Selamat Datang ke Dunia, Fiza

Selamat datang, Cinta 🙂 Mohon maaf jika Bapak baru sempat menuliskan kekata ini setelah nunggu 3 bulan pasca kelahiranmu. Maafkan pula Bapakmu ini yang nggak nemenin Ibuk-mu ketika kau lahir. Bapak dan Ibuk akhirnya memutuskan Bapak nggak pulang dulu ke Jogja. “Nanti habis ujian saja”, kata ibuk. Yasudah, karena Bapak yakin Ibuk-mu siap dan malah takut kedatangan Bapak bikin Ibuk nggak tenang (karena kudu ngurusin Bapak :P). Banggalah, karena engkau dilahirkan oleh seorang ibu yang pemberani dan sabar (Meskipun nanti agak galak-galak dikit nggakpapa ya, Fiza :P).  Karenanya, Bapak jadi nggak was-was ketika akhirnya memutuskan tidak melihatmu ketika pertama kali melengkingkan tangismu di Ahad, 7 Juli 2013.

Terkait namamu, jika kau ditanya oleh Bapak atau Ibu gurumu, atau temanmu inilah jawabannya. Nama lengkapmu adalah: “Fatihatun Hafiza Sambodo”, kenapa namanya seperti itu? Fatihatun itu berarti kamu adalah anak pertama dan pembuka, pembuka kebahagiaan orang tua, juga pembuka/awalan sebelum adek-adekmu nanti. Kamu pengen punya banyak adek juga kan? hehe. Hafiza itu artinya penjaga, artinya harapan bapak kamu nanti ketika menjalani hidup dapat menjaga diri, ketahuilah bahwa nanti godaan syaithan dan dunia sungguh dahsyatnya. Maka, tetaplah pada jalan yang sudah ditunjukkan oleh-Nya. Harapan yang lain supaya nanti engkau bisa menjaga Al-Quran dalam diri. Yuk, kita belajar bareng-bareng nanti 🙂  Yang terakhir adalah Sambodo, kok mirip punya bapak? Hehe iya, sebenarnya ingin ada unsur “jawa” dalam namamu, kebetulan Sambodo adalah kata yang dipilih oleh Kakekmu/Eyang Kakung, Ngadimun Salamun, yang artinya amanah dan bertanggung jawab atau selaras antara apa yang diucapkan dengan laku. Kakekmu itu orang yang hebat, oleh karena itu aku sematkan nama pemberian Kakek dalam namamu.

Bapak pengen nulis yang banyak, tetapi Bapak bukan pujangga, Bapak hanya seorang mahasiswa esdua yang kehabisan kata-kata 🙂 Bukan apa-apa, karena kebahagiaan akan datangnya dirimu ke dunia ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sayang. Hanya doa akan kebaikan selalu untukmu yang akan Bapak ucapkan setiap selesai shalat:

25-74

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan:74)

Fatihatun Hafiza Sambodo (Fiza) saat umur 3

Fatihatun Hafiza Sambodo (Fiza) umur 3 bulan

Canberra, 14 Oktober 2013
signature-pugo

Mencari Sempurna: Curhat Penulis Amatir

Berinteraksi dengan banyak orang hebat ternyata bisa jadi masalah juga. Maksudku, jika tidak disikapi dengan cara pandang yang baik. Masalah ini baru aku alami berawal, dengan diterimanya aku untuk mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship.  Semenjak bertemu dengan orang-orang sip bin tokcer, aku jadi bertendensi untuk menjadi orang yang selalu ingin kelihatan perfect dalam hal menulis. Dulu pada saat awal-awal masuk enam bulan pelatihan bahasa di Kuningan, aku bertekad, ingin menulis dalam bahasa Inggris minimal satu tulisan per dua hari kemudian di-post di blog. Tekad tinggallah tekad, hingga hari ini (tinggal 9 hari lagi selesai masa pendidikan), hanya dua biji tulisan yang aku posting. Arrrghhh, sungguh tidak konsisten! Karena ingin selalu bikin esai yang masterpiece, overwhelming writing atau sebangsanya, justru membuatku kurang produktif dan kurang bisa mengalirkan gagasan dalam tulisan.

Padahal, sebenarnya banyak ide yang ada di otak. Mulai dengan menuliskan kisah perjalanan, peristiwa menarik selama ramadhan, catatan harian selama di Jakarta hingga isu-isu terkini tentang ekonomi Indonesia, tapi semua itu hanya tinggal ide. Nihil realisasi. Aku malah takut menulis salah. Hasilnya, ragu menuangkan ide, entar jika kayak gini kayaknya kurang yahud, kalo aku nulis ini nanti dicibir orang. Walaupun aku tahu, sebenarnya itu semua tidak masalah. In fact, they don’t care about it.

Kita sebenarnya dalam belajar hanya diminta mencoba, berlatih, tahu akan kesalahan akhirnya paham lalu memperbaiki. Aku jadi ingat, masa-masa kecil, bahwa kita tak pernah takut belajar. Naik sepeda jatuh, bangun lagi, jatuh bangun lagi. Lecet? Nangis? Nggak. Justru kadang ada di antara kita malah tertawa. Itulah hebatnya anak kecil. Pokoknya bandel, maju terus! Yap! Aku rindu semangat itu!

Mencari sempurna memang diperlukan. Kita memang diajarkan untuk berbuat ihsan, dan memang menuju ke arah sana. Meski begitu, aku merasa tidak adil pada diri sendiri jika berharap sampai tujuan dengan satu lompatan. Ia akan  jauh lebih berat daripada menapakkan melangkah dengan berkelanjutan, satu langkah, dua langkah dan seterusnya. Little by little. Don’t expect too much. Dont worry, we are gonna reach the top. Yang harus kita sadar betul-betul adalah bahwa kita memang tidak sempurna, karena sempurna adalah milik Andra and the Backbone. 😀

-Sebuah sudut ruang di Kantor MES, Setiabudi | 9 Oktober 2012 | Tes tinggal 10 Hari lagi-

To-do List

Alhamdulillah, masbro! Jika tidak salah, ini adalah tulisanku di Facebook notes yang ke-100. Hehehe. Sebuah pencapaian besar menurutku, karena memang pada dasarnya aku pendiam, terutama ketika tidur. Dan, mungkin ini adalah tulisan pertama di notes dengan status baru! Yak, aku sudah double! Tapi dengan status pengangguran terselubung. Sudah 3 bulan ini aku jobless tapi studyfullllll. Aku tiap hari harus ngerjain soal bahasa Inggris yang namanya IELTS. 🙂

Eniwei, tahu nggak masbro mbaksist? Aye baru seneng bin bahagia nih. Hari rabu kemaren, 4 Juli 2012, istriku sudah bergelar Master dan sudah pulang di hari jumat kemaren di tanggal 13 Juli. Thesisnya bisa dipertahankan dengan baik dan alhamdulillah dapat nilai yang baik juga. Gimana nggak seneng, itu artinya belahan jiwaku *tsahhh* akan bersama-sama di Indonesia. Senangnya lagi bisa puasa bareng dan menghadapi ramadhan bareng. Resolusi ramadhan 1432 yang lalu bisa tertunai sudah. Hihihi.

Okay, kembali ke inti yang mau aku sampein di sini yaitu tentang pencapaian. Seperti yang sudah aku sampaikan di awal bahwa aye sudah nulis 100 notes, aku udah double, istri udah Master, dan bisa Ramadhan bareng. Menurut aye itu pencapaian, meskipun masih dalam tataran capaian pribadi dan keluarga [PR-ku sebagai manusia masih buanyakkk]. Dan lagi, apa yang aku dapat sekarang itu nggak ada apa-apanya, sekali lagi nggak ada apa-apanya. Masih under achievement. Kemaren aku disentil ama seorang temen aktivis yang bisa nulis buku. Aku kan beli bukunya, terus dikasih deh ucapan dan tanda tangan. Pesannya begini: “Karya untuk keluarga sudah, kapan karya untuk bangsa?” Nah nah, ginian nih yang belum bisa jawab. Tapi optimis lah ya bisa suatu saat nanti, seperti kata Aa’ Gym ada 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang!

Itu tadi kan teori masbro? Lalu, aksinya gimana? Gini, setelah aku pelajari dikit-dikit dari pengalaman temen-temen yang sukses, kelirunya kita tu sering kerja tanpa target dan rencana. Nggak tahu mau ke mana, mau ngapain dan kapan kudu nyelesein tugas. Tips sederhana dari temen-temen yang pinter-pinter [intinya aku ngambil pola hidup mereka yang baik] salah satunya adalah bikin to-do list.

Eh, ternyata saya pernah bikin satu! Pas ngontrak di asrama selama 2 tahun. Kalau sekarang udah jarang karena di tengah kewajiban yang makin banyak dengan waktu yang terbatas. Tapi kok makin lama makin butuh juga nih, konsep “plan what you want to do and do your plan” makin penting justru di saat kita sibuk masbro. Maka kubikin deh satu list yang gampang dan kupasang di notice board kamar kontrakan waktu itu:

2009: Lulus
2010: Menikah
2011: Kuliah di Canberra/Tokyo/Seoul/London
2012: Dapat Gelar Master
2013: Haji ke Baitullah

Oke, jika dievaluasi semuanya MELESET! Hahaha, saya lulus di tahun 2010. Diriku menikah di tahun 2012. Dapet beasiswa juga di awal tahun 2012. Dapet gelar Master tentunya juga baru pada tahun 2015 jika lancar. Dan, kemungkinan haji ke Baitullah sepertinya agak susah di tahun 2013. Tetangga mertua ane aja baru daftar tahun 2012 dan berangkat 2017. Wah, kudu cepet-cepet daftar haji nih!

Dari kasus di atas, aye belajar bahwa dalam merencanakan sesuatu memang kudu ditulis dulu dan mengindikasikan apa dan kapan kudu terlaksana. Dari menuliskannya dalam bentuk to-do list ane kemudian jadi terpacu buat memberikan tanda centang atau tick (V) pada setiap list yang sudah dikerjakan. Bagi ane tiap melakukan penandaan bahwa kerjaan selesai itu mengindasikan achievement. Rasanya menyenangkan lho, bisa fulfill our plan. Yang susah dari membuat rencana yaitu istiqomah pada rencana awal, tahu sendiri kan godaan dan distractions itu ada di mana-mana.

Prakteknya nggak susah, dirimu tidak perlu menuliskannya dalam agenda Ipad-mu atau di handphone atau kudu rapi jali. Yang penting kebaca dan mudah diakses. Cukup kertas sederhana, buku agenda atau papan tulis. Kalo nggak salah ada buku khusus yang ngomongin tentang bagusnya mempraktekkan to-do list ini. Coba aja deh masbro, for me it works. Oh iya sebagai bonus saya kasih gambar to-do-list ane pas ngejar beasiswa. Selamat berencana dan mewujudkan mimpimu! [maap jika gambarnya acak adut ;P]

-Kalibata City, 22 Juli 2012-

Sumber: Dokumen Pribadi

Gelisahku

Tiba-tiba saja, aku tertarik untuk melakukan murojaah buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” karya Kakanda Salim. Lembar demi lembar kusimak. Namun kemudian, kelebat-kelebat peristiwa yang dulu pernah terjadi kembali muncul, aku pada 5 tahun yang lalu. Mau tak mau aku mengevaluasi diri, bukan dalam arti apakah kemudian siap melakukan pernikahan  atau apapun terkait pernikahan.

Bukan, bukan itu.

Buku ini mengingatkanku pada  sesuatu. Ada desir-desir rasa bersalah. Ada sedikit rasa gundah. Namun lebih  dari itu, ada segumpal besar rasa menyesal. Lalu sedih, melihat ada yang  kemudian mengendur semangatnya, lupa akan apa yang diperjuangkannya dulu, tentang dakwah, tentang umat Islam, tentang bumi yang lebih baik sambil memandang pelangi-pelangi atau siluet kala senja. Waktu itu kita punya cita-cita mulia, pandangan kita seluas buana. Aku takmau itu hilang, terpesona akan kilau dunia, bukankah ianya fana dan hanya fatamorgana?

Ada yang mengetuk-ngetuk hati ini, bertanya, “Pugo, kenapa kamu sekarang berbeda?” Aku terdiam. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.

Jam menunjukkan jam 15:56, kereta yang kutumpangi menderum dan akan berangkat mengantar para penumpangnya kembali menjemput cita.

Stasiun Kota Bogor, 8 Agustus 2010

Banyak Cara Menyemangati Mengerjakan Skripsi

Bingung juga jika weekend ada di Jakarta. Bingung mau kemana. Ya akhirnya mencari suasana lebih akademis di Institut Pertanian Bogor. Kampus yang sudah 5 kali aku kunjungi sampai kali ini. Dan mungkin sebulan ke depan akan sering kesana. Kurang kerjaan bener ya aku.

Anyway, akhirnya ketemu juga nuansa akademis. Bukan di kampus, akan tetapi persis setelah ada di kamar teman saya. Dia juga sedang mengerjakan skripsi. Sebagai tambahan informasi, aku belum lulus dan masih menambal beberapa lubang kesalahan draft skripsi.

Nha, yang menarik adalah upaya temanku ini untuk tetap fokus menyelesaikan tugas akhir dalam kehidupannya di kampus. Akan aku tulis pesan-pesan yang dibuatnya yang ditempel di depan meja belajarnya. Aku terpana sesaat, sungguh sangat bersemangat dia. Kulihat lekat-lekat.

Pesan #1:

“Janganlah pernah merasa dirimu cukup. Teruslah Perbaiki diri, tingkatkan ketaqwaaan, keikhlasan dan kualitas. Tak Perlu hiraukan orang lain. Teruslah berlari menuju Rabb-mu dengan segala kekuatan.”

Pesan #2:

Dengan menulis skripsi 3 jam per hari, insyaAllah:
Mei = Lulus
Juni = Tour de Java, Borobudur, Krakal, Bromo, Sidoarjo
Juli = Wisuda
September = ??? Siap!!!

Pesan #3:

Daftar Iqob
Tidur lebih dari 6 jam per hari Rp 1000
Tertinggal Shalat berjamaah Rp 1000
Meninggalkan Tahajud Rp1000
Meninggalkan Shaum Sunnah Rp1000

Pesan #4:

Masihkah kau berdiam diri sedangkan, masih belum punya bekal untuk akhirat nanti? Masihkah engkau bersenang-senang sedangkan Izrail sudah berada tepat di belakangmu

Pesan #5:

Berubah 3 M mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai dari sekarang ^^V

Pesan-pesannya melecut, bagus dan menantang. Melecut karena menjewer kita yang kadang lupa. Bagus karena dengan membacanya tiap hari kita selalu ingat untuk apa kita mengerjakan skripsi. Dan, menantang karena di depan ada kerja-kerja yang lebih menyenangkan setelah melalui status mahasiswa. Ada beberapa yang kemudian berpotensi menipiskan kantong.

Akhirnya kemudian aku lihat wajah senyam-senyum temanku ini: polos dan kadang lebih tepatnya lugu. Aku pun berkesimpulan: Skripsi yang baik adalah yang dikerjakan.

Jakarta, 3 hari menuju Final Draft, 25 Juni 2010
Semangat kawan! ^^V