Dimana Tempat Shalat Jum’at di ANU?

Posting kali ini didasari dari pengalaman saya mencari Jama’ah Shalat Jum’at untuk pertama kalinya di kampus Australian National University (ANU). Saat itu saya coba nyari-nyari di google dengan kata kunci “shalat jumat di ANU”.  Akhirnya,  nemu beberapa link seperti punya: Pak  Uded Rajo Bagindo dan Pak  Nico Andrianto. 

Meskipun begitu ada beberapa hal yang mungkin bisa saya tambahi biar lengkap dari dua tulisan tersebut. Saya pun berinisiatif, kali aja ada calon MABA (Mahasiswa Baru) ANU  yang juga nyari jamaah shalat Jum’at.  Jujur saja, ketika saya tersesat saat pertama kali shalat Jum’at setelah menginjakkan kaki di Canberra (Australia). Dannn telat tinggal shalat doang nggak kebagian ceramah itupun lari-lari karena kudet alias kurang update. Jadi, semoga ada yang membaca blog ini besok-besok nggak telat dan bingung mau Jum’atan dimana. Aamiin 🙂

Saya menulis ini juga karena kangen yang membuncah untuk bisa memahami kutbah Jum’at. Di Belanda, para pelajar susah mendapatkan shalat jumat dengan bahasa Indonesia (yaiyalah) atau Inggris. Biasanya kalau tidak bahasa Arab, Turki dan Belanda. Dan kondisi ini sudah ane jalan satu tahun bang! 😀 Perasaan kami-kami ini ketika jum’atan susah diungkapkan.  Gimana nggak kangen tuh denger “Jamaah Masjid Kampus UGM yang dirahmati oleh Allah…” atau “Dear brother ….”. Untuk Jum’atan di Belanda Kapan-kapan ane tulis di post yang lain ya gaes 🙂

OK, jadi kemana kalau mau shalat Jum’at di ANU?

#1 Sporsthall ANU (link gmaps)

sporthall

Mahasiswa Muslim di ANU cukup beruntung difasilitasi tempat untuk jumat di dalam lingkungan kampus. Waktu itu periode 2013-2015, kalau nggak salah ada sekitar 400an muslim di kampus ANU . Untuk mengakomodasi kebutuhan ruhani mereka itulah kemudian kampus mengijinkan menggunakan ANU sportshall untuk Friday Prayer. Mereka yang mau sewa lapangan buat basket atau futsal bisa setelahnya. Kadang belum selesai shalat-nya, sudah ada mahasiswa yang nyewa sudah siap-siap basket.  Sportshall ini yang menjadi tempat reguler, misal ada acara atau exam di ruangan tersebut maka tempat shalat jumat kita akan pindah di DOJO  atau ke Mushola ANUMA.

pengumuman

Contoh pengumuman pindah tempat Jum’atan. Source: Muslim Students’ Association ANU

Waktu penyelenggaraannya kisarannya di Jam 13.00. So, jika teman-teman mau njadwal kuliah ada baiknya diatur ambil kuliahnya nggak nabrak jam tersebut. Jikapun nabrak minimal masih bisa nelat tapi nggak jauh-jauh amat 😛 Alhamdulillah selama kuliah belum nemu jadwal kuliah ama ujian nabrak dengan Shalat Jum’at.  Terkait dengan waktu ada broadcast sms untuk tempat penyelenggaraan shalat jumat atau ada pengumuman di FB-nya ANUMA bisa di-cek disini. Sayangnya, kayaknya jarang update. Tapi langganan SMS broadcast itu yang sepertinya penting, saya dah pernah coba tapi gagal, akhirnya mengandalkan nanya temen-temen yang kiranya lebih sholeh. hehe.

Jika waktu tidak menjadi masalah, yang menjadi problem buat ane saat itu adalah gedung kuliah ane di Crawford dengan sportshall lumayannnn jauhhh jika jalan, gan. Butuh sekitar 10-15 menit.  Makanya sangat disarankan punya sepeda, masbro. Kalau agak pinter cari parkiran  gratisan atau nggak masalah bayar parkir bisa bawa mobil, boss. Hanya 2 dolar AUD per jam biasanya jika shalat jumat habis 2 jam.  Itu masih murah lah, jika dibandingkan rate per hour jadi cleaner 😀

Tidak hanya student dan cleaner (wkwk) yang jadi jama’ah, ada juga para pekerja di sekitaran kampus. Nah mereka ini yang kadang ada batas waktu lunch time karenanya tiap habis shalat langsung cao. Suatu saat, ada kejadian menarik di salah satu khutbah. Suatu ketika seorang khatib mungkin lupa akan waktu, sehingga agak sedikit molor. Tiba-tiba ada seorang jama’ah berdiri dan protes bahwa khutbah terlalu panjang dan mohon segera diakhiri. Bapak khotib PD aja nerusin cuman emang jadi lebih singkat. Jamaah pada mesam-mesem. Mewakili suara hati mereka kali ya. haha. Baru kali ini tahu bisa ada ginian,gan!

Sayang sekali foto-foto di sportshall belum ketemu. Misal ada akan saya update deh nanti. Oh iya, tips jika mau datang kesini ada baiknya juga wudhu dulu di tempat lain karena tempat wudhu waktu dekat-dekat adzan bakal rame dan kecil. Plus datang lebih awal buat nggelar-gelar tikar/karpet. Ngamal om. Tapi saya jarang juga sih. hehe.

#2 DOJO ANU (link gmaps)

Opsi lain misal sportshall nggak bisa dipakai adalah di DOJO tempat karate/taekwondo/Judo/Aikido. Tempatnya masih di lingkungan ANU Sports jadi gak jauh-jauh amat jika terlanjur kecele’ ke hall. Petanya saya lampirkan di bawah ya. Fotonya di download dari FB-nya Muslim Student’s Association ANU.

dojo-hall

Foto Tampak Atas; Source: Muslim Students’ Association ANU

DOJO ini tempatnya lebih adem dan  beralaskan matras buat para penggiat martial arts. Namun dari segi ukuran lebih kecil dari gym, jadi ada baiknya datang awal masbro. Kenapa? Karena nggak ada sound system. Jadi kalau kebiasaan duduk bersama Barzagli, Bonucci dan Cheilini serta Buffon di barisan belakang, kita nggak bakal denger tuh khotib bilang apa. Dengarnya pas doa penutup doang.  Apalagi pas dipasangin kipas angin yang juga keluar bunyi white noise. Ngantuk deh 😀   Untuk itulah, masbro,  jadilah seperti Mandzukic, Dybala atau Higuain: di barisan depan. Wkwk.

dojo

Jika mau masuk ke DOJO tinggal ke pintu depan ini naik ke lantai dua belok kanan. Dekat lapangan squash 😀

#3 Mushola ANUMA (ANU Muslim Association)  (link gmaps)

anuma

Musholla ANUMA tampak depan

Opsi ketiga alias terakhir adalah di Mushola ANUMA di deket Menzies Library. Mushola ini dikelola oleh ANU Muslim Student Association Tempatnya lumayan nyaman karena sudah berkarpet dan wangi. Nah masalahnya Mushola ANUMA ini nggak muat untuk menampung 150-200an jamaah. Maka terkadang luber ke jalan. Namun, jangan khawatir,  shalat Jum’at di Mushola ANUMA itu jarang banget sih sebenarnya.

anuma-zoom-out

ANU Musholla tampak dari atas. Source: Muslim Students’ Association ANU

Selama 2 tahun kuliah di ANU, baru dua kali Jum’atan disana. Dan itu pas pertama kali Jum’atan di ANU. Jadi, saat itu saya jalan dari Crawford–> sportshall –> dojo –> Mushola ANUMA. Bagi yang pernah tahu besarnya kampus ANU.  Jalan dengan rute tersebut cukup membakar kalori di perut anda gan! Saya nemunya pun tidak sengaja, hanya mengikuti ada mas-mas Pakistan berjubah dan berjenggot panjang jalan cepet. Entah kemana saya ikutan dia dari belakang. Coba kalau jalan cepetnya cuman mau ke toilet? hehe. Alhamdulillah, masnya sama tujuannya mau Shalat Jum’at.

Ok, saya akui, belum move on dari Canberra 🙂

Rotterdam, 28 Desember 2017

signature-pugo

 

Guyonan Kagama

kagama-belanda

Saya termasuk beruntung bisa berkumpul dengan keluarga Kagama di kota/negara yang berbeda. Pertama di Kagama Canberra yang konon yang paling aktif dibandingkan state lain di negeri Kangguru. Lalu Kagama Belanda menurut kabar burung, juga paling rutin dan ‘hits’ di Benua Eropa.

 

Tapi yang tidak berbeda dari keduanya adalah suasananya. Entah kenapa tiap berkumpul dan berinteraksi dengan lulusan santri padepokan Bulaksumur memberikan rasa nyaman. Tidak merasa ada kompetisi antar sesama yang sangat kental dan saling bantu. Gayeng, guyub, toto titi tentrem kerta raharja #lebay. Jika bercerita tentang apa yang sedang dikerjakan, hingga saat ini saya belum pernah merasakan bahwa mereka mencoba show-off. Meski, apa yang sedang mereka kerjakan itu penting, besar lagi berguna.

 

Yang khas lagi jika ketemuan adalah guyonan dan sentilan-sentilan yang alus. Bahkan, untuk kontestasi Pilkada Jakarta kali ini Kagama punya anekdotnya sendiri. “Siapapun yang menang dalam Pilkada Jakarta, yang menang pasti anak Kagama. Jika Anies Baswedan, jelas, dia lulusan FE UGM angkatan ’89. Nha, bilamana Bapak Basuki, beliau juga anak Kagama.” Lho, kok bisa? “Wa lha iya, Bapak Basuki kan lulusan kampus (jalan) Gadjah Mada (belok kiri).” Maaf yaa jika jayuz. Minimal saya berusaha 😀
#kagama #kulakan #jayuz

 

signature-pugo

Sore di Gardener Cottage

with_mas_ahmad
Habis kuliah dan habis capek-capeknya belajar di Crawford (red:pencitraan) biasanya saya mampir ke Gardener Cottage (GC). GC ini merupakan rumah kecil yg memiliki musholla di Crawford School ANU. Tempat jujukan nongkrong anak Indonesia untuk shalat, ngangetin makanan, ngobrol dan belajar.

Ada seorang abang mahasiswa PiEijDi bidang lingkungan satu ini selalu muncul untuk mampir shalat ashar di GC dan sesekali diskusi dengan kami para junior nya. Nama beliau mas Ahmad. Orangnya sabar sekali jika diajak diskusi. (baca:di-bully) 😀

Suatu sore saya cerita beliau tentang keinginan kuliah lagi ke S3, namun IPK sepertinya enggan mendukung cita. Dengan wajah kalemnya dia bilang “Tenang mas, bisa-bisa kalau PhD mah”. Saya menggumam, wah mas Ahmad ini nggak paham GPA saya semester kemaren kayaknya. Jika tahu pasti terharu dan prihatin 😀

Meski nggak yakin-yakin amat, cerita pengalaman dari mas saya satu ini cukup menyemangati. Hebatnya beliau bukan cuman bicara, tapi mau membantu dengan rela meluangkan waktu proof read paper Master Research Essay (MRE) saya yg di ujung deadline. MRE ini yang nantinya jadi salah satu asbab saya dapat LoA di kampus saya sekarang.

Dua tahun sudah. Akhirnya saya berjodoh bertemu beliau di Belanda. Abang ini memang bilang, “tenang mas nanti bisa masuk”, namun pesan sambungannya belum disampaikan dan baru terangkum dari obrolan di siang yg hangat di Delft dan Rotterdam. “Tapi kalo masuk S3, risiko tanggung sendiri ya 🙂

#ANUconnection
#kangencanberra

 

signature-pugo

 

Podho-Podho Mangan Sego

Semua orang tua punya cara masing-masing untuk menyemangati anak-anaknya yang minder. Keminderan ini mulai terjadi ketika saya memasuki masa SMP. Saat SD, saya berada di lingkungan yang secara sosial ekonomi relatif sama di pinggiran utara Kabupaten Bantul. Nggak pede itu jarang dirasakan. Teman-teman sekolah sama-sama bersepeda atau jalan berangkat-pulang sekolah. Jajanpun yang murah-murah. Bahkan, grontol (jagung rebus tetelan diberi parutan kelapa) adalah makanan favorit karena habisnya lama. Haha. Namun semua  berbeda ketika saya menginjak SMP, minder dengan latar belakang ekonomi orang tua tiba-tiba muncul. Tidak sedikit itu mempengaruhi performa belajar. Heh, dasar ABG. Labil. 😀

Saat itu, saya berkesempatan sekolah di SMP kota, SMP 5 Yogyakarta. Konon, kabar burungnya, SMP saya ini adalah kumpulan anak-anak orang  kaya. Mobil jemputan banyak menunggu tiap di depan sekolah ketika bel pulang berbunyi. Banyak diantara teman-teman membawa motor. Lebih kaya lagi saat itu sudah ada beberapa yang membawa mobil sendiri. Jaman itu seperti itu sungguh dahsyat masbro. Inget lho, saya SMP pada masa dimana Sheila on 7 masih jaya-jayanya, motor Honda Astrea Grand 98-an pun sudah sangat gaulll, Helm-nya masih tipe ciduk dengan tempelan sticker sana-sini. Lalu saat itupun Dian Sastro masih unyu-unyu di film AADC 1 dan makan di Pizza HUT pun masih sangat happening. Kembali ke laptop, bisa jadi jika dihitung gini ratio populasi siswa sekolah itu akan menyamai DKI saat ini 😀 #Kampanye

Ada nasihat dari Ibuk yang penting untuk semua anak-anaknya yang mengalami problem serupa. Kebetulan kami tiga bersaudara bersekolah di kota Yogyakarta semua. Kakak pertama saya di SMP 5, kakak kedua saya di SMP 8 dan Saya sama dengan kakak pertama di SMP 5. “Oalah le/nduk, kabeh kiy uwong yho padha-padha mangan sego. InsyaAllah, awakmu isa ngimbangi kanca-kancamu. Asal leh mu sinau sregep, ora lali shalat, ngaji, karo ndonga.”  [Walah nak, semua orang itu kan sama-sama makan nasi. InsyaAllah kamu bisa mengimbangi teman-temanmu. Asalkan kamu belajar yang rajin, tidak lupa shalat, mengaji dan berdoa]. Kurang lebih seperti itu nasehat beliau.  Memang sih, temen-temen saya sama-sama makan nasi. Tapi kan beda lauknya, Buk 😛 Mereka kan nasi dengan steak #kidding. Masih ingat, saat SD, ada masa dimana kami makan nasi lauk garam. Hal yang mungkin sekarang jarang terjadi di anak-anak masa kini.

Ternyata betul, dengan banyak up and down-nya hingga SMP-SMA-Kuliah S1 kami bertiga  berhasil menjalaninya. Memang kami bukan yang terbaik tapi Alhamdulillah masih bisa bersaing. Kami masih bisa lulus dengan nilai lumayan. Kakak pertama saya lulus dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Kakak kedua saya lulus dari Akademi TNI Angkatan Udara (AAU) dan saya sendiri lolos dari pendadaran di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Lalu bagaimana jika teman-teman kita tidak makan nasi? Contohnya saat saya kuliah di Australia mulai tahun 2013. Saya kok merasa orang-orang bule itu pinter semua. Mereka semua makan Roti! Burger! Salad! Tak kurang akal, nasehat Ibuk: “Wong kiy pada wae saktenane le, nek neng mburi sikile kiy yho kethekuk” [ Orang itu sebenarnya sama saja Nak, kalo BAB ke belakang/WC itu ya kakinya terlipat/tertekuk – Jannn, susah bener ini nyari bahasa Indo-nya. Haha.]  Dan benar, setelah saya observasi dari semua toilet yang saya bersihkan selama saya di Canberra sebagai pejuang Dollar Ostrali, tidak ada toilet yang didesain bagi orang untuk bisa BAB tanpa kakinya terlipat/tertekuk. Kalaupun ada, kemana-mana ‘itu-nya’ nanti [tidak usah dibayangkan ya!].

All in all, Saya kangen Jogja 🙂

wisuda-mbak-retty

Alhamdulillah, mbak Retty lulus S2 UGM. Ditemani Ibuk. Hal yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya. You made it, mbak! See? You can do it. 🙂 #proudbrothers

Untung Ada Calo di Camp Nou

Apakah teman-teman pernah bersinggungan dengan calo? Kalo pengalaman saya selama di Indonesia, interaksi dengan mereka selalu pahit. Baik itu calo tiket kereta api di Stasiun Senen atau calo tiket nonton sepakbola di Senayan. Saya menganggap mereka itu orang suka cari untung dan hobinya naikin harga tiket seenaknya, bahkan hingga dua kali lipat! Tapi, karena kita memang butuh mereka di saat yang genting, yaaaa akhirnya ngalah dengan harga mereka dan calo-lah yang menang. Kitapun rugi karena membayar lebih dari harga resmi. Tapi ada kalanya, berhadapan dengan calo itu menguntungkan.

Ini kisah saya … (dibaca dengan nada seperti inem 🙂 )

Awal mulanya ketika saya berada di Barcelona bersama istri. Waktu itu alhamdulillah ada rejeki bisa nemenin Istri selama kurang lebih tiga minggu pada medio Mei 2012. Kebetulan, istri saya nge-kost di daerah yang hanya 5 menit jalan kaki dari Stadion Camp Nou. Stadion kebanggan publik Catalan. Seperti biasanya sebelum pertandingan dimulai, daerah tempat nge-kost-nya istri kami ramai dengan pendukung Barca hingga parkir kendaraan penuh. Kata istri saya, bus yang lewat di Camp Nou pun sengaja dialihkan untuk tidak lewat stadion.

Hari itu kesebelasan kebanggaan publik catalan, Barcelona FC, akan menjalani laga perempatan final home mereka melawan AC. Milan (yang beritanya ada di-sini). Pada laga sebelumnya, Blaugrana ditahan imbang 0-0 di stadion San Siro, Milan, di Itali. Banyak yang pengen nonton karena dianggap akan terjadi pertarungan sengit. Teman-teman istri sudah berangkat semua ke cafe-cafe untuk menononton laga yang mempertemukan Raksasa Spanyol dan Juara Serie-A ini. Mereka biasanya lebih sering nonton di Cafe karena mungkin lebih murah dan masih dapat atmosfer nonton barengnya.

Konon, harga tiket liga Champion super duper mahal. Ini Liga Champions, bro! Kumpulan para juara Eropa! Siapa yang nggak mau nonton? Saya dan istri lalu mencoba mencari di internet kali aja ada tiket murah dan kita bisa nyempil nonton meski dari tribun yang sangat jauh, jadi ngeliat para pemain kayak titik-titik bulet-bulet gerak 😛 Mungkin bisa dilihat contohnya ketika istri saya ngikut perayaan di tribun paling jauh ketika ada tiket gratisan masuk Camp Nou (gambar di bawah).

barcelona-celebration

Perayaan setelah memenangkan pertandingan melawan MU di tahun 2011

Mau berangkat atau tidak? Itu pertanyaan yang krusial. Karena melihat keadaan dompet, bisa ditebak, kami akhirnya memutuskan untuk cuman jalan-jalan ngeliat Camp Nou saja 😛  Minimal ngerasain atmosfer di luar stadion lah, udah jauh-jauh nggak ada pengalaman kan sayang. Saya ambil jaket, karena waktu itu agak dingin,  dan kami berdua jalan kaki menuju stadion. Saat kami datang di sana,  suasana luar stadion agak sepi karena penonton sudah pada masuk. Biar nggak cengok, kami “thawaf” keliling Camp Nou. Jelas, ini bukan dalam rangka ibadah 😀

Akannnn tetapiiii, suasana di dalam stadion sungguh menggoda ketika upacara sebelum pertandingan dimulai. Official Anthem Liga Champion yang sangat khas itu diperdengarkan dan kedengaran hingga luar stadion memanaskan telinga dan dada saya. (lagunya bisa didengar disini).

“Die Meister (German); Die Besten (German); Les Grandes Équipes (French),  The Champions”. Kalo English Version-nya artinya: The Masters;The best;The biggest teams;The Champions.

Lagu dan liriknya sangat Mistis! Apalagi bagian Chorusnya, Fenomenal! Ditambah riuh suara penonton di dalam stadion, membuat dada ini menggelegak. Waaaaaa, saya nggak kuatttt. Akhirnya merayulah ke istri buat beliin tiket berdua wkwkwk.  Kapan lagi. Seumur-umur. Yaiyalah, saat itu kantong saya nggak ada Euro Rupiah juga deng 😛

Namun ternyata dapat tiket liga champion secara go show nggak gampang. Awalnya, kami cek di loket tiket, ada dua tiket yang paling murah sekitaran 85 Euro untuk satu orang. Eeeee ternyata dua tiket itu berjauhan. Yang satu sayap kiri satu sayap kanan. Masak dadah-dadah. Akhirnya saya nglokro dan njuk nggak gitu semangat. Kata istri, temennya rekomendasiin beli di calo. Waa ini, saya kapok berhadapan dengan calo. Dia lalu menambahkan, dan ini menarik, bisa lebih murah jika pertandingan dimulai! Masalahnya, kami malah dijauhi sama calo, kami mendekat mereka malah mlengos, bukan wajah penonton bola kali yak. Kami saltum juga sih sebenarnya, cuman pakek jaket dan nggak ada atribut Barcelona sama sekali. hoho.

Rejeki memang tak kemana, setelah mencoba jalan ke arah jalan masuk, ada seorang calo, kayaknya sih keturuan Maroko atau Aljazair. Dia bilang “Two Tickets! Two Tickets!” mencoba menawarkan ke kami dengan aksen arab/afrika. Terus dia bilang ” This ticket worth 114 Euro each. But, I’ll sell to you two of them 160 Euro”. Istri nolak, akhirnya nawar, 130 Euro. Awalnya si Bapak, keberatan, terus kami pakek jurus mlengos seakan mau pergi, eee dia mau 😛  Jadi dapatnya satu orang  65 Euro untuk tiket seharga 114 Euro. Malah dia sekalian nganterin ke gate tempat cek tiket. Hoho.

Fenomena murahnya tiket ini dalam teori ekonomi (jika tidak salah) dinamakan Time Utility, Nilai Guna Waktu. -Azik, kepakek juga ilmu kuliah 😛 – Suatu benda akan mempunyai nilai lebih setelah mengalami perubahan waktu atau pada waktu-waktu tertentu. Dalam kasus tiket ini karena “barang”nya berupa nonton bola selama 90 menit, maka kalo udah selesai pertandingan tadi, nilai tiket yang VIP yang harganya 500 Euro sekalipun jadi tiada artinya.

Contoh lainnya, misal kamu juragan toilet di terminal, pas ada penumpangturun yang  sangat kebelet hingga sudah mencapai ujung.  Bisa kok kamu naikin tarif jadi 10 ribu untuk masuk WC. Dia susah untuk menolak karena memang pada saat dimana sangat dibutuhkan. Dan contoh terakhir ini adalah contoh yang kejam 😛

Tiket Liga Champion yang kayak fotokopian

Saat berlari-lari masuk ke stadion kami sempat nggak percaya karena tiketnya kayak cuma fotokopian, tapi pas di-scan lolos-lolos aja. Lega deh. Pas masuk stadion, stadion pada riuh, ternyata AC Milan ngegolin. Karena belum nemu tempat duduk kami duduk di tangga (dasar orang desa), diingetin sama bapak-bapak steward, lalu ditunjukkin ke kursi kami. Ternyata pengaturan kursi disini tertib, jadi kalo beli tiket dijamin dapat tempat duduk. Alhamdulillah, kita dapat tiket nonton liga champion di tribun yang agak dekat, jadi masih bisa lihat Messi atawa Ibrahimovich.

Messi ketika siap-siap mengambil pinalti

Messi ketika siap-siap mengambil pinalti

Pengalaman ini mungkin bisa diaplikasikan jika memang nggak ngebet-ngebet amat mau nonton karena ada probabilitas nggak nemu calo juga,. wkwkwk. Dan, dengan catatan dimulai pada menit ke 30, atau ada yang mau nyoba menit ke 80 baru beli? 😀
Matur Nuwun Pak Calo!

Note:

  • Suasana stadion dan bagaimana pertandingan berlangsung mungkin sudah terlalu mainstream, jadi saya nggak tulis di sini. Hehehe.
  • Penyebutan angka harga tiket bukan karena belagu, ngeliatin punya duit, inginnya sebagai gambaran rill aja misal mau nonton. Semoga berkenan. FYI, habis beli tiket, kami langsung ngirit 😛
  • Saya Juventini! 😀

signature-pugo

The Future of Islamic Finance in Australia: Ringkasan Kuliah Singkat

ANU memang menawarkan banyak hal dan fasilitas bagi mahasiswanya untuk belajar. Salah satunya adalah menyediakan ruang diskusi, sharing, update ilmu bagi civitas akademika sekaligus masyarakat umum dengan mengadakan seminar dan dialog. Semuanya itu gratis, meskipun yang jadi pembicara orang-orang terkenal 😀 Tinggal registrasi klik-klik bentar. Beres sudah. Oh iya, setahu saya, jumlah seminar maupun diskusi yang diadakan di sebuah kampus juga merupakan tolak ukur bagus tidaknya kampus. Jika di Indonesia, itu nanti menjadi penilaian dalam akreditasi kampus.

Contoh kuliah gratis yaa kuliah singkat tadi siang saya ikuti. Habis lunch, Crawford School mengadakan  kuliah  tentang masa depan Keuangan Islam di Australia.  Kuliah ini  menghadirkan  Talal Yassine OAM seorang Honorary Professorial Fellow di Crawford School of Public Policy ANU. Kalau nggak salah, beliau masih baru di Crawford dan kuliah ini adalah kuliah pertamanya.

Saya tertarik untuk mengikutinya karena keingin tahuan saya mengenai perkembangan  keuangan berbasis nilai Islam di Negara Kangguru ini. Dua tahun di sini masak nggak tahu apa-apa tentang bagaimana perekonomian Islam berkembang kan lucu (soalnya saya sarjana Ekonomi, meski kadang malu juga ada gelar S.E di belakang nama. Ngrasa nggakpantes :P). Ekspektasi saya dengan mengikuti kuliah ini nantinya bisa tahu apa benar keuangan Islami sudah berkembang ? Karena setahu saya di ranah akademik ada beberapa  beberapa program doktoral dan master Keuangan Islam di La Trobe University, Melbourne. Lalu apakah itu berbanding lurus dengan perkembangan kegiatan keuangan Islaminya?

34e649c7-1ec3-4cd4-9d62-75df269a4728wallpaper

Pendahuluan

Dalam kuliah tersebut Prof. Talal mengawalinya dengan dasar-dasar keuangan Islami secara singkat apa itu 5 pilar keuangan Islam.  Kemudian dilanjutkan dengan filter, yaitu apa saja yang  dilarang dalam keuangan Islami baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Filter kualitatif bisa berupa tidak boleh menginvestasikan uang pada bisnis produk yang dilarang oleh Islam secara umum misal yang mengandung riba/interest, minuman keras, tembakau, judi, senjata untuk perang dan pork. Selain itu ada filter kuantitas dimana ada ukuran dan syarat  keuangan tertentu yang perlu dipenuhi agar aman bagi investor untuk berinvestasi dan tidak terlalu berisiko. Singkatnya, kata beliau, keuangan Islami itu bersifat: low risk, low return.

Beranjak ke bagian kuliah selanjutnya, Prof.Talal menunjukkan beberapa data demografi pertumbuhan komunitas muslim di Australia. Secara umum, populasi muslim di Australia dari tahun 2006 meningkat hingga 40% dimana sebelumnya 340.392 jiwa menjadi 476.291 jiwa pada tahun 2012.  78 % dari jumlah tersebut kebanyakan tinggal di Sydney dan Melbourne.  Apabila menilik pada profil umur, 97% usia mereka di bawah 65 tahun dan 50% berumur antara 25-44.  Ketika melihat jumlah , dimana muslim di Australia hanya 2.1% dari 23 juta total penduduk, maka sepertinya muslim hanya seujung jari. Namun, Prof. Talal mempersuasi audiens bahwa meski kecil, potensi ke depan dan perkembangan ekonomi muslim  di Australia sangat menjanjikan. Prof. Talal melakukan proyeksi bahwa pada tahun 2020 nanti dengan sistem dana pensiun yang berlaku maka ada sekitar $22 Miliar yang nantinya berasal dari Muslim Australia. Sungguh jumlah yang tidak sedikit. Beliau menambahkan,  muslim di Australia, menurut beliau tetaplah sama seperti citizen Australia yang lain. Mereka mencari great deal dan itung-itungan,  namun, mereka berusaha tetap sharia compliance/ sesuai  dengan syariah Islam [Pas banget, khutbah shalat ied di Canberra kemaren berisi perintah menjauhi Riba!].

Selain melihat populasi muslim di Australia. Para pelaku keuangan di Australia, menurut Prof. Talal sebaiknya juga mencari potensi lain, misalnya ada banyak dana dari Timur Tengah seperti di Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat atau mungkin Malaysia (Waduh pak, Indonesia kok nggak disebut :P). Beliau menjelaskan bahwa Australia punya apa yang tidak dipunyai oleh Timur Tengah: sumber daya alam, good education and health system sehingga banyak sumber daya manusia yang baik, teknologi, serta aturan hukum yang jelas. Di sisi lain, Negara Arab mempunyai dana yang besar dan itu tidak dipunyai Australia. Sedangkan Australia sedang butuh-butuhnya dana untuk menggenjot proyek Infrastrukturnya.

Hingga saat ini, kata Prof Talal, hanya sedikit dari institusi-institusi Islam global yang  melirik Australia. Banyak investor dari timur tengah yang menginvestasikan dananya ke Australia, tapi itu bukan berarti selalu investasi Islami. Meskipun begitu, ada beberapa lembaga keuangan di Australia yang menunjukkan ketertarikannya dengan sistem keuangan Islami seperti ANZ Bank melalui AM Bank di Malaysia atau kemudian saat ini NAB Bank berencana untuk issue Islamic Bond/Sukuk untuk melakukan diversifikasi atas bond mereka.

10227432-dcab-475d-b760-c855f0f18661wallpaper

The Go North and Turn Left Strategy

Prof. Talal  menekankan, bahwa Amerika dan Inggris sudah lebih maju dalam perkembangan keuangan Islami. Saat ini ada 22 lembaga keuangan di UK yang menawarkan produk keuangan Islam,  lalu muncullah seperti jawara keuangan Islam di Inggris Bank of London and Middle East  (BLME) yang merupakan Institusi keuangan Islam terbesar di Eropa. Keuangan Islam juga tidak berarti kudu muslim, itu ditunjukkan dengan data bahwa  banyak dana yang masuk di Saturna’s Capital (punya Malaysia) 90% pemberi dananya  tidak ada hubungan keimanan dengan Islam.

Pengennya sih, Australia itu mengikuti US dan UK dengan cara bridging seperti BLME yang akhirnya berhasil. Prof. Talal menawarkan strategi pengembangan keuangan Islami di Australia dengan menuju ke Asia terlebih dahulu seperti Indonesia (akhirnya disebut :P), Malaysia, Philipina, Thailand untuk mencari peluang bisnis yang bisa dimasuki karena jumlah populasi muslimnya yang banyak. Kemudian mengarah ke Timur Tengah untuk melihat adakah potensi dana investasi yang bisa digunakan oleh Australia untuk membiayai pembangunan seperti infrastruktur dan sector riil lainnya. Dia menyebutnya dengan “The Go North and Turn Left Strategy” [Sebenarnya bagian ini yang paling menarik, cuman saya agak lost. So, jika kurang detail maap yah :D] .

Kuliah ini ruangannya rame, tapi nggak penuh sesak juga sih. Hehe.  Diskusi dan tanya jawab berlangsung cukup singkat  karena cuman satu jam. Pertanyaan berkisar pada bagaimana dengan resistensi politik di Australia terhadap value Islam yang akan masuk.  Beberapa penanya yang lain menanyakan lebih lanjut mengenai praktek keuangan Islami lebih riil-nya seperti apa, contohnya pada Superanuation,  karena memang banyak dari peserta kuliah yang masih belum memahami praktek keuangan Islami dan apa bedanya dengan yang mereka ikuti saat ini. Well, karena  ini judulnya ringkasan, saya nggak terangin disini [karena lupa nyatet juga sih, bahasa inggris soalnyah :P]

Okeh, udah malam, saatnya saya kembali ke assignment! 😀

Canberra, 13 Agustus 2013

signature-pugo

Cara Dapat Diskon Tiket Garuda-Indonesia dengan Kartu PPIA

gambar-garuda-indonesia

Alhamdulillahhhh, 16 Juli yang lalu saya akhirnya bisa pulang ke Jogja selama seminggu. Melihat putri tercinta, Fiza, untuk pertama kalinya, setelah kemarin waktu lahiran nggak ditemenin Bapaknya (Maafkan daku anakku 😦 ). Rencananya sih mau nemenin, cuman karena program matrikulasi di kampus jadwalnya sangat padat dan penuh dengan tugas ujian maka rencana pulang nemenin lahiran dibatalkan. Jempol buat istriku yang pede buat lahiran sendiri tanpa ditemenin suaminya. Tapi misalkan ada suaminya, bisa jadi malah panik. hehehe.

Pas ketika jadwal matrikulasi udah selesai, maka  tibalah saatnya untuk mencari tiket yang paling murah dan available. Saya memutuskan memakai Garuda karena ini maskapai kebanggaan bangsa Indonesia, dan emang dari pengalaman lebih enak daripada maskapai yang dipunyai OZ 😛 Disinilah saya ingin berbagi bagaimana mendapatkan diskon tiket tersebut, karena ketika saya mencoba mencari di mbah-Google terkait hal ini belum bisa saya dapatkan informasi yang cukup jelas (Disclaimer: Bisa aja karena saya kurang teliti :)). Meski nggak lengkap-lengkap amat, Semoga tulisan ini berguna dan bisa jadi referensi awal.

Pertama-tama, saya mendapatkan informasi dari beberapa teman yang mau pulang ke Indonesia bahwa ada promo atau diskon dari Garuda untuk mahasiswa indonesia di Australia yang tergabung di Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia (PPIA). Diskonnya lumayan besar: 20%. Bagi saya yang tabungannya belum banyak, diskon 20% itu udah cukup gede. Misalnya dengan harga tiket $1000 terus kita dapat diskon 20% saja, hasilnya kita hanya perlu membayar $800. Jumlah diskon $200 itu jelas sesuatu. Walaupun kudu ngerjain paper works tetep layak untuk dijabanin alias diperjuangkan! 😛

Syaratnya nggak ribet dan dapat dilihat di link PPIA ANU ini:

[1] Scan Kartu Mahasiswa/ Student ID kampus dimana kita belajar. Kalau ini yang sudah mahasiswa pasti sudah punya jadi nggak perlu dibahas. hehe

[2] Scan Kartu anggota PPIA. Nah, untuk mendapatkannya maka kita mesti mendaftarkan diri menjadi anggota PPIA. Untuk kasus mahasiswa ANU, maka saya kudu mendaftar di PPIA-ANU. Untungnya saya sudah punya kontak dengan ketua PPIA ANU saat ini yang bernama Vina, anak undergraduate di College of Business and Economics. Setelah kontak-kontakan dengan dia, saya akhirnya bisa mendapatkan kartu anggota PPIA ANU. Vina sangat ramah dan sangat membantu  sehingga prosesnya menjadi mudah. Oh iya, untuk mendapatkan kartu itu kita perlu membayar $5, nggak banyak-banyak amat bukan?

[3] Scan Paspport

[4] Itenerary atau jadwal penerbangan yang diinginkan, ini dicantumkan ketika melakukan reservasi via email.

Ketika persayaratan awal tadi sudah lengkap, maka kita perlu untuk menelpon kantor Garuda di Sydney untuk meng-arrange jadwalnya karena bukan reservasi biasa yang dilakukan melalui internet atau agen. Pada fase ini saya mengalami kebingungan dikarenakan kendala bahasa, apalagi waktu telponan ama Customer Service sering saya nggak nyambung. hehe. Misalkan, terkait rute, dari info yang ada di website PPIA ANU tertulis bahwa rute yang mendapatkan diskon adalah Sydney-Jakarta. Padahal, pada jadwal yang saya inginkan tidak ada untuk rute tersebut, sedangkan jika saya terbang Sydney-Denpasar ada.  Lalu apakah saya tidak mendapatkan diskon? Banyak pertanyaan yang terlintas, cuman lidah ini kelu sehingga kurang maksimal menyampaikan. Dari percakapan itu akhirnya saya diminta untuk mengirim email itenerary, scan Kartu anggota PPIA, scan student ID dan scan passport ke email: <reservations@garuda-indonesia.net.au>. Saya cuman yes-yes-yes saja 😀

Setelah menunggu sehari, saya mendapatkan booking reference tiket yang saya inginkan. Hanya saja kok harganya masih sama dengan harga biasa? Batin saya. Kayaknya memang mbak-nya kemaren ndak nangkep maksud saya 😀 Saya kurang beruntung waktu itu karena CS yang saya telpon tidak bisa berbahasa Indonesia, dan cilakanya saya nggak mahir bahasa Inggris, jadi mungkin ada message saya yang nggak ketangkep ama mbak yang nerima telpon dan begitupula sebaliknya. hehe. Nah, jadi teringat istri saya nganggur di rumah (pesennya pas belum lahiran ini, kalo pas lahiran nggaklah :P), maka saya berdayakan dia untuk ngurus tiket, beginilah enaknya kalo punya istri lebih jago bahasa Inggrisnya. Eh ternyata, kok istri saya dapat CS yang bisa bahasa indo, kemudian istri saya menanyakan detail terkait rute dan harga diskon. Berdasarkan diskusi dengan CS tadi, kami baru tahu kalo rute Sydney-Denpasar juga mendapatkan diskon, tapi rute domestiknya (Denpasar-Jogja) tidak. Tambahan lainnya, harga yang didiskon itu yang belum termasuk pajak, tapi nggakpapalah daripada nggak sama sekali. Kami pun kemudian memesan tiket dengan rute Sydney-Denpasar-Jogja PP. dengan harapan transitnya gampang dan nggak perlu repot ngurus bagasi.

Selanjutnya, kami pun mengirim semua persayaratan ulang dan mendapatkan file pdf tentang “Credit Card Authorisation Visacard/Mastercard”. Nanti kita menuliskannya secara detail dan petunjuknya ada di dalam formulir. Nah gimana jika kita nggak punya kartu kredit? Tenang, katrok-nya saya, saya kira nggak punya dan mau pinjem credit card istri. Saya baru tahu dengan debit card yang kita punya yang ada lambang visa atau master card itu bisa digunakan untuk pembayaran tiket dan transaksi lainnya (kebetulan saya pakai Commonwealth Bank dan diterima). Asalkan, pada complete account kita saldonya mencukupi 🙂 Langkah selanjutnya adalah mengisi formulir selengkap-lengkapnya, scan dan kirim deh ke email kantor pelayanan tiket Garuda Indonesia di Sydney : <syd.ticketoffice@garuda-indonesia.net.au>. Tak lama, saya mendapatkan file pdf tiket elektronik di Inbox email saya.  Yippie! akhirnya bisa nengok Fiza 🙂

NB: Setelah diskusi dengan senior, kalo mau yang lebih murah bisa menggunakan maskapai FlyScoot, tapi tetep kudu transit ke Singapore. Nanti dari Changi bisa milih ke tujuan kita di Indonesia, kan banyak tuh.  Bagi yang tidak tergesa-gesa sepertinya saran itu bisa jadi opsi. Anyway, saya puas dengan pelayanan Garuda dan itu bikin saya makin bangga dengan Indonesia. Terimakasih Garuda! 🙂

Canberra, 27 Juli 2013

signature-pugo

 

 

 

Update per tanggal 17 Desember 2013:

  • Karena ada yang menanyakan apakah  tiket bisa digunakan selain student, setahu saya tidak diperbolehkan 🙂
  • Ada kabar baik! Sekarang anggota keluarga bisa mendapatkan fasilitas ini, kemarin istri diminta attach surat nikah. Jadi bagasi kita bisa sampai 80 Kg!  Untuk anak mungkin perlu nanya lebih lanjut ke CS-nya 😀
  • Ada beberapa rekan lain yang menyarankan menggunakan travel Netfare sebagai alternatif selain menggunakan Garuda dengan harga yang cukup kompetitif. Jadi mending cek web Netfare dulu sebagai pembanding 🙂