Dimana Tempat Shalat Jum’at di ANU?

Posting kali ini didasari dari pengalaman saya mencari Jama’ah Shalat Jum’at untuk pertama kalinya di kampus Australian National University (ANU). Saat itu saya coba nyari-nyari di google dengan kata kunci “shalat jumat di ANU”.  Akhirnya,  nemu beberapa link seperti punya: Pak  Uded Rajo Bagindo dan Pak  Nico Andrianto. 

Meskipun begitu ada beberapa hal yang mungkin bisa saya tambahi biar lengkap dari dua tulisan tersebut. Saya pun berinisiatif, kali aja ada calon MABA (Mahasiswa Baru) ANU  yang juga nyari jamaah shalat Jum’at.  Jujur saja, ketika saya tersesat saat pertama kali shalat Jum’at setelah menginjakkan kaki di Canberra (Australia). Dannn telat tinggal shalat doang nggak kebagian ceramah itupun lari-lari karena kudet alias kurang update. Jadi, semoga ada yang membaca blog ini besok-besok nggak telat dan bingung mau Jum’atan dimana. Aamiin 🙂

Saya menulis ini juga karena kangen yang membuncah untuk bisa memahami kutbah Jum’at. Di Belanda, para pelajar susah mendapatkan shalat jumat dengan bahasa Indonesia (yaiyalah) atau Inggris. Biasanya kalau tidak bahasa Arab, Turki dan Belanda. Dan kondisi ini sudah ane jalan satu tahun bang! 😀 Perasaan kami-kami ini ketika jum’atan susah diungkapkan.  Gimana nggak kangen tuh denger “Jamaah Masjid Kampus UGM yang dirahmati oleh Allah…” atau “Dear brother ….”. Untuk Jum’atan di Belanda Kapan-kapan ane tulis di post yang lain ya gaes 🙂

OK, jadi kemana kalau mau shalat Jum’at di ANU?

#1 Sporsthall ANU (link gmaps)

sporthall

Mahasiswa Muslim di ANU cukup beruntung difasilitasi tempat untuk jumat di dalam lingkungan kampus. Waktu itu periode 2013-2015, kalau nggak salah ada sekitar 400an muslim di kampus ANU . Untuk mengakomodasi kebutuhan ruhani mereka itulah kemudian kampus mengijinkan menggunakan ANU sportshall untuk Friday Prayer. Mereka yang mau sewa lapangan buat basket atau futsal bisa setelahnya. Kadang belum selesai shalat-nya, sudah ada mahasiswa yang nyewa sudah siap-siap basket.  Sportshall ini yang menjadi tempat reguler, misal ada acara atau exam di ruangan tersebut maka tempat shalat jumat kita akan pindah di DOJO  atau ke Mushola ANUMA.

pengumuman

Contoh pengumuman pindah tempat Jum’atan. Source: Muslim Students’ Association ANU

Waktu penyelenggaraannya kisarannya di Jam 13.00. So, jika teman-teman mau njadwal kuliah ada baiknya diatur ambil kuliahnya nggak nabrak jam tersebut. Jikapun nabrak minimal masih bisa nelat tapi nggak jauh-jauh amat 😛 Alhamdulillah selama kuliah belum nemu jadwal kuliah ama ujian nabrak dengan Shalat Jum’at.  Terkait dengan waktu ada broadcast sms untuk tempat penyelenggaraan shalat jumat atau ada pengumuman di FB-nya ANUMA bisa di-cek disini. Sayangnya, kayaknya jarang update. Tapi langganan SMS broadcast itu yang sepertinya penting, saya dah pernah coba tapi gagal, akhirnya mengandalkan nanya temen-temen yang kiranya lebih sholeh. hehe.

Jika waktu tidak menjadi masalah, yang menjadi problem buat ane saat itu adalah gedung kuliah ane di Crawford dengan sportshall lumayannnn jauhhh jika jalan, gan. Butuh sekitar 10-15 menit.  Makanya sangat disarankan punya sepeda, masbro. Kalau agak pinter cari parkiran  gratisan atau nggak masalah bayar parkir bisa bawa mobil, boss. Hanya 2 dolar AUD per jam biasanya jika shalat jumat habis 2 jam.  Itu masih murah lah, jika dibandingkan rate per hour jadi cleaner 😀

Tidak hanya student dan cleaner (wkwk) yang jadi jama’ah, ada juga para pekerja di sekitaran kampus. Nah mereka ini yang kadang ada batas waktu lunch time karenanya tiap habis shalat langsung cao. Suatu saat, ada kejadian menarik di salah satu khutbah. Suatu ketika seorang khatib mungkin lupa akan waktu, sehingga agak sedikit molor. Tiba-tiba ada seorang jama’ah berdiri dan protes bahwa khutbah terlalu panjang dan mohon segera diakhiri. Bapak khotib PD aja nerusin cuman emang jadi lebih singkat. Jamaah pada mesam-mesem. Mewakili suara hati mereka kali ya. haha. Baru kali ini tahu bisa ada ginian,gan!

Sayang sekali foto-foto di sportshall belum ketemu. Misal ada akan saya update deh nanti. Oh iya, tips jika mau datang kesini ada baiknya juga wudhu dulu di tempat lain karena tempat wudhu waktu dekat-dekat adzan bakal rame dan kecil. Plus datang lebih awal buat nggelar-gelar tikar/karpet. Ngamal om. Tapi saya jarang juga sih. hehe.

#2 DOJO ANU (link gmaps)

Opsi lain misal sportshall nggak bisa dipakai adalah di DOJO tempat karate/taekwondo/Judo/Aikido. Tempatnya masih di lingkungan ANU Sports jadi gak jauh-jauh amat jika terlanjur kecele’ ke hall. Petanya saya lampirkan di bawah ya. Fotonya di download dari FB-nya Muslim Student’s Association ANU.

dojo-hall

Foto Tampak Atas; Source: Muslim Students’ Association ANU

DOJO ini tempatnya lebih adem dan  beralaskan matras buat para penggiat martial arts. Namun dari segi ukuran lebih kecil dari gym, jadi ada baiknya datang awal masbro. Kenapa? Karena nggak ada sound system. Jadi kalau kebiasaan duduk bersama Barzagli, Bonucci dan Cheilini serta Buffon di barisan belakang, kita nggak bakal denger tuh khotib bilang apa. Dengarnya pas doa penutup doang.  Apalagi pas dipasangin kipas angin yang juga keluar bunyi white noise. Ngantuk deh 😀   Untuk itulah, masbro,  jadilah seperti Mandzukic, Dybala atau Higuain: di barisan depan. Wkwk.

dojo

Jika mau masuk ke DOJO tinggal ke pintu depan ini naik ke lantai dua belok kanan. Dekat lapangan squash 😀

#3 Mushola ANUMA (ANU Muslim Association)  (link gmaps)

anuma

Musholla ANUMA tampak depan

Opsi ketiga alias terakhir adalah di Mushola ANUMA di deket Menzies Library. Mushola ini dikelola oleh ANU Muslim Student Association Tempatnya lumayan nyaman karena sudah berkarpet dan wangi. Nah masalahnya Mushola ANUMA ini nggak muat untuk menampung 150-200an jamaah. Maka terkadang luber ke jalan. Namun, jangan khawatir,  shalat Jum’at di Mushola ANUMA itu jarang banget sih sebenarnya.

anuma-zoom-out

ANU Musholla tampak dari atas. Source: Muslim Students’ Association ANU

Selama 2 tahun kuliah di ANU, baru dua kali Jum’atan disana. Dan itu pas pertama kali Jum’atan di ANU. Jadi, saat itu saya jalan dari Crawford–> sportshall –> dojo –> Mushola ANUMA. Bagi yang pernah tahu besarnya kampus ANU.  Jalan dengan rute tersebut cukup membakar kalori di perut anda gan! Saya nemunya pun tidak sengaja, hanya mengikuti ada mas-mas Pakistan berjubah dan berjenggot panjang jalan cepet. Entah kemana saya ikutan dia dari belakang. Coba kalau jalan cepetnya cuman mau ke toilet? hehe. Alhamdulillah, masnya sama tujuannya mau Shalat Jum’at.

Ok, saya akui, belum move on dari Canberra 🙂

Rotterdam, 28 Desember 2017

signature-pugo

 

Sore di Gardener Cottage

with_mas_ahmad
Habis kuliah dan habis capek-capeknya belajar di Crawford (red:pencitraan) biasanya saya mampir ke Gardener Cottage (GC). GC ini merupakan rumah kecil yg memiliki musholla di Crawford School ANU. Tempat jujukan nongkrong anak Indonesia untuk shalat, ngangetin makanan, ngobrol dan belajar.

Ada seorang abang mahasiswa PiEijDi bidang lingkungan satu ini selalu muncul untuk mampir shalat ashar di GC dan sesekali diskusi dengan kami para junior nya. Nama beliau mas Ahmad. Orangnya sabar sekali jika diajak diskusi. (baca:di-bully) 😀

Suatu sore saya cerita beliau tentang keinginan kuliah lagi ke S3, namun IPK sepertinya enggan mendukung cita. Dengan wajah kalemnya dia bilang “Tenang mas, bisa-bisa kalau PhD mah”. Saya menggumam, wah mas Ahmad ini nggak paham GPA saya semester kemaren kayaknya. Jika tahu pasti terharu dan prihatin 😀

Meski nggak yakin-yakin amat, cerita pengalaman dari mas saya satu ini cukup menyemangati. Hebatnya beliau bukan cuman bicara, tapi mau membantu dengan rela meluangkan waktu proof read paper Master Research Essay (MRE) saya yg di ujung deadline. MRE ini yang nantinya jadi salah satu asbab saya dapat LoA di kampus saya sekarang.

Dua tahun sudah. Akhirnya saya berjodoh bertemu beliau di Belanda. Abang ini memang bilang, “tenang mas nanti bisa masuk”, namun pesan sambungannya belum disampaikan dan baru terangkum dari obrolan di siang yg hangat di Delft dan Rotterdam. “Tapi kalo masuk S3, risiko tanggung sendiri ya 🙂

#ANUconnection
#kangencanberra

 

signature-pugo

 

Untung Ada Calo di Camp Nou

Apakah teman-teman pernah bersinggungan dengan calo? Kalo pengalaman saya selama di Indonesia, interaksi dengan mereka selalu pahit. Baik itu calo tiket kereta api di Stasiun Senen atau calo tiket nonton sepakbola di Senayan. Saya menganggap mereka itu orang suka cari untung dan hobinya naikin harga tiket seenaknya, bahkan hingga dua kali lipat! Tapi, karena kita memang butuh mereka di saat yang genting, yaaaa akhirnya ngalah dengan harga mereka dan calo-lah yang menang. Kitapun rugi karena membayar lebih dari harga resmi. Tapi ada kalanya, berhadapan dengan calo itu menguntungkan.

Ini kisah saya … (dibaca dengan nada seperti inem 🙂 )

Awal mulanya ketika saya berada di Barcelona bersama istri. Waktu itu alhamdulillah ada rejeki bisa nemenin Istri selama kurang lebih tiga minggu pada medio Mei 2012. Kebetulan, istri saya nge-kost di daerah yang hanya 5 menit jalan kaki dari Stadion Camp Nou. Stadion kebanggan publik Catalan. Seperti biasanya sebelum pertandingan dimulai, daerah tempat nge-kost-nya istri kami ramai dengan pendukung Barca hingga parkir kendaraan penuh. Kata istri saya, bus yang lewat di Camp Nou pun sengaja dialihkan untuk tidak lewat stadion.

Hari itu kesebelasan kebanggaan publik catalan, Barcelona FC, akan menjalani laga perempatan final home mereka melawan AC. Milan (yang beritanya ada di-sini). Pada laga sebelumnya, Blaugrana ditahan imbang 0-0 di stadion San Siro, Milan, di Itali. Banyak yang pengen nonton karena dianggap akan terjadi pertarungan sengit. Teman-teman istri sudah berangkat semua ke cafe-cafe untuk menononton laga yang mempertemukan Raksasa Spanyol dan Juara Serie-A ini. Mereka biasanya lebih sering nonton di Cafe karena mungkin lebih murah dan masih dapat atmosfer nonton barengnya.

Konon, harga tiket liga Champion super duper mahal. Ini Liga Champions, bro! Kumpulan para juara Eropa! Siapa yang nggak mau nonton? Saya dan istri lalu mencoba mencari di internet kali aja ada tiket murah dan kita bisa nyempil nonton meski dari tribun yang sangat jauh, jadi ngeliat para pemain kayak titik-titik bulet-bulet gerak 😛 Mungkin bisa dilihat contohnya ketika istri saya ngikut perayaan di tribun paling jauh ketika ada tiket gratisan masuk Camp Nou (gambar di bawah).

barcelona-celebration

Perayaan setelah memenangkan pertandingan melawan MU di tahun 2011

Mau berangkat atau tidak? Itu pertanyaan yang krusial. Karena melihat keadaan dompet, bisa ditebak, kami akhirnya memutuskan untuk cuman jalan-jalan ngeliat Camp Nou saja 😛  Minimal ngerasain atmosfer di luar stadion lah, udah jauh-jauh nggak ada pengalaman kan sayang. Saya ambil jaket, karena waktu itu agak dingin,  dan kami berdua jalan kaki menuju stadion. Saat kami datang di sana,  suasana luar stadion agak sepi karena penonton sudah pada masuk. Biar nggak cengok, kami “thawaf” keliling Camp Nou. Jelas, ini bukan dalam rangka ibadah 😀

Akannnn tetapiiii, suasana di dalam stadion sungguh menggoda ketika upacara sebelum pertandingan dimulai. Official Anthem Liga Champion yang sangat khas itu diperdengarkan dan kedengaran hingga luar stadion memanaskan telinga dan dada saya. (lagunya bisa didengar disini).

“Die Meister (German); Die Besten (German); Les Grandes Équipes (French),  The Champions”. Kalo English Version-nya artinya: The Masters;The best;The biggest teams;The Champions.

Lagu dan liriknya sangat Mistis! Apalagi bagian Chorusnya, Fenomenal! Ditambah riuh suara penonton di dalam stadion, membuat dada ini menggelegak. Waaaaaa, saya nggak kuatttt. Akhirnya merayulah ke istri buat beliin tiket berdua wkwkwk.  Kapan lagi. Seumur-umur. Yaiyalah, saat itu kantong saya nggak ada Euro Rupiah juga deng 😛

Namun ternyata dapat tiket liga champion secara go show nggak gampang. Awalnya, kami cek di loket tiket, ada dua tiket yang paling murah sekitaran 85 Euro untuk satu orang. Eeeee ternyata dua tiket itu berjauhan. Yang satu sayap kiri satu sayap kanan. Masak dadah-dadah. Akhirnya saya nglokro dan njuk nggak gitu semangat. Kata istri, temennya rekomendasiin beli di calo. Waa ini, saya kapok berhadapan dengan calo. Dia lalu menambahkan, dan ini menarik, bisa lebih murah jika pertandingan dimulai! Masalahnya, kami malah dijauhi sama calo, kami mendekat mereka malah mlengos, bukan wajah penonton bola kali yak. Kami saltum juga sih sebenarnya, cuman pakek jaket dan nggak ada atribut Barcelona sama sekali. hoho.

Rejeki memang tak kemana, setelah mencoba jalan ke arah jalan masuk, ada seorang calo, kayaknya sih keturuan Maroko atau Aljazair. Dia bilang “Two Tickets! Two Tickets!” mencoba menawarkan ke kami dengan aksen arab/afrika. Terus dia bilang ” This ticket worth 114 Euro each. But, I’ll sell to you two of them 160 Euro”. Istri nolak, akhirnya nawar, 130 Euro. Awalnya si Bapak, keberatan, terus kami pakek jurus mlengos seakan mau pergi, eee dia mau 😛  Jadi dapatnya satu orang  65 Euro untuk tiket seharga 114 Euro. Malah dia sekalian nganterin ke gate tempat cek tiket. Hoho.

Fenomena murahnya tiket ini dalam teori ekonomi (jika tidak salah) dinamakan Time Utility, Nilai Guna Waktu. -Azik, kepakek juga ilmu kuliah 😛 – Suatu benda akan mempunyai nilai lebih setelah mengalami perubahan waktu atau pada waktu-waktu tertentu. Dalam kasus tiket ini karena “barang”nya berupa nonton bola selama 90 menit, maka kalo udah selesai pertandingan tadi, nilai tiket yang VIP yang harganya 500 Euro sekalipun jadi tiada artinya.

Contoh lainnya, misal kamu juragan toilet di terminal, pas ada penumpangturun yang  sangat kebelet hingga sudah mencapai ujung.  Bisa kok kamu naikin tarif jadi 10 ribu untuk masuk WC. Dia susah untuk menolak karena memang pada saat dimana sangat dibutuhkan. Dan contoh terakhir ini adalah contoh yang kejam 😛

Tiket Liga Champion yang kayak fotokopian

Saat berlari-lari masuk ke stadion kami sempat nggak percaya karena tiketnya kayak cuma fotokopian, tapi pas di-scan lolos-lolos aja. Lega deh. Pas masuk stadion, stadion pada riuh, ternyata AC Milan ngegolin. Karena belum nemu tempat duduk kami duduk di tangga (dasar orang desa), diingetin sama bapak-bapak steward, lalu ditunjukkin ke kursi kami. Ternyata pengaturan kursi disini tertib, jadi kalo beli tiket dijamin dapat tempat duduk. Alhamdulillah, kita dapat tiket nonton liga champion di tribun yang agak dekat, jadi masih bisa lihat Messi atawa Ibrahimovich.

Messi ketika siap-siap mengambil pinalti

Messi ketika siap-siap mengambil pinalti

Pengalaman ini mungkin bisa diaplikasikan jika memang nggak ngebet-ngebet amat mau nonton karena ada probabilitas nggak nemu calo juga,. wkwkwk. Dan, dengan catatan dimulai pada menit ke 30, atau ada yang mau nyoba menit ke 80 baru beli? 😀
Matur Nuwun Pak Calo!

Note:

  • Suasana stadion dan bagaimana pertandingan berlangsung mungkin sudah terlalu mainstream, jadi saya nggak tulis di sini. Hehehe.
  • Penyebutan angka harga tiket bukan karena belagu, ngeliatin punya duit, inginnya sebagai gambaran rill aja misal mau nonton. Semoga berkenan. FYI, habis beli tiket, kami langsung ngirit 😛
  • Saya Juventini! 😀

signature-pugo