seujung jari. Namun, Prof. Talal mempersuasi audiens bahwa meski kecil, potensi ke depan dan perkembangan ekonomi muslim  di Australia sangat menjanjikan. Prof. Talal melakukan proyeksi bahwa pada tahun 2020 nanti dengan sistem dana pensiun yang berlaku maka ada sekitar $22 Miliar yang nantinya berasal dari Muslim Australia. Sungguh jumlah yang tidak sedikit. Beliau menambahkan,  muslim di Australia, menurut beliau tetaplah sama seperti citizen Australia yang lain. Mereka mencari great deal dan itung-itungan,  namun, mereka berusaha tetap sharia compliance/ sesuai  dengan syariah Islam [Pas banget, khutbah shalat ied di Canberra kemaren berisi perintah menjauhi Riba!].

Selain melihat populasi muslim di Australia. Para pelaku keuangan di Australia, menurut Prof. Talal sebaiknya juga mencari potensi lain, misalnya ada banyak dana dari Timur Tengah seperti di Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat atau mungkin Malaysia (Waduh pak, Indonesia kok nggak disebut :P). Beliau menjelaskan bahwa Australia punya apa yang tidak dipunyai oleh Timur Tengah: sumber daya alam, good education and health system sehingga banyak sumber daya manusia yang baik, teknologi, serta aturan hukum yang jelas. Di sisi lain, Negara Arab mempunyai dana yang besar dan itu tidak dipunyai Australia. Sedangkan Australia sedang butuh-butuhnya dana untuk menggenjot proyek Infrastrukturnya.

Hingga saat ini, kata Prof Talal, hanya sedikit dari institusi-institusi Islam global yang  melirik Australia. Banyak investor dari timur tengah yang menginvestasikan dananya ke Australia, tapi itu bukan berarti selalu investasi Islami. Meskipun begitu, ada beberapa lembaga keuangan di Australia yang menunjukkan ketertarikannya dengan sistem keuangan Islami seperti ANZ Bank melalui AM Bank di Malaysia atau kemudian saat ini NAB Bank berencana untuk issue Islamic Bond/Sukuk untuk melakukan diversifikasi atas bond mereka.

10227432-dcab-475d-b760-c855f0f18661wallpaper

The Go North and Turn Left Strategy

Prof. Talal  menekankan, bahwa Amerika dan Inggris sudah lebih maju dalam perkembangan keuangan Islami. Saat ini ada 22 lembaga keuangan di UK yang menawarkan produk keuangan Islam,  lalu muncullah seperti jawara keuangan Islam di Inggris Bank of London and Middle East  (BLME) yang merupakan Institusi keuangan Islam terbesar di Eropa. Keuangan Islam juga tidak berarti kudu muslim, itu ditunjukkan dengan data bahwa  banyak dana yang masuk di Saturna’s Capital (punya Malaysia) 90% pemberi dananya  tidak ada hubungan keimanan dengan Islam.

Pengennya sih, Australia itu mengikuti US dan UK dengan cara bridging seperti BLME yang akhirnya berhasil. Prof. Talal menawarkan strategi pengembangan keuangan Islami di Australia dengan menuju ke Asia terlebih dahulu seperti Indonesia (akhirnya disebut :P), Malaysia, Philipina, Thailand untuk mencari peluang bisnis yang bisa dimasuki karena jumlah populasi muslimnya yang banyak. Kemudian mengarah ke Timur Tengah untuk melihat adakah potensi dana investasi yang bisa digunakan oleh Australia untuk membiayai pembangunan seperti infrastruktur dan sector riil lainnya. Dia menyebutnya dengan “The Go North and Turn Left Strategy” [Sebenarnya bagian ini yang paling menarik, cuman saya agak lost. So, jika kurang detail maap yah :D] .

Kuliah ini ruangannya rame, tapi nggak penuh sesak juga sih. Hehe.  Diskusi dan tanya jawab berlangsung cukup singkat  karena cuman satu jam. Pertanyaan berkisar pada bagaimana dengan resistensi politik di Australia terhadap value Islam yang akan masuk.  Beberapa penanya yang lain menanyakan lebih lanjut mengenai praktek keuangan Islami lebih riil-nya seperti apa, contohnya pada Superanuation,  karena memang banyak dari peserta kuliah yang masih belum memahami praktek keuangan Islami dan apa bedanya dengan yang mereka ikuti saat ini. Well, karena  ini judulnya ringkasan, saya nggak terangin disini [karena lupa nyatet juga sih, bahasa inggris soalnyah :P]

Okeh, udah malam, saatnya saya kembali ke assignment! 😀

Canberra, 13 Agustus 2013

signature-pugo

10S3E

Hari ini adalah hari ke 18 semenjak kedatangan pertamaku di  Bush Capital Australia, Canberra. Tahukah? Sambil melamun di atas pesawat kecil ATR sebelum mendarat di Canberra Airport, melihat luasnya padang ilalang, aku masih bertanya-tanya: Can I survive in this city? Apakah sebenarnya aku pantas sekolah disini? Jikapun lulus, apakah dengan hasil yang memuaskan? atau biasa-biasa aja asal lulus dan membawa gelar agar tidak malu dengan sesama teman ketika pulang? Lulusan Australi, kan kelihatan keren bukan? Lalu gimana kalo failed? Kekhawatiran demi kekhawatiran kemudian muncul, Khususnya dalam hal pendidikan. Bukan dalam hal tempat tinggal, makan dan lain sebagainya. Satu yang sangat dikhawatirkan adalah: STUDI.

Kembali ke  memori awal masa kuliah jurusan Ilmu Ekonomi di Universitas Gadjah Mada, bulan Juli 2005, 8 tahun yang lalu (Ah, ternyata aku sudah tidak muda lagi ya :D). Kesan pertama? Haaa kok  bisa keterima? bukannya waktu UM hanya bisa ngerjain 12 soal Matematika Dasar? Status sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM saat itu sungguh membuat hati ini ragu dan takut. Yang kutahu FE UGM adalah salah satu kampus Ekonomi terbaik di tanah air dan lulusannya menjadi garda terdepan dalam kontribusinya membangun Indonesia. Apa iya aku bisa bersaing dengan teman-teman dari berbagai penjuru daerah?

Selama awal-awal masa kuliah S1 aku jalani dengan ala kadarnya. Asal masuk, absen, nyatet kuliah, ngerjain PR di kampus lihat kerjaan teman dan banyak bad habits selama SMA masih terbawa. Hasilnya? Indeks Prestasi pada dua semester awal tidaklah membahagiakan. Aku masih ingat, 3.05 di semester pertama dan 3.24 di semester kedua. Dua semester awal ini membuatku realistis bahwa dengan bertahan di posisi 3.25 di jurusan Ilmu Ekonomi UGM sudah cukup. Dengan itu saja aku bisa dapat kerjaan. Bisa di BUMN, Bank atau apa sajalah. Asal bisa hidup dengan layak. Nggak usah neko-neko dan bercita-cita tinggi. “Udahlah Go, gini-gini aja cukup” batinku. Sikap setengah-setengah dan nggak niat tadi ternyata berbuah pada nilai E (0) alias gagal total pada 3 mata kuliah selama aku kuliah 10 Semester. Dan, ketiga nilai E tadi mewakili sikap-sikap buruk sebagai mahasiswa yang aku harus dihindari setiap pembelajar.

E Pertama untuk Menunda-nunda

Ekonomi Pembangunan 2 adalah ujian hari itu. Malamnya,  aku kebut semalam apa yang harus dipelajari untuk ujian. Kabar bahwa salah satu teman dengan nilai terbaik di angkatan kami yang tidak mendapatkan nilai A cukup membuatku ngeri. Dia saja tidak mendapatkan nilai sebagus itu bagaimana denganku? (Persangkaan kayak gini jangan dicontoh!) Mulailah aku dengan membaca semua materi selama 14 pertemuan terakhir dari awal sampai akhir. Sebuah usaha yang sia-sia sebenarnya. Dalam belajar, 14 kali satu tidak sama dengan 1 kali 14! Esok paginya aku berangkat pagi agar bisa belajar di sekretariat SKI (wuih sholeh bener, belajar aja di ruang SKI 😀 ). Ternyata belajar di tempat yang bernuansa Islami saja tidak cukup (hehehe, ngarep dapat ilham soal). Jadwal ujian adalah 9.15, jam di ruang SKI menunjukkan jam segitu, aku hanya ingin menunda barang 5 menit untuk review. Aku belum yakin siap untuk ujian! Arghhh! Rasa penyesalan muncul, kenapa nggak belajar nyicil dari dulu ya? (Halah, penyesalan kayak gini muncul lagi, tobat sambel :D). Ternyata penundaan 5 menit tadi berbalas air tuba! Jam dinding di SKI ternyata kemunduran 5 menit dari jam di ruang ujian! oh noooo. Peraturan terbaru fakultas menyebutkan barangsiapa yang terlambat ujian lebih dari 15 menit tidak diperkenankan masuk ujian. Tidak ada toleransi. Dan akupun yang terlambat 17 menit pun dilarang ikut ujian oleh penjaga ujian. Walhasil, mlongo keluar kelas. Baru kali aku dapat nilai E, 0 atau semacamnya. 14 semester hilang percuma. Dari kejauhan, seniorku bernama Mas Jarot Aryo Pidekso (Manajemen 2004) dengan tergesa-gesa menuju kelas. Kita sekelas untuk mata kuliah Ekonomi Pembangunan ini. Entah ini jahat atau apa tidak, ada teman dalam kesusahan memang memperingan beban 😛

E Kedua untuk Malas-malasan

Peraturan baru di kampus yang cukup ketat yaitu tentang kehadiran kuliah. Bagi mahasiswa yang sudah absen lebih dari 3 kali kuliah tatap muka (75%) itu berarti bencana. Sisi baiknya, kita dapat 3 kali jatah bolos. Yayyy!! Bagi pemalas, ini kabar gembira. hohoho. Melihat “kuota” membolos tersebut kadang bagi pemalas bisa dilakukan untuk mengerjakan hal lain selain hal akademis. Main PES, ngerjain PR mata kuliah lain (nih manajemen waktu yang parah, bukan?), atau sekedar stay at home alias tidur di rumah. Untuk mata kuliah Ekonomi Publik 2 di semester 4 itu, kuotaku sudah habis. Sudah 3 kali aku bolos kuliah, dengan berbagai macam alasan / tanpa alasan hingga minggu ke-13. Minggu ke-14 alias minggu terakhir adalah saat yang krusial, malam sebelumnya aku drop, sakit. Panas dan demam yang membuatku tidak bisa berangkat ke kelas. Akupun pucat pasi, karena jika aku tidak berangkat nilaiku akan  E, masak dalam satu semester nilai E ada dua ??? Akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan cara kurang terpuji, titip absen teman. Hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Ketika aku titip kepada teman, dia kemudian memberi kabar bahwa tidak bisa karena saat itu di absen oleh Dosen. Oh noooo (lagi). Tapi sekarang aku bersyukur, bahwa titip absen itu tidak terjadi karena pertama itu berarti cheating dan aku mengajak temanku berbuat tidak jujur juga sebuah kesalahan. Kemalasan demi kemalasan yang terkumpul ternyata membawa kita pada kesulitan yang tidak akan pernah kita bayangkan. Dalam kasus saya, nilai E kembali menghias tabel nilai Indeks prestasi saya. Indeks Prestasi semester pada saat itu adalah 2.0. Sounds good? 

E Ketiga untuk Keraguan dan Ketakutan

Ekonometrika, bagi banyak mahasiswa Ilmu Ekonomi mungkin bisa jadi momok yang serius dalam perjalanan akademiknya. Ada beberapa memang yang berhasil, namun banyakkkk yang kurang beruntung. Mata kuliah ini dibagi menjadi dua. Ekonometrika 1 dan Ekonometrika 2. Alhamdulillah, di Ekonometrika 1 aku diampu oleh dosen idola.Bagi mahasiswa ilmu ekonomi UGM, dosen satu ini memang tidak tergantikan. Mungkin karena berhasil memotivasi kami sekelas, aku yang tidak begitu menonjol dalam hal kuantitatif masih bisa survive dengan menjalani satu langkah demi langkah yang beliau berikan. Anehnya, dan memang seharusnya, beliau bisa membawa kami pada suasana bahwa apa yang sedang kita pelajari ini akan berguna bagi perjalanan akademis ataupun karir, atau bahkan dalam menjelaskan fenomena ekonomi negeri. Karena termotivasi akhirnya aku bisa finish dengan nilai B. Not bad lah (berusaha menghibur diri :P), untuk ukuranku itu sudah diluar ekspektasi.

Hal yang lain terjadi pada mata kuliah Ekonometrika 2. Materi lebih advance dengan dosen yang berbeda Aku sebagai mahasiswa, tahu betul beliau ini paling mumpuni dalam hal ekonometrika di kampus. Sudah menjadi legenda jika untuk mendapatkan nilai dari beliau, super duper sungguh sangat sekali susahnya. Isu ataupun gosip ini ternyata mempengaruhi sikapku pada mata kuliah ini. Aku takut, tidak bisa bertahan dan survive. Ekonometrika 1 sebelumnya cukup berhasil, tidak membuatku cukup pede menghadapi mata kuliah ini (walau sebenarnya aku baca-baca lagi, dasarnya udah ada dan udah kupelajari). Rasa takut dan kurang pede ini ditambahi dengan harus mempelajari software E-Views yang menurutku canggih bukan kepalang, hingga saat inipun aku tidak bisa mengoperasikannya. Ketika dosen menayangkan how it works, dengan programming cepat dan berubah-ubah layar dengan cepat, itu sungguh-sungguh membuatku freak. Dimana aku ini? barang apa ini? atau pertanyaan semacam, ini nanti buat ngapain? Akupun end up dengan menyerah. Saat itu aku juga menjadi asisten seorang dosen yang juga sangat sibuk akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk kelas, dan besok mengulang. Aku lari dari mata kuliah ini. Sebuah keputusan yang hingga saat ini kusesali. Cobaaa saja aku bisa mengatasi rasa takut, kemudian menyesuaikan usaha dan manajemen waktu. Isunya bukan dosennya siapa, tapi siapa yang bisa menjalani dengan kesabaran dan penuh keberanian. Huffttt, memang, penyesalan itu di akhir.  

Di Tengah Gurun Ada Oase

Di tengah badai akademik yang tiada terkendali (ceileh bahasanya), alhamdulillah, aku berada di antara banyak orang baik yang siap membantu dan saling memotivasi. Mereka, bagiku, layaknya oase di tengah gurun. Aku yang mendapatkan nilai sangat buruk pada semester 4 akhirnya bisa menjalani kuliah selanjutnya berkat dorongan teman-temanku selama kuliah. Teman sejati memang hadir bahkan ketika kesulitan melanda, bukan saja yang hadir menyapa saat bahagia. Pelajaran demi pelajaran yang dipetik selama kuliah di Bulaksumur bersama mereka juga berarti pelajaran kehidupan: Jangan menunda, jangan malas dan jangan takut. Pun begitu, ketika melihat satu demi satu mereka menunjukkan mekar serta wanginya, semakin semangatlah aku. Mereka saat ini banyak berprestasi di bidangnya, sebagai seorang PNS yang mengabdi pada negara, bekerja di perusahaan ternama, membuka usaha sendiri, ada pula yang sukses sekolah di luar negeri lalu conference ke berbagai belahan dunia dan tak ketinggalan sukses sebagai ibu rumah tangga. Entah kenapa, di tengah-tengah dinginnya Canberra kala musim dingin ini aku merasa lebih optimis aku tidak ingin ketinggalan dengan teman-teman yang juga makin bersinar. Di depan tumpukan materi kuliah Ekonometrika dan Makroekonomi,  aku teringat kebersamaan dengan teman-teman Ilmu Ekonomi 2005 yang selalu menginspirasi, saat-saat di kantin, selasar maupun perpustakaan. Bagaimana kabar? Semoga selalu dalam kebaikan, semoga kita tetap bisa saling menasehati dan menyemangati 🙂

Salam hangat dari kota sepi bernama Canberra

Senin, 24 Juni 2013

signature-pugo

Should I Accept the London School of Economics PhD Economics Offer?

Saya keterima di LSE? Aamiin. Hehehe. Bukannnnnnnn, judul ini memang berasal dari diskusi di sebuah forum bernama www.urch.com. Nggak tahu sih forum tadi terkenal apa nggak, cuman dapet dari google aja. Judul di atas ini saya dapat di laman ini setelah mencari-cari di google dengan kata kunci: [Ph.D in Economics LSE]. ImageBeda Kelas Beda Pertanyaan

Nha, dalam diskusi itu ane kayak membaca Kompasiana, kadang yang lucu bukan artikel utama, tapi komentar-komentarnya. Dari sana ane melihat beberapa hal-hal sebagai bahan perenungan ane sebelum sekolah besok.

Pertama-tama, misal kamu ditanyain gitu jawaban Anda gimana? yang anak Ekonomi? Awalnya, kalo saya sih pengen nyakar-nyakar si penanya!!! (hehehe, selow selow).  Gimana nggak, dapat sekolah itu susah dan dapat satu beasiswa saja sudah alhamdulillah. Buat ane yang kecerdasannya di bawah rata-rata untuk masuk perguruan tinggi ternama, masuk LSE merupakan mimpi di siang bolong. Bagai pungguk merindukan bulan. Meskipun begitu, wajar bagi beberapa orang pertanyaan kayak gitu karena memang mereka sudah berada pada taraf bisa memilih.

Aye jadi inget, dosen aye pernah bilang, waktu awal sekolah S2 memang bukan pada kondisi belum bisa memilih, tapi suatu saat nanti jika sudah berada pada “kelas”-nya kita bisa kok kayak mereka. Uniknya, katanya ada fenomena menarik mahasiswa master pas sudah sekolah di luar negeri. Awal-awal punya ambisi bisa masuk di sekolah-sekolah top pas S3 entar. Eeee, akhirnya layu sebelum berkembang. Setelah ngalamin susahnya sekolah di master, lulus S3 di sekolah biasa-biasa aja udah syukurrrr  😀

Takut atau Over Expectation?

Perenungan lain setelah mbaca-mbaca diskusi kayak gitu, lama-lama ane mikirnya jadi beda gan. Iya sih si penanya pinter (Coba lihat profile-nya dan jika memang itu bener lho dia ngomongin profilenya. hohoho) dan pantes jika diterima di lembaga pendidikan bagus seperti di LSE. Tapi dia pun ternyata juga ditolak oleh 10 institusi yang lain yang menurut dia ok (Dia kebanyak ditolak sekolah Ivy League). Nah, pinter aja nyoba apply sekolah aja banyak apalagi kayak ane gan, dan mungkin agan-agan yang IPK-nya nggak cumlaude kayak ane kudu apply lebih banyak lagi (kite senasib). hehehe.

Selain itu, orang-orang dalam obrolan itu kok kayaknya mereka nggak takut ngomongin hal-hal yang gede. Misal dia si penanya udah daftar tuh ke rombongan top schools in economics. Lah, kenapa ane nggak nyoba kayak die? Bener apa nggak, katanya lulusan UGM itu nampa uga nrimo atawa gampang bersyukur. Belum tahu ada penelitian yang membuktikan sih, cuman dari beberapa pengamatan kayaknya seperti itu. hehe. Dan saya lulusan UGM 😀 Atau bisa jadi bukan karena nrimo  tapi karena takut nggak diterima? Haaaaa kalo ini sepertinya harus ane evaluasi, toh ane anak Ilmu Ekonomi UGM juga telah melewati persaingan ketat dengan ribuan calon mahasiswa buat lulus UM kemudian lulus skripsi hingga wisuda. Perenungan tahun kemaren sih yang ane dapat itu jangan terlalu jahat ama diri sendiri, PEDE dikit lah napa jadi orang. Hohoho.

Disamping minder, penyakit yang lain adalah tersering over expectation ama kampus atau institusi yang hendak kita masuki. Ane dulu mikirnya nggak bakalan lulus dari UGM, karena takut akan ekonometri, matematika dan statistika. Sampai aye pernah dapat E buat mata kuliah Ekonometrika II gan, sungguh ter-laa-luu. Eh eh lulus juga ternyata, meski pada akhirnya kemelut IPK-nya gan. Catatan lain, ane pernah nemuin dan kenal beberapa orang yang pernah kuliah di LSE, Cambridge, Harvard, Wharton, Boston, Cornell dll, dan kesemuanya masih makan nasi gan! So, kita yang masih sama-sama makan nasi, masih bisa kok  jadi mahasiswa di YuKe atau YuEs sono. [Jangan-jangan sama-sama nasi tapi beda lauk gan :P]

Catatan redaksi: Jangan kalah sama Maudy Ayunda gan! Si eneng ini barusan diterima di dua universitas ternama untuk jurusan EKONOMI yaitu di Oxford University dan Columbia University dan konon akhirnya milih Oxford. Semangat Gan, jangan kalah! Stay Hungry Stay Foolish!

Note refleksi nggak jelas di tengah malam saat melawan masuk angin yang mendera …

Kwitang, 18 Februari 2013

signature-pugo

Mistargeting Fuel Subsidy: Who Benefits More?

Source: World Bank, 2012

The first graph shows the percentage of subsidized gasoline consumption among various users in Indonesia in 2008. The unit of measurement is percentages on the chart, while it is deciles segmentation of household consumption for the detailed information.  Furthermore, most of the benefits of subsidized fuel in Indonesia went to commercial users, its percentage is as high as 54%. The remaining 46% is for households’ use. Subsidized fuel that is utilized by households can be breakdown into 10 levels of household income. This estimation indicates that sum of deciles 8, 9 and 10 households might consume more than 60% of the total usage. In contrary the bottom consumers, which are deciles 1, 2 and 3, accounted approximately less than 15% of the total use.

The second graph illustrates the share of monthly benefit, which is earned by 20 household levels in the same year. Moreover, there was progressive movement of proportion of households who report consuming gasoline due to per capita consumption level. Another point to note is that around two-thirds income group households rarely use any gasoline. Comparing the whole groups of per capita consumption, the wealthiest group gained most benefit of the fuel subsidy in 2008 by almost 285,000 IDR/month and the poorest group (ventile 1, 2 and 3) get only 50,000 IDR/month.

The two graphs reveal that mostly the wealthy people get the benefit of subsidized fuel. Thus, it raises a concern that in 2008 fuel subsidies do not necessarily assist the lower segments of the Indonesia population.

Bantuan Langsung Tunai (Unconditional Cash Handouts) as a Compensation for Fuel Subsidy Reduction Policy

The Government of Indonesia has a plan to implement Bantuan Langsung Tunai called BLT (Unconditional Cash Handouts) in order to compensate the reduction of fuel subsidies. The plan is to distribute Rp150,000 to each poor household since the reduction is implemented until nine months after that (The Jakarta Post, March 2012). It is debatable whether this policy is effective and efficient. Some people believe that BLT is an effective way to help the poor in coping with the increase of fuel price. However, it is arguable that BLT might bring more drawbacks than benefits. Based on different perspectives and experiences, it is plausible that government should not implement this ineffective and costly policy.

From the previous implementation in 2008, BLT has several weakness points. One of them is that the possibility of wrongly targeted recipients is quite high. Banerjee et al. (2009) mentions that it is difficult to decide who is eligible for this kind of aid programs in Indonesia, including BLT. The Government lacks reliable data about people incomes. Therefore, before employing BLT program, the data should be credible.

BLT disbursement might lead to social clashes between residences who are aided and who are not. According to Cameron (2011), the miss-targeted of a cash handouts program in Indonesia has a possibility to affect crime’s growth and social capital reduction within communities. There are some examples of riots because of its disbursement. In Ujung Pandang at the late of 2008, where crowd of people who are BLT recipients come at a time then makes a chaos in the city’s main post office. Some people are injured in this disbursement accident (The Jakarta Post, September 2008).

Cash handouts may create a bad habit for society, such as beggar mentality and consumptive behavior. Instead of giving facilities in a long-term effect policy, BLT only gives short-term effect. This condition led people being used to be given instead of getting proper jobs. Because of that reason, some governors in Indonesia rejected to give BLT to their people. Solo and Bantul regency have mentioned about their rejection (The Jakarta Post, March 2012). The usage of BLT also not-well monitored. People who get the aid cannot be controlled to use the money for useful allocation, because there is no obligation to control their consumption.  Some households are more likely to use the money for unintended allocation, such as buy a new cell phone or to buy cigarettes.

Patunru (2012) and The World Bank (2012) state that in economic shock; BLT is helpful because it provides just-in-time cash assistance to households. This liquidity is an advantage of BLT. The BLT disbursement also covers a wide range of people. However, it is wasting resources when the government spends trillions rupiahs for a miss-targeted program. In addition, even though BLT reaches all of regions, it cannot be long last programmed. It means BLT is an expensive policy and has very temporary impact.

In conclusion, the Government of Indonesia should review this policy because its ineffectiveness, social-clashes issues and the possibility to bring a bad habit for society. Therefore, budget should be allocated for education, health, and infrastructure in order to get a wider impact on poverty alleviation. The poverty alleviation program should not be instant solution, but also consider its sustainability and its wider impact on social life.[]

References:

Banerjee, Abhijit et al.  2009. How to Target the Poor: Evidence from a Field Experiment in Indonesia. Web. 2 August 2012. <http://www.cepr.org/meets/wkcn/7/778/papers/ banerjee-hanna-olken.pdf>.
Cameron , Lisa and Shah, Manisha. 2011. Mistargeting of Cash Transfers, Social Capital Destruction, and Crime in Indonesia. Web. 2 August 2012.  <http://users.monash.edu.au /~clisa/papers/BLT_JPubE.pdf>.
Patunru, Arianto A. 2012. Subsidi BBM dan Kompensasi BLT. 24 March 2012. Web. 2 August 2012. <http://regional.kompas.com/read/2012/03/24/04361836 Subsidi.BBM.dan.Kompensasi.BLT>.
The Jakarta Post. 2008. Makassar BLT Rush as Poor Overrun Post Offices. 16 September 2008. Web. 2 August 2012. <http://www.thejakartapost.com/news/2008/09/16/makassar-blt-rush-poor-overrun-post-offices.html&gt;.
The Jakarta Post. 2012. Regions Say no to Direct Cash Assistance for Poor Families. 24 March 2012. Web. 2 August 2012. <http://www.thejakartapost.com/news/2012/03/24/ regions-say-no-direct-cash-assistance-poor-families.html>.
The World Bank.2012. BLT Temporary Unconditional Cash Transfer: Social Assistance Program and Public Expenditure Review 2. Web. 2 August 2012.  <http://documents.worldbank.org/curated/en/2012/02/ 15893823/bantuan-langsung-tunai-blt-temporary-unconditional-cash-transfer>.

Akhirnya ke Singapura!

Tersebutlah Cahyo Setiadi Ramadhan salah satu teman terbaikku selama berseragam abu-abu. Dialah yang kuajak untuk menjalankan ide jalan-jalan ke Singapura di akhir tahun 2009. “Santai saja Bah, nanti aku beliin tiketnya,” kataku santai. Padahal, saat itu aku baru saja resign dari pekerjaan sebagai asisten dosen. Ada duit?  Nggak juga, tapi pede aja lagi.

Nah, cerita menjadi menarik ketika ngobrol bersama seorang senior bernama Dapur tentang rencanaku. By the way, sekilas info, kami memanggilnya mas Dapur karena nama lengkapnya adalah Danang Purwanto. Jika disingkat, jadi Dapur. Atas nama efisiensi mungkin. Oh ya, jangan sekali-kali menambah kata “mu” di belakang namanya karena, orang Jogja akan menganggapmu berkata tidak sopan.

Terkait dengan rencana jalan-jalan ini, dia berkata padaku, bahwa lebih baik aku merencanakan hal lain yang lebih prioritas dan penting. Dia emang lebih bijak. Sudah nikah kali ya. Tapi aku tetep ngeyel pengen jalan-jalan, masih berusaha nyari-nyari duit. Hingga nantinya di akhir Desember 2009 aku akhirnya mengakui apa kata mas Dapur. I did not have enough money. Batal deh. Dan aku pun akhirnya nggak jadi beliin Cahyo tiket.

Tiga tahun berlalu. Umur bertambah. Akupun sudah menikah. Halah. [www.pamer.org :D]. Ternyata, Allah menakdirkanku menikah dengan seorang akhwat cantik yang saat ini harus bekerja di Singapura. What a coincidence! Di sela-sela les bahasa Inggris di Jakarta, saat weekend adalah hari yang ditunggu-tunggu. Tilik istri. Ke Singapura lagi. Akhirnya! Salah satu angan kesampaian. Tiket yang kami pesan 3 bulan sebelumnya sudah di tangan, syarat punya passport pun sudah bukan merupakan hambatan. Berangkatlah saya pada pukul 19.40 tanggal 16 September yang lalu ke Singapura. Judulnya sih tilik istri tapi memang side effect-nya nyenengin juga. Jalan-Jalannnn.

Pukul 9 malam waktu Singapura pesawat Air Asia yang saya tumpangi mendarat. Sudah menunggu istri tersayang, di Bandara. Sebelum berangkat, she told me that, Changi Airport adalah satu-satunya bandara yang semua lantainya pakek karpet. Agak kurang percaya sih. Tapi pas ngeliat sendiri, memang beneran. Ini negara sisa-sisa bener duitnya. Akhirnya kami ketemu di bagian kedatangan, cukup mudah memang karena petunjuk arah bandara tidak membingungkan. Bandara, memang tempat bertemu dan berpisah untuk sementara kami. Yaaa, kayak di drama-drama Korea itulah 😀

Sumber: Dokumen Pribadi

Bagi sebagian orang-orang, jalan-jalan ke Singapura itu biasa aja. Tapi menurutku istimewa karena dua hal. Pertama, karena kekasih hati ada di sana. Yang kedua karena memang banyak hal yang bisa dilihat. Mungkin kali ini alasan kedua saja yang akan jadi cerita. Yang pertama rahasia. 😀

Setidaknya ada dua tempat menarik yang aku kunjungi kemaren: Marina Bay dan Masjid Sultan. Dua-duanya memiliki daya pikat sendiri. Di Marina Bay, kita bisa melihat landmark Singapura yaitu Merlion. Karena sudah sering kita lihat gambarnya di internet dan bisa nyari di google maka nggak perlu diceritain. Meskipun begitu, ada satu hal yang menarik yang kami temukan ketika jalan-jalan disana. Khususnya di malam hari. Apalagi kalau bukan Marina Bay Sands dengan permainan tata lampunya. Saat itu malam minggu (Yes! Akhirnya bisa malam mingguan bareng istri :D), nggak tahu ada acara apa, lampu-lampu yang ada di Marina Bay Sands menyala-nyala dengan harmoni di seberang sana. Kami berdua terpana. Istri yang sudah tinggal selama 5 tahun di Singapura ternyata juga baru pertama kali melihatnya. Dengan kamera dan tripot yang sudah kami bawa, momen indah itu bisa kami abadikan. Sangat reccommended buat couple deh. 😉

Masjid Sultan Singapura dan Saya 😀
Sumber: Dokumen Pribadi

Di hari minggunya, saat sekalian menuju bandara karena memang jadwal pesawat agak mendekati Maghrib, maka kami mencoba ke Masjid Sultan. Masjid Sultan adalah salah satu masjid besar yang ada di Singapura. Terletak di kampung Glam. Jika masih ada budget, maka ada baiknya temen-temen mencoba Murtabak yang dijual di pinggir jalan dekat masjid, katanya sih terkenal. Aku dan istri sih cuman beli Roti Prata pakai telor, makanan khas India yang disantap dengan kari. Karena waktu yang terbatas, maka aku cepat-cepat saja di sana.

Masuk ke dalam masjid dan melihat-lihat beberapa bagian interior masjid yang indah dan tertata rapi. Misal temen-temen pernah melihat gambar-gambar masjid di Aceh dan beberapa provinsi di Sumatera,  Masjid Sultan sepertinya agak mirip-mirip. Yang menarik lainnya,  disana ada semacam media sosialisasi mengenai Islam dan Muslim. Beberapa diantaranya menceritakan value yang dijunjung oleh Islam, seperti tidak menyukai kekerasan, toleran dan sangat mengerti pentingnya keluarga dan pernikahan.  Semua media tadi diatur dengan baik. Cantik.

Yaaaa… Jam menunjukkan jam 18.00 Waktu Singapura. Aku harus ke Bandara! Anyway, akhirnya ke Singapura! 😀

IALF Kuningan, Saat Test IELTS tinggal esok hari menulis jadi satu solusi ketika stress menghantui 😀 , 18 Oktober 2012

P.S: Cahyo, I owe a ticket to Singapore for you. Insya Allah, one day, I will make it 🙂

“Galau” Day di ADS Info Day :D

Okay, maaf jika saya rada lebay. Dapet beasiswa ADS itu seperti seorang perempuan/akhwat dilamar oleh tiga-empat laki-laki/ikhwan pada saat yang bersamaan. Rasanya kayak tahu kapan mau nikahnya, tapi belum menentukan sama siapa. Hehehe. Sok tahu bener yah saya, kayak pernah dilamar saja. Dan saya bukan perempuan a.k.a. akhwat! Kalau nggak salah sih, rasanya bingung-bingung gimana gitu. Mau milih yang satu, nanti nggak dapat kebaikan yang lain. Tapi, pada intinya semuanya baik. Buat yang sholeh, maka mereka kemudian menentukan pilihan bersandar pada Allah, istikharahlah mereka. Sinetron banget yak, tapi bagi yang pernah dilamar pasti tahu rasanya. Hehehe.

Analog dengan perumpamaan dilamar orang, para penerima ADS yang saat ini “galau” sedang “dilamar” oleh banyak universitas yang bagus-bagus di negaranya Julia Gillard. Di dalam kelas pun para calon student ini berdiskusi mau sekolah di mana. Pun begitu mereka kudu struggling buat dapat nilai IELTS yang disyaratkan. Puncaknya kemarin  acara ADS Info Day pada tanggal 14 Juli 2012 di Hotel Mandarin [yang dekat Bundaran HI itu lho], ADS Awardee mendapatkan kesempatan untuk bertanya-tanya atau mendapat informasi mengenai tempat dimana mereka mau sekolah. Makin bingunglah kita karena pilihannya memang banyak. Utusan para universitas dengan sangat welcome dan ramah memberikan informasi tentang kampus mereka. ADS Info Day memang  sekalian promosi kelebihan kampus-kampus, mereka pan juga nyari students. Info yang ditawarkan mereka bisa dari segi fasilitas pendidikan atau juga iklan mengenai kenyamanan kota tempat kampus mereka. Setahu saya, Universitas-Universitas di Australia memiliki sistem pendidikan yang bagus. Begitupula dengan lingkungan Australia yang digambarkan sangat asri dan bersih dan beda ama jakarta deh pokoknya. Yaiyalah. Udah kebayang deh indahnya Melbourne, Sidney yang cozy, Canberra yang sejuk dan ceria serta Perth yang menawan. ADS Info Day memang bener-bener tempat yang pas buat explore pilihan sekolah, apalagi bagi para calon student dikasih makan siang gratis pula.

Counter-nya (1) UNSW dan (2) ANU serta Crawford School. Ramenya student pada nyari Informasi 🙂 [Sumber: Dokumen Pribadi]

Kembali tentang sekolah, untuk bidang ilmu ekonomi yang merupakan bidang minat saya, ada banyak kampus yang menyediakan program yang oke punya. Saat ini sih ada empat kampus yang menjadi incaran saya. Ada The Australian National University (ANU), University of Melbourne (UNIMELB), University of New South Wales (UNSW) dan yang terakhir Monash University, untuk pilihan saya yang mana masih saya rahasiakan. hehehe. Tapi kemaren sudah mengunjungi keempat kampus dan ngambil merchandise-nya terutama tas. Saya kemaren dapat 4 tas, dan temen-temen bilangin saya kayak mau jualan tas. ehehe.

Setelah makan siang yang maknyus di Hotel [perbaikan gizi masmbak!] kami diberikan sesi sharing AUSAID scholarship Alumni. Waktu itu sebagai pengisi acara pertama yaitu Pak Gatot Soepriyatno, Kajur Akuntansi Universitas BINUS [ihi! dia lulusan UGM angkatan 97/98:D juga Monash University] dan pembicara kedua ada Ibu Mukti yang dulunya orang CSIS dan sekarang  jadi Senior Economist di SEADI USAID [Phd in Economics, Australian National University]. Kedua pembicara memberikan materi yang menarik seputar apa yang bakal dihadapi nanti di Australia sono, tentang kehidupan akademik dan pernak-pernik kehidupan sehari-hari untuk mahasiswa master dan Doktoral. Alhamdulillah, beberapa pertanyaan saya yang belum terjawab disampaikan pada materi tersebut, apalagi Bu Mukti di bidang Economics, jadi rada nyambung-nyambung.

Finally, saya mau bilang, dapat beasiswa ADS itu worth it. Banyak fasilitas yang bisa kita dapat. Happy choice-lah pokoknya. Jika worth it, maka itu layak diusahakan bukan?  Ayo guys, jadikan dirimu layak “dilamar”! 😀

-IALF-PlazaKuningan, 24 Juli 2012-

Alumni Sharing Session dan teman-teman sekelas saya yang bahagia nan sejahtera 🙂 [Sumber: Dokumen Pribadi]

Hasil berburu Goody bag 😛 [Sumber: Dokumen Pribadi]

Should Gubernatorial Candidates from Outside Jakarta be Allowed to Run for Election in Jakarta?

The recent political system in Indonesia regulates the government in each region should be elected by people themselves in gubernatorial election. Jakarta also will organize this political affair in July this year. In the meantime, the problem regarding the originality of leader becomes a critical debate. Some people argue that the gubernatorial must be from native Jakarta as a requirement. On the other hand, others argue that everybody who is the best candidate must lead Jakarta regardless his originality. This essay advocates belief that gubernatorial election citizens from outside Jakarta, such as Hidayat-Didik, Jokowi-Ahok and Alex-Nono, should be eligible to participate in Jakarta’s gubernatorial election.

The main argument to support is that Indonesia is a democratic country. Every Indonesian citizen has the right to elect and to be elected. In the other words, there is no law state that prevent citizen from outside Jakarta become elected.  Ministry of Home Affair in his official statement declares that citizens from outside Jakarta are allowed to be elected, and this policy covers all of region in Indonesia.

Another reason is that as a centre of Indonesia’s activities, Jakarta has important position in Indonesia wellbeing, whether in economy or in government. If there is something wrong happens in this city it will be an adverse effect in the national affair. As we know in newspaper and the other medias, Jakarta faces never ending problems that should be solved immediately. the tremendous trouble like daily traffic congestion and annually flood and it must be solved by best candidate as long as he or she are Indonesian people. We shall admit that “imported-candidates” show they excellent performance and track record.

Finally, Jakarta citizen now become multi-ethnic society. It has been a meeting point of cultural diversity of Indonesia. Jakarta represents all Indonesian people. In fact, we cannot define Jakartan only who was born in Jakarta.  There are some “kampung” consist of mainly some ethnic who came from outside Jakarta. For examples: Javanese, Bataks, Minangs, Arabs, and Chinese as permanent residences and they already mixed with the native.

In summary, choosing the candidate who is not native Jakarta become visible and might be the alternative way to get the best leader to handle executive body in Jakarta. I believe that we should give them opportunity to realize their plan for better city management and solve the Jakarta’s severe problems. []

Shalat Kak …

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS Al-Baqarah [2]: 153)

==================================================

Kemudian, untuk mereka yang ingin keluarganya sakinah, seorang istri hendaknya mendorong suaminya bangun shalat Subuh berjama’ah di masjid. Ini sama pahalanya. Langkah suami ke masjid menjadi langkah seorang istri. Pulang dari masjid menjadi langkah istri juga. Oleh karena itu, doronglah suami ke masjid agar para istri juga mendapatkan pahala. Saya mengingatkan hal ini karena shalat merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Sebelum jauh-jauh memperbaiki diri, sebelum jauh-jauh mencari solusi untuk segala masalah yang kita hadapi, nomor satu yang harus kita perbaiki adalah shalat. Suatu ketika saya dipusingkan oleh tagihan yang banyak, rezeki juga seret. Ketika shalat Ashar, istri saya mengajak berdialog.

“Kak, masih ingat nggak?”

“Ingat apa?” saya berpikir.

“Ada sesuatu yang kurang dari Kakak,” ujarnya.

“Apaan?” saya bingung.

“Shalat, Kak. Mushala dekat rumah, tapi kakak nggak ke mushala. Ayo ke mushala biar rezeki nambah.”

Astaghfirullah, iya. Selama ini saya jarang shalat di mushala padahal tempatnya dekat. Saat itu saya niatkan nanti shalat Maghrib di mushala. Barangkali, dialog juga merupakan salah satu terapi sakinah. Pukul enam kurang, saya bergegas pergi ke mushala. Setelah shalat, tetangga saya berkata begini, “Tumben, Sup, lagi di rumah, nih?” Saya bilang “Iya nih, lagi ada di rumah.”  Padahal, saya sering ada di rumah. Memang, menjadi ustadz bukan jaminan, yang jadi jaminan adalah orang yang bertaqwa. Kita pun ngobrol sebentar. Ketika saya pamit mau pulang, dia masuk dulu ke rumahnya dan memberi sekantung buah-buahan. Subhanallah … . Sederhana ya, tapi ini membuat kita jadi belajar.

==================================================

Sebuah petikan paragraf dari buku Ust. Yusuf Mansur berjudul “Allah Maha Pemurah, Maka Engkau Gampang Menikah” [Salamadani, 2008]

Dialog yang entah kenapa membuat hati campur aduk selayak gado-gado dekat Sarinah, duh … .

Kebun Sirih, menghitung hari (jadi teringat lagu Krisdayanti) di tengah 4 hari terakhir bulan Oktober, 26.