Sore di Gardener Cottage

with_mas_ahmad
Habis kuliah dan habis capek-capeknya belajar di Crawford (red:pencitraan) biasanya saya mampir ke Gardener Cottage (GC). GC ini merupakan rumah kecil yg memiliki musholla di Crawford School ANU. Tempat jujukan nongkrong anak Indonesia untuk shalat, ngangetin makanan, ngobrol dan belajar.

Ada seorang abang mahasiswa PiEijDi bidang lingkungan satu ini selalu muncul untuk mampir shalat ashar di GC dan sesekali diskusi dengan kami para junior nya. Nama beliau mas Ahmad. Orangnya sabar sekali jika diajak diskusi. (baca:di-bully) 😀

Suatu sore saya cerita beliau tentang keinginan kuliah lagi ke S3, namun IPK sepertinya enggan mendukung cita. Dengan wajah kalemnya dia bilang “Tenang mas, bisa-bisa kalau PhD mah”. Saya menggumam, wah mas Ahmad ini nggak paham GPA saya semester kemaren kayaknya. Jika tahu pasti terharu dan prihatin 😀

Meski nggak yakin-yakin amat, cerita pengalaman dari mas saya satu ini cukup menyemangati. Hebatnya beliau bukan cuman bicara, tapi mau membantu dengan rela meluangkan waktu proof read paper Master Research Essay (MRE) saya yg di ujung deadline. MRE ini yang nantinya jadi salah satu asbab saya dapat LoA di kampus saya sekarang.

Dua tahun sudah. Akhirnya saya berjodoh bertemu beliau di Belanda. Abang ini memang bilang, “tenang mas nanti bisa masuk”, namun pesan sambungannya belum disampaikan dan baru terangkum dari obrolan di siang yg hangat di Delft dan Rotterdam. “Tapi kalo masuk S3, risiko tanggung sendiri ya 🙂

#ANUconnection
#kangencanberra

 

signature-pugo

 

Podho-Podho Mangan Sego

Semua orang tua punya cara masing-masing untuk menyemangati anak-anaknya yang minder. Keminderan ini mulai terjadi ketika saya memasuki masa SMP. Saat SD, saya berada di lingkungan yang secara sosial ekonomi relatif sama di pinggiran utara Kabupaten Bantul. Nggak pede itu jarang dirasakan. Teman-teman sekolah sama-sama bersepeda atau jalan berangkat-pulang sekolah. Jajanpun yang murah-murah. Bahkan, grontol (jagung rebus tetelan diberi parutan kelapa) adalah makanan favorit karena habisnya lama. Haha. Namun semua  berbeda ketika saya menginjak SMP, minder dengan latar belakang ekonomi orang tua tiba-tiba muncul. Tidak sedikit itu mempengaruhi performa belajar. Heh, dasar ABG. Labil. 😀

Saat itu, saya berkesempatan sekolah di SMP kota, SMP 5 Yogyakarta. Konon, kabar burungnya, SMP saya ini adalah kumpulan anak-anak orang  kaya. Mobil jemputan banyak menunggu tiap di depan sekolah ketika bel pulang berbunyi. Banyak diantara teman-teman membawa motor. Lebih kaya lagi saat itu sudah ada beberapa yang membawa mobil sendiri. Jaman itu seperti itu sungguh dahsyat masbro. Inget lho, saya SMP pada masa dimana Sheila on 7 masih jaya-jayanya, motor Honda Astrea Grand 98-an pun sudah sangat gaulll, Helm-nya masih tipe ciduk dengan tempelan sticker sana-sini. Lalu saat itupun Dian Sastro masih unyu-unyu di film AADC 1 dan makan di Pizza HUT pun masih sangat happening. Kembali ke laptop, bisa jadi jika dihitung gini ratio populasi siswa sekolah itu akan menyamai DKI saat ini 😀 #Kampanye

Ada nasihat dari Ibuk yang penting untuk semua anak-anaknya yang mengalami problem serupa. Kebetulan kami tiga bersaudara bersekolah di kota Yogyakarta semua. Kakak pertama saya di SMP 5, kakak kedua saya di SMP 8 dan Saya sama dengan kakak pertama di SMP 5. “Oalah le/nduk, kabeh kiy uwong yho padha-padha mangan sego. InsyaAllah, awakmu isa ngimbangi kanca-kancamu. Asal leh mu sinau sregep, ora lali shalat, ngaji, karo ndonga.”  [Walah nak, semua orang itu kan sama-sama makan nasi. InsyaAllah kamu bisa mengimbangi teman-temanmu. Asalkan kamu belajar yang rajin, tidak lupa shalat, mengaji dan berdoa]. Kurang lebih seperti itu nasehat beliau.  Memang sih, temen-temen saya sama-sama makan nasi. Tapi kan beda lauknya, Buk 😛 Mereka kan nasi dengan steak #kidding. Masih ingat, saat SD, ada masa dimana kami makan nasi lauk garam. Hal yang mungkin sekarang jarang terjadi di anak-anak masa kini.

Ternyata betul, dengan banyak up and down-nya hingga SMP-SMA-Kuliah S1 kami bertiga  berhasil menjalaninya. Memang kami bukan yang terbaik tapi Alhamdulillah masih bisa bersaing. Kami masih bisa lulus dengan nilai lumayan. Kakak pertama saya lulus dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Kakak kedua saya lulus dari Akademi TNI Angkatan Udara (AAU) dan saya sendiri lolos dari pendadaran di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Lalu bagaimana jika teman-teman kita tidak makan nasi? Contohnya saat saya kuliah di Australia mulai tahun 2013. Saya kok merasa orang-orang bule itu pinter semua. Mereka semua makan Roti! Burger! Salad! Tak kurang akal, nasehat Ibuk: “Wong kiy pada wae saktenane le, nek neng mburi sikile kiy yho kethekuk” [ Orang itu sebenarnya sama saja Nak, kalo BAB ke belakang/WC itu ya kakinya terlipat/tertekuk – Jannn, susah bener ini nyari bahasa Indo-nya. Haha.]  Dan benar, setelah saya observasi dari semua toilet yang saya bersihkan selama saya di Canberra sebagai pejuang Dollar Ostrali, tidak ada toilet yang didesain bagi orang untuk bisa BAB tanpa kakinya terlipat/tertekuk. Kalaupun ada, kemana-mana ‘itu-nya’ nanti [tidak usah dibayangkan ya!].

All in all, Saya kangen Jogja 🙂

wisuda-mbak-retty

Alhamdulillah, mbak Retty lulus S2 UGM. Ditemani Ibuk. Hal yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya. You made it, mbak! See? You can do it. 🙂 #proudbrothers

Perdebatan Ruang TV

habis_nonton

 

Foto di atas diambil saat saya pertama kali nonton bareng di Bioskop. Jika saya tidak keliru kami menonton Om James Bond. Untuk kedua kalinya  pada sekuel Quantum of Solace ini Daniel Craig bermain. Kami memang lebih biasa nonton film action atau horror. Jika ketika terkait dengan film-film romantis religius seperti Ketika Cinta Bertasbih, Mihrab Cinta tentu kita anak JW3 nggak nonton bareng.  Alhamdulillah kami masih normal. Ataupun nonton konser dua dekade Kahitna, live music Maher Zain tentu kami masing-masing cukup selektif mengajak siapa. Hehe.  Biasanya mereka cukup ahli menyembunyikan dengan siapa mereka menonton.

Tapi setahu saya, nonton bareng James Bond itu merupakan jama’ah paling banyak. Kita kemudian jarang nonton bareng karena mungkin banyaknya kesibukan, tapi ada pula andil adanya TV di ruang berkumpul kami di ruang tengah. Dan disanalah banyak perdebatan terjadi.

Saat makan malam habis maghrib biasanya kita berdebat dan eyel-eyelan. Kayak calon pejabat kami diskusi terkait bangsa dan negara. Dari kasus subsidi BBM hingga kasus KPK Cicak versus Buaya. Aktivis bener bukan? Tapi semua berubah setelah jam nonton TV.  Ada dua kutub dalam acara berdebat menonton TV di ruang tengah. Satu kubu punya pandangan bahwa film-film bagus itu ada di HBO ataupun fox movies. Film-film Holywood, Britania Raya dan Eropa jadi acuan. Yang ada di golongan ini di antara Syarif, Sinyo, Fadly, Abas, Dani dan masih banyak lainnya.

Kutub kedua yang juga garis keras meski minoritas adalah para penikmat Celestial Movie. Pendukung ide utamanya adalah Lakso Anindito dan saya sendiri. Kami berpendapat film-film dengan wajah oriental lebih nyaman ditonton dan lebih ideologis. Lakso lebih suka film-film Mandarin, mungkin,  karena wajahnya yang oriental.   Sedangkan saya film Jepang dan Korea. Dua kubu besar ini kemudian berebut dan beradu argumen film mana yang lebih worth it untuk ditonton.

Uniknya, dari dua kubu yang berbeda tadi bersepakat bahwa FTV adalah tayangan wajib di pagi hari. Terutama Bang Fadly. Kalian bisa confirm semua judul FTV pada medio 2009-2010 sudah kami tonton semua. Mulai dari judul-judul aneh seperti “Pacarku Tukang Ojek”, “Cinta di Kandang Sapi”, “Kekasihku Orang Desa”  dan judul-judul sejenis. Bahkan, kami tahu ada seri FTV yang ditayang ulang. Plotnya pun selalu sama: (1) Melibatkan dua karakter berbeda, biasanya yang satu berlatar belakang sangat miskin satu sangat kaya (2) Ketemu tidak diduga  (3) Selalu bertengkar, berkonflik dan benci dulu (4) Karena sering ketemu maka benih-benih cinta muncul  (5) Ada orang ketiga, konflik pun terjadi (6) Jadian dan Happy Ending. Dah gitu-gitu aja 😀

Untuk tayangan olahraga, biasanya perdebatan tidak banyak terjadi. Akan menonton bersama-sama jika final liga champion. Untuk MU maka akan ada Syarif dan Arief yang akan menonton. Chelsea main pasti ada Aulia disana. Jika Arsenal bermain, biasanya sepi dan hanya ada Sinyo di ruang TV 😛 Yang tidak beruntung saya dan Agung Baskoro, kala itu Juventus baru jelek-jeleknya. Tidak ada stasiun televisi yang menyiarkan.

Apapun itu, perdebatan ruang TV akan selalu dirindukan. Dari mulai kekonyolan tak terperi, curhat-curhat, konsolidasi peta persebaran jajahan. Sloga kami perkuat pusat, perbanyak cabang.  Lalu taklupa momen makan malam bareng, makan oleh-oleh yang dibawa kawan kontrakan dari pulang kampung, termasuk pudding, cake atau kue yang penuh cinta dari para fans dan gebetan. Hehe.

Aduh mbak-mbak, andai kalian tahu siapa kami  😀

#KamiTidakBubar #JW3NovusOrdo

Kerja Keras atau Kerja Cerdas?

museum_angkut

Dalam dua minggu belakangan ini setelah berinteraksi dengan banyak orang saat lebaran, mengikuti PK 70 LPDP di Wisma Hijau Depok dan IRSA 13 di Malang, pertanyaan pilih mana kerja keras atau kerja cerdas mulai terlihat benang merahnya. Untuk saya pribadi, lebih baik kerja keras untuk tipikal orang orang Indonesia. Kerja cerdas akan mengikuti.

Dari beberapa kolega kerja yang berhasil mencapai level ,’kerja cerdas’, saya melihat mereka sudah memulainya dengan berlatih dengan waktu panjang untuk hal-hal teknis. Misal belajar statistika dan ekonometrika lalu software Latex, Stata, R, Eviews, SPSS, matlab dan lain sebagainya. Hal yang sama juga terjadi menulis di koran atau jurnal. Diawali dengan menulis di koran/jurnal ditolak belasan atau puluhan kali. Namun kemudian mereka bisa mengolah data dengan cepat, menulis artikel yang masuk koran dengan rutin atau berderet -deret list publikasi di CV. Semua ada learning curve-nya.

Foto di atas diambil di Museum Angkut, Batu Malang sepekan yang lalu. Pedagang dahulu ternyata sudah pandai memaksimalkan potensi. Termasuk potensi sepedanya untuk membawa barang secara kolosal. Kerja kerja kerja, gajian gajian gajian, dolan dolan dolan 😀

#random #siap2sekolah

Tentang Jaket Kampus

anu

Suatu waktu saya sedang belanja di sebuah toko kelontong dekat rumah. Agak unik, bapak yang menerima pembayaran saya tersenyum melihat jaket hoody yang saya kenakan. Jaket hoody kampus yang saya beli dengan diskon dari University Shop tempat saya menempuh program master. “Wah, bapak ini kenal kampus saya kali ya” batin saya. Eh dia kemudian berujar, ” Ha niku jaketipun tulisannya kok anu, mas [itu kok jaketnya kok tulisannya anu, mas]”. Anu. Kata multitafsir bin ambigu dalam bahasa jawa yang bisa dimaknai apapun. Jika ditanya orang, sekolahnya dimana. Kujawab “ANU mas”. mbalik nanya lagi ” kok ANU, ANU napa mas?” Percakapan pun jadi zingg. Nah,Nggak jadi bangga deh sama sekolah. Makane ora oleh sombong le. leh mu sekolah nengendi. Ona anu. Urip mung mampir ngombe, Hidup itu cuman mampir minum.

Lha, apa perlu saya jelaskan bahwa ‘ANU’ adalah salah satu kampus di Ibu Desa Australia. Dan membaca ‘ANU’ itu harusnya ei-en-yu. Kemudian apa juga perlu di-jlentrekkan bahwa ANU menurut QS ranking world ranking di tahun 2016 termasuk ranking 19 dunia dan menurut Time Higher Education (THE) tahun 2016 masuk 51 besar dunia? Lulusannya pernah menduduki jabatan menteri di Indonesia mulai dari Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif misalnya. Lak yho ora perlu tho yho kang?

Jangankan ANU. Lha wong ada cerita unik dari teman saya yang diterima di Harvard University. Ia sempat terdiam membisu mendengar jawaban Ibu-nya ketika dia memberikan kabar baik akan diterimanya dia. “Buk, kula ditampa Harvard [Ibu, saya diterima sekolah di Harvard]”. Ibunya pun menjawab, “Harvard iku apa tho, le? [Harvard itu apa tho, nak]”. Gimana nggak mesem. Dan ini bagian yang membuat saya bangga dengan almamater saya. Si Ibu meneruskan, “Iku karo UGM luwih apik endi? [itu dengan UGM bagusan mana?]. 😀 . Begitulah kira-kira percakapannya. Menurut teman saya, Ibu tetap bahagia, karena jika anaknya menganggap itu baik maka beliau percaya itu kampus yang baik dan bagus. Nderek sungkem nggih Bu. [note buat temenku: kalau ada redaksi yang salah monggo diedit. hehe]

Katanya hari ini ANU ulang tahun yang ke-70, mirip nih dengan angkatan persiapan keberangkatan (PK) saya juga yang ke 70. Kampus tersebut merupakan tempat dimana sentuhan pertama saya dengan dunia Internasional, bertemu banyak bangsa-bangsa di dunia. Umur 70 itu termasuk muda jika dibandingkan dengan kampus-kampus terbaik lainnya. Semoga terus bisa menelurkan agen perubahan dunia. Naturam Primum Cognoscere Rerum. First to learn the nature of things.

#OurANU70th

Untung Ada Calo di Camp Nou

Apakah teman-teman pernah bersinggungan dengan calo? Kalo pengalaman saya selama di Indonesia, interaksi dengan mereka selalu pahit. Baik itu calo tiket kereta api di Stasiun Senen atau calo tiket nonton sepakbola di Senayan. Saya menganggap mereka itu orang suka cari untung dan hobinya naikin harga tiket seenaknya, bahkan hingga dua kali lipat! Tapi, karena kita memang butuh mereka di saat yang genting, yaaaa akhirnya ngalah dengan harga mereka dan calo-lah yang menang. Kitapun rugi karena membayar lebih dari harga resmi. Tapi ada kalanya, berhadapan dengan calo itu menguntungkan.

Ini kisah saya … (dibaca dengan nada seperti inem 🙂 )

Awal mulanya ketika saya berada di Barcelona bersama istri. Waktu itu alhamdulillah ada rejeki bisa nemenin Istri selama kurang lebih tiga minggu pada medio Mei 2012. Kebetulan, istri saya nge-kost di daerah yang hanya 5 menit jalan kaki dari Stadion Camp Nou. Stadion kebanggan publik Catalan. Seperti biasanya sebelum pertandingan dimulai, daerah tempat nge-kost-nya istri kami ramai dengan pendukung Barca hingga parkir kendaraan penuh. Kata istri saya, bus yang lewat di Camp Nou pun sengaja dialihkan untuk tidak lewat stadion.

Hari itu kesebelasan kebanggaan publik catalan, Barcelona FC, akan menjalani laga perempatan final home mereka melawan AC. Milan (yang beritanya ada di-sini). Pada laga sebelumnya, Blaugrana ditahan imbang 0-0 di stadion San Siro, Milan, di Itali. Banyak yang pengen nonton karena dianggap akan terjadi pertarungan sengit. Teman-teman istri sudah berangkat semua ke cafe-cafe untuk menononton laga yang mempertemukan Raksasa Spanyol dan Juara Serie-A ini. Mereka biasanya lebih sering nonton di Cafe karena mungkin lebih murah dan masih dapat atmosfer nonton barengnya.

Konon, harga tiket liga Champion super duper mahal. Ini Liga Champions, bro! Kumpulan para juara Eropa! Siapa yang nggak mau nonton? Saya dan istri lalu mencoba mencari di internet kali aja ada tiket murah dan kita bisa nyempil nonton meski dari tribun yang sangat jauh, jadi ngeliat para pemain kayak titik-titik bulet-bulet gerak 😛 Mungkin bisa dilihat contohnya ketika istri saya ngikut perayaan di tribun paling jauh ketika ada tiket gratisan masuk Camp Nou (gambar di bawah).

barcelona-celebration

Perayaan setelah memenangkan pertandingan melawan MU di tahun 2011

Mau berangkat atau tidak? Itu pertanyaan yang krusial. Karena melihat keadaan dompet, bisa ditebak, kami akhirnya memutuskan untuk cuman jalan-jalan ngeliat Camp Nou saja 😛  Minimal ngerasain atmosfer di luar stadion lah, udah jauh-jauh nggak ada pengalaman kan sayang. Saya ambil jaket, karena waktu itu agak dingin,  dan kami berdua jalan kaki menuju stadion. Saat kami datang di sana,  suasana luar stadion agak sepi karena penonton sudah pada masuk. Biar nggak cengok, kami “thawaf” keliling Camp Nou. Jelas, ini bukan dalam rangka ibadah 😀

Akannnn tetapiiii, suasana di dalam stadion sungguh menggoda ketika upacara sebelum pertandingan dimulai. Official Anthem Liga Champion yang sangat khas itu diperdengarkan dan kedengaran hingga luar stadion memanaskan telinga dan dada saya. (lagunya bisa didengar disini).

“Die Meister (German); Die Besten (German); Les Grandes Équipes (French),  The Champions”. Kalo English Version-nya artinya: The Masters;The best;The biggest teams;The Champions.

Lagu dan liriknya sangat Mistis! Apalagi bagian Chorusnya, Fenomenal! Ditambah riuh suara penonton di dalam stadion, membuat dada ini menggelegak. Waaaaaa, saya nggak kuatttt. Akhirnya merayulah ke istri buat beliin tiket berdua wkwkwk.  Kapan lagi. Seumur-umur. Yaiyalah, saat itu kantong saya nggak ada Euro Rupiah juga deng 😛

Namun ternyata dapat tiket liga champion secara go show nggak gampang. Awalnya, kami cek di loket tiket, ada dua tiket yang paling murah sekitaran 85 Euro untuk satu orang. Eeeee ternyata dua tiket itu berjauhan. Yang satu sayap kiri satu sayap kanan. Masak dadah-dadah. Akhirnya saya nglokro dan njuk nggak gitu semangat. Kata istri, temennya rekomendasiin beli di calo. Waa ini, saya kapok berhadapan dengan calo. Dia lalu menambahkan, dan ini menarik, bisa lebih murah jika pertandingan dimulai! Masalahnya, kami malah dijauhi sama calo, kami mendekat mereka malah mlengos, bukan wajah penonton bola kali yak. Kami saltum juga sih sebenarnya, cuman pakek jaket dan nggak ada atribut Barcelona sama sekali. hoho.

Rejeki memang tak kemana, setelah mencoba jalan ke arah jalan masuk, ada seorang calo, kayaknya sih keturuan Maroko atau Aljazair. Dia bilang “Two Tickets! Two Tickets!” mencoba menawarkan ke kami dengan aksen arab/afrika. Terus dia bilang ” This ticket worth 114 Euro each. But, I’ll sell to you two of them 160 Euro”. Istri nolak, akhirnya nawar, 130 Euro. Awalnya si Bapak, keberatan, terus kami pakek jurus mlengos seakan mau pergi, eee dia mau 😛  Jadi dapatnya satu orang  65 Euro untuk tiket seharga 114 Euro. Malah dia sekalian nganterin ke gate tempat cek tiket. Hoho.

Fenomena murahnya tiket ini dalam teori ekonomi (jika tidak salah) dinamakan Time Utility, Nilai Guna Waktu. -Azik, kepakek juga ilmu kuliah 😛 – Suatu benda akan mempunyai nilai lebih setelah mengalami perubahan waktu atau pada waktu-waktu tertentu. Dalam kasus tiket ini karena “barang”nya berupa nonton bola selama 90 menit, maka kalo udah selesai pertandingan tadi, nilai tiket yang VIP yang harganya 500 Euro sekalipun jadi tiada artinya.

Contoh lainnya, misal kamu juragan toilet di terminal, pas ada penumpangturun yang  sangat kebelet hingga sudah mencapai ujung.  Bisa kok kamu naikin tarif jadi 10 ribu untuk masuk WC. Dia susah untuk menolak karena memang pada saat dimana sangat dibutuhkan. Dan contoh terakhir ini adalah contoh yang kejam 😛

Tiket Liga Champion yang kayak fotokopian

Saat berlari-lari masuk ke stadion kami sempat nggak percaya karena tiketnya kayak cuma fotokopian, tapi pas di-scan lolos-lolos aja. Lega deh. Pas masuk stadion, stadion pada riuh, ternyata AC Milan ngegolin. Karena belum nemu tempat duduk kami duduk di tangga (dasar orang desa), diingetin sama bapak-bapak steward, lalu ditunjukkin ke kursi kami. Ternyata pengaturan kursi disini tertib, jadi kalo beli tiket dijamin dapat tempat duduk. Alhamdulillah, kita dapat tiket nonton liga champion di tribun yang agak dekat, jadi masih bisa lihat Messi atawa Ibrahimovich.

Messi ketika siap-siap mengambil pinalti

Messi ketika siap-siap mengambil pinalti

Pengalaman ini mungkin bisa diaplikasikan jika memang nggak ngebet-ngebet amat mau nonton karena ada probabilitas nggak nemu calo juga,. wkwkwk. Dan, dengan catatan dimulai pada menit ke 30, atau ada yang mau nyoba menit ke 80 baru beli? 😀
Matur Nuwun Pak Calo!

Note:

  • Suasana stadion dan bagaimana pertandingan berlangsung mungkin sudah terlalu mainstream, jadi saya nggak tulis di sini. Hehehe.
  • Penyebutan angka harga tiket bukan karena belagu, ngeliatin punya duit, inginnya sebagai gambaran rill aja misal mau nonton. Semoga berkenan. FYI, habis beli tiket, kami langsung ngirit 😛
  • Saya Juventini! 😀

signature-pugo

Selamat Datang ke Dunia, Fiza

Selamat datang, Cinta 🙂 Mohon maaf jika Bapak baru sempat menuliskan kekata ini setelah nunggu 3 bulan pasca kelahiranmu. Maafkan pula Bapakmu ini yang nggak nemenin Ibuk-mu ketika kau lahir. Bapak dan Ibuk akhirnya memutuskan Bapak nggak pulang dulu ke Jogja. “Nanti habis ujian saja”, kata ibuk. Yasudah, karena Bapak yakin Ibuk-mu siap dan malah takut kedatangan Bapak bikin Ibuk nggak tenang (karena kudu ngurusin Bapak :P). Banggalah, karena engkau dilahirkan oleh seorang ibu yang pemberani dan sabar (Meskipun nanti agak galak-galak dikit nggakpapa ya, Fiza :P).  Karenanya, Bapak jadi nggak was-was ketika akhirnya memutuskan tidak melihatmu ketika pertama kali melengkingkan tangismu di Ahad, 7 Juli 2013.

Terkait namamu, jika kau ditanya oleh Bapak atau Ibu gurumu, atau temanmu inilah jawabannya. Nama lengkapmu adalah: “Fatihatun Hafiza Sambodo”, kenapa namanya seperti itu? Fatihatun itu berarti kamu adalah anak pertama dan pembuka, pembuka kebahagiaan orang tua, juga pembuka/awalan sebelum adek-adekmu nanti. Kamu pengen punya banyak adek juga kan? hehe. Hafiza itu artinya penjaga, artinya harapan bapak kamu nanti ketika menjalani hidup dapat menjaga diri, ketahuilah bahwa nanti godaan syaithan dan dunia sungguh dahsyatnya. Maka, tetaplah pada jalan yang sudah ditunjukkan oleh-Nya. Harapan yang lain supaya nanti engkau bisa menjaga Al-Quran dalam diri. Yuk, kita belajar bareng-bareng nanti 🙂  Yang terakhir adalah Sambodo, kok mirip punya bapak? Hehe iya, sebenarnya ingin ada unsur “jawa” dalam namamu, kebetulan Sambodo adalah kata yang dipilih oleh Kakekmu/Eyang Kakung, Ngadimun Salamun, yang artinya amanah dan bertanggung jawab atau selaras antara apa yang diucapkan dengan laku. Kakekmu itu orang yang hebat, oleh karena itu aku sematkan nama pemberian Kakek dalam namamu.

Bapak pengen nulis yang banyak, tetapi Bapak bukan pujangga, Bapak hanya seorang mahasiswa esdua yang kehabisan kata-kata 🙂 Bukan apa-apa, karena kebahagiaan akan datangnya dirimu ke dunia ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sayang. Hanya doa akan kebaikan selalu untukmu yang akan Bapak ucapkan setiap selesai shalat:

25-74

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan:74)

Fatihatun Hafiza Sambodo (Fiza) saat umur 3

Fatihatun Hafiza Sambodo (Fiza) umur 3 bulan

Canberra, 14 Oktober 2013
signature-pugo

The Future of Islamic Finance in Australia: Ringkasan Kuliah Singkat

ANU memang menawarkan banyak hal dan fasilitas bagi mahasiswanya untuk belajar. Salah satunya adalah menyediakan ruang diskusi, sharing, update ilmu bagi civitas akademika sekaligus masyarakat umum dengan mengadakan seminar dan dialog. Semuanya itu gratis, meskipun yang jadi pembicara orang-orang terkenal 😀 Tinggal registrasi klik-klik bentar. Beres sudah. Oh iya, setahu saya, jumlah seminar maupun diskusi yang diadakan di sebuah kampus juga merupakan tolak ukur bagus tidaknya kampus. Jika di Indonesia, itu nanti menjadi penilaian dalam akreditasi kampus.

Contoh kuliah gratis yaa kuliah singkat tadi siang saya ikuti. Habis lunch, Crawford School mengadakan  kuliah  tentang masa depan Keuangan Islam di Australia.  Kuliah ini  menghadirkan  Talal Yassine OAM seorang Honorary Professorial Fellow di Crawford School of Public Policy ANU. Kalau nggak salah, beliau masih baru di Crawford dan kuliah ini adalah kuliah pertamanya.

Saya tertarik untuk mengikutinya karena keingin tahuan saya mengenai perkembangan  keuangan berbasis nilai Islam di Negara Kangguru ini. Dua tahun di sini masak nggak tahu apa-apa tentang bagaimana perekonomian Islam berkembang kan lucu (soalnya saya sarjana Ekonomi, meski kadang malu juga ada gelar S.E di belakang nama. Ngrasa nggakpantes :P). Ekspektasi saya dengan mengikuti kuliah ini nantinya bisa tahu apa benar keuangan Islami sudah berkembang ? Karena setahu saya di ranah akademik ada beberapa  beberapa program doktoral dan master Keuangan Islam di La Trobe University, Melbourne. Lalu apakah itu berbanding lurus dengan perkembangan kegiatan keuangan Islaminya?

34e649c7-1ec3-4cd4-9d62-75df269a4728wallpaper

Pendahuluan

Dalam kuliah tersebut Prof. Talal mengawalinya dengan dasar-dasar keuangan Islami secara singkat apa itu 5 pilar keuangan Islam.  Kemudian dilanjutkan dengan filter, yaitu apa saja yang  dilarang dalam keuangan Islami baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Filter kualitatif bisa berupa tidak boleh menginvestasikan uang pada bisnis produk yang dilarang oleh Islam secara umum misal yang mengandung riba/interest, minuman keras, tembakau, judi, senjata untuk perang dan pork. Selain itu ada filter kuantitas dimana ada ukuran dan syarat  keuangan tertentu yang perlu dipenuhi agar aman bagi investor untuk berinvestasi dan tidak terlalu berisiko. Singkatnya, kata beliau, keuangan Islami itu bersifat: low risk, low return.

Beranjak ke bagian kuliah selanjutnya, Prof.Talal menunjukkan beberapa data demografi pertumbuhan komunitas muslim di Australia. Secara umum, populasi muslim di Australia dari tahun 2006 meningkat hingga 40% dimana sebelumnya 340.392 jiwa menjadi 476.291 jiwa pada tahun 2012.  78 % dari jumlah tersebut kebanyakan tinggal di Sydney dan Melbourne.  Apabila menilik pada profil umur, 97% usia mereka di bawah 65 tahun dan 50% berumur antara 25-44.  Ketika melihat jumlah , dimana muslim di Australia hanya 2.1% dari 23 juta total penduduk, maka sepertinya muslim hanya seujung jari. Namun, Prof. Talal mempersuasi audiens bahwa meski kecil, potensi ke depan dan perkembangan ekonomi muslim  di Australia sangat menjanjikan. Prof. Talal melakukan proyeksi bahwa pada tahun 2020 nanti dengan sistem dana pensiun yang berlaku maka ada sekitar $22 Miliar yang nantinya berasal dari Muslim Australia. Sungguh jumlah yang tidak sedikit. Beliau menambahkan,  muslim di Australia, menurut beliau tetaplah sama seperti citizen Australia yang lain. Mereka mencari great deal dan itung-itungan,  namun, mereka berusaha tetap sharia compliance/ sesuai  dengan syariah Islam [Pas banget, khutbah shalat ied di Canberra kemaren berisi perintah menjauhi Riba!].

Selain melihat populasi muslim di Australia. Para pelaku keuangan di Australia, menurut Prof. Talal sebaiknya juga mencari potensi lain, misalnya ada banyak dana dari Timur Tengah seperti di Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat atau mungkin Malaysia (Waduh pak, Indonesia kok nggak disebut :P). Beliau menjelaskan bahwa Australia punya apa yang tidak dipunyai oleh Timur Tengah: sumber daya alam, good education and health system sehingga banyak sumber daya manusia yang baik, teknologi, serta aturan hukum yang jelas. Di sisi lain, Negara Arab mempunyai dana yang besar dan itu tidak dipunyai Australia. Sedangkan Australia sedang butuh-butuhnya dana untuk menggenjot proyek Infrastrukturnya.

Hingga saat ini, kata Prof Talal, hanya sedikit dari institusi-institusi Islam global yang  melirik Australia. Banyak investor dari timur tengah yang menginvestasikan dananya ke Australia, tapi itu bukan berarti selalu investasi Islami. Meskipun begitu, ada beberapa lembaga keuangan di Australia yang menunjukkan ketertarikannya dengan sistem keuangan Islami seperti ANZ Bank melalui AM Bank di Malaysia atau kemudian saat ini NAB Bank berencana untuk issue Islamic Bond/Sukuk untuk melakukan diversifikasi atas bond mereka.

10227432-dcab-475d-b760-c855f0f18661wallpaper

The Go North and Turn Left Strategy

Prof. Talal  menekankan, bahwa Amerika dan Inggris sudah lebih maju dalam perkembangan keuangan Islami. Saat ini ada 22 lembaga keuangan di UK yang menawarkan produk keuangan Islam,  lalu muncullah seperti jawara keuangan Islam di Inggris Bank of London and Middle East  (BLME) yang merupakan Institusi keuangan Islam terbesar di Eropa. Keuangan Islam juga tidak berarti kudu muslim, itu ditunjukkan dengan data bahwa  banyak dana yang masuk di Saturna’s Capital (punya Malaysia) 90% pemberi dananya  tidak ada hubungan keimanan dengan Islam.

Pengennya sih, Australia itu mengikuti US dan UK dengan cara bridging seperti BLME yang akhirnya berhasil. Prof. Talal menawarkan strategi pengembangan keuangan Islami di Australia dengan menuju ke Asia terlebih dahulu seperti Indonesia (akhirnya disebut :P), Malaysia, Philipina, Thailand untuk mencari peluang bisnis yang bisa dimasuki karena jumlah populasi muslimnya yang banyak. Kemudian mengarah ke Timur Tengah untuk melihat adakah potensi dana investasi yang bisa digunakan oleh Australia untuk membiayai pembangunan seperti infrastruktur dan sector riil lainnya. Dia menyebutnya dengan “The Go North and Turn Left Strategy” [Sebenarnya bagian ini yang paling menarik, cuman saya agak lost. So, jika kurang detail maap yah :D] .

Kuliah ini ruangannya rame, tapi nggak penuh sesak juga sih. Hehe.  Diskusi dan tanya jawab berlangsung cukup singkat  karena cuman satu jam. Pertanyaan berkisar pada bagaimana dengan resistensi politik di Australia terhadap value Islam yang akan masuk.  Beberapa penanya yang lain menanyakan lebih lanjut mengenai praktek keuangan Islami lebih riil-nya seperti apa, contohnya pada Superanuation,  karena memang banyak dari peserta kuliah yang masih belum memahami praktek keuangan Islami dan apa bedanya dengan yang mereka ikuti saat ini. Well, karena  ini judulnya ringkasan, saya nggak terangin disini [karena lupa nyatet juga sih, bahasa inggris soalnyah :P]

Okeh, udah malam, saatnya saya kembali ke assignment! 😀

Canberra, 13 Agustus 2013

signature-pugo

Cara Dapat Diskon Tiket Garuda-Indonesia dengan Kartu PPIA

gambar-garuda-indonesia

Alhamdulillahhhh, 16 Juli yang lalu saya akhirnya bisa pulang ke Jogja selama seminggu. Melihat putri tercinta, Fiza, untuk pertama kalinya, setelah kemarin waktu lahiran nggak ditemenin Bapaknya (Maafkan daku anakku 😦 ). Rencananya sih mau nemenin, cuman karena program matrikulasi di kampus jadwalnya sangat padat dan penuh dengan tugas ujian maka rencana pulang nemenin lahiran dibatalkan. Jempol buat istriku yang pede buat lahiran sendiri tanpa ditemenin suaminya. Tapi misalkan ada suaminya, bisa jadi malah panik. hehehe.

Pas ketika jadwal matrikulasi udah selesai, maka  tibalah saatnya untuk mencari tiket yang paling murah dan available. Saya memutuskan memakai Garuda karena ini maskapai kebanggaan bangsa Indonesia, dan emang dari pengalaman lebih enak daripada maskapai yang dipunyai OZ 😛 Disinilah saya ingin berbagi bagaimana mendapatkan diskon tiket tersebut, karena ketika saya mencoba mencari di mbah-Google terkait hal ini belum bisa saya dapatkan informasi yang cukup jelas (Disclaimer: Bisa aja karena saya kurang teliti :)). Meski nggak lengkap-lengkap amat, Semoga tulisan ini berguna dan bisa jadi referensi awal.

Pertama-tama, saya mendapatkan informasi dari beberapa teman yang mau pulang ke Indonesia bahwa ada promo atau diskon dari Garuda untuk mahasiswa indonesia di Australia yang tergabung di Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia (PPIA). Diskonnya lumayan besar: 20%. Bagi saya yang tabungannya belum banyak, diskon 20% itu udah cukup gede. Misalnya dengan harga tiket $1000 terus kita dapat diskon 20% saja, hasilnya kita hanya perlu membayar $800. Jumlah diskon $200 itu jelas sesuatu. Walaupun kudu ngerjain paper works tetep layak untuk dijabanin alias diperjuangkan! 😛

Syaratnya nggak ribet dan dapat dilihat di link PPIA ANU ini:

[1] Scan Kartu Mahasiswa/ Student ID kampus dimana kita belajar. Kalau ini yang sudah mahasiswa pasti sudah punya jadi nggak perlu dibahas. hehe

[2] Scan Kartu anggota PPIA. Nah, untuk mendapatkannya maka kita mesti mendaftarkan diri menjadi anggota PPIA. Untuk kasus mahasiswa ANU, maka saya kudu mendaftar di PPIA-ANU. Untungnya saya sudah punya kontak dengan ketua PPIA ANU saat ini yang bernama Vina, anak undergraduate di College of Business and Economics. Setelah kontak-kontakan dengan dia, saya akhirnya bisa mendapatkan kartu anggota PPIA ANU. Vina sangat ramah dan sangat membantu  sehingga prosesnya menjadi mudah. Oh iya, untuk mendapatkan kartu itu kita perlu membayar $5, nggak banyak-banyak amat bukan?

[3] Scan Paspport

[4] Itenerary atau jadwal penerbangan yang diinginkan, ini dicantumkan ketika melakukan reservasi via email.

Ketika persayaratan awal tadi sudah lengkap, maka kita perlu untuk menelpon kantor Garuda di Sydney untuk meng-arrange jadwalnya karena bukan reservasi biasa yang dilakukan melalui internet atau agen. Pada fase ini saya mengalami kebingungan dikarenakan kendala bahasa, apalagi waktu telponan ama Customer Service sering saya nggak nyambung. hehe. Misalkan, terkait rute, dari info yang ada di website PPIA ANU tertulis bahwa rute yang mendapatkan diskon adalah Sydney-Jakarta. Padahal, pada jadwal yang saya inginkan tidak ada untuk rute tersebut, sedangkan jika saya terbang Sydney-Denpasar ada.  Lalu apakah saya tidak mendapatkan diskon? Banyak pertanyaan yang terlintas, cuman lidah ini kelu sehingga kurang maksimal menyampaikan. Dari percakapan itu akhirnya saya diminta untuk mengirim email itenerary, scan Kartu anggota PPIA, scan student ID dan scan passport ke email: <reservations@garuda-indonesia.net.au>. Saya cuman yes-yes-yes saja 😀

Setelah menunggu sehari, saya mendapatkan booking reference tiket yang saya inginkan. Hanya saja kok harganya masih sama dengan harga biasa? Batin saya. Kayaknya memang mbak-nya kemaren ndak nangkep maksud saya 😀 Saya kurang beruntung waktu itu karena CS yang saya telpon tidak bisa berbahasa Indonesia, dan cilakanya saya nggak mahir bahasa Inggris, jadi mungkin ada message saya yang nggak ketangkep ama mbak yang nerima telpon dan begitupula sebaliknya. hehe. Nah, jadi teringat istri saya nganggur di rumah (pesennya pas belum lahiran ini, kalo pas lahiran nggaklah :P), maka saya berdayakan dia untuk ngurus tiket, beginilah enaknya kalo punya istri lebih jago bahasa Inggrisnya. Eh ternyata, kok istri saya dapat CS yang bisa bahasa indo, kemudian istri saya menanyakan detail terkait rute dan harga diskon. Berdasarkan diskusi dengan CS tadi, kami baru tahu kalo rute Sydney-Denpasar juga mendapatkan diskon, tapi rute domestiknya (Denpasar-Jogja) tidak. Tambahan lainnya, harga yang didiskon itu yang belum termasuk pajak, tapi nggakpapalah daripada nggak sama sekali. Kami pun kemudian memesan tiket dengan rute Sydney-Denpasar-Jogja PP. dengan harapan transitnya gampang dan nggak perlu repot ngurus bagasi.

Selanjutnya, kami pun mengirim semua persayaratan ulang dan mendapatkan file pdf tentang “Credit Card Authorisation Visacard/Mastercard”. Nanti kita menuliskannya secara detail dan petunjuknya ada di dalam formulir. Nah gimana jika kita nggak punya kartu kredit? Tenang, katrok-nya saya, saya kira nggak punya dan mau pinjem credit card istri. Saya baru tahu dengan debit card yang kita punya yang ada lambang visa atau master card itu bisa digunakan untuk pembayaran tiket dan transaksi lainnya (kebetulan saya pakai Commonwealth Bank dan diterima). Asalkan, pada complete account kita saldonya mencukupi 🙂 Langkah selanjutnya adalah mengisi formulir selengkap-lengkapnya, scan dan kirim deh ke email kantor pelayanan tiket Garuda Indonesia di Sydney : <syd.ticketoffice@garuda-indonesia.net.au>. Tak lama, saya mendapatkan file pdf tiket elektronik di Inbox email saya.  Yippie! akhirnya bisa nengok Fiza 🙂

NB: Setelah diskusi dengan senior, kalo mau yang lebih murah bisa menggunakan maskapai FlyScoot, tapi tetep kudu transit ke Singapore. Nanti dari Changi bisa milih ke tujuan kita di Indonesia, kan banyak tuh.  Bagi yang tidak tergesa-gesa sepertinya saran itu bisa jadi opsi. Anyway, saya puas dengan pelayanan Garuda dan itu bikin saya makin bangga dengan Indonesia. Terimakasih Garuda! 🙂

Canberra, 27 Juli 2013

signature-pugo

 

 

 

Update per tanggal 17 Desember 2013:

  • Karena ada yang menanyakan apakah  tiket bisa digunakan selain student, setahu saya tidak diperbolehkan 🙂
  • Ada kabar baik! Sekarang anggota keluarga bisa mendapatkan fasilitas ini, kemarin istri diminta attach surat nikah. Jadi bagasi kita bisa sampai 80 Kg!  Untuk anak mungkin perlu nanya lebih lanjut ke CS-nya 😀
  • Ada beberapa rekan lain yang menyarankan menggunakan travel Netfare sebagai alternatif selain menggunakan Garuda dengan harga yang cukup kompetitif. Jadi mending cek web Netfare dulu sebagai pembanding 🙂

10S3E

Hari ini adalah hari ke 18 semenjak kedatangan pertamaku di  Bush Capital Australia, Canberra. Tahukah? Sambil melamun di atas pesawat kecil ATR sebelum mendarat di Canberra Airport, melihat luasnya padang ilalang, aku masih bertanya-tanya: Can I survive in this city? Apakah sebenarnya aku pantas sekolah disini? Jikapun lulus, apakah dengan hasil yang memuaskan? atau biasa-biasa aja asal lulus dan membawa gelar agar tidak malu dengan sesama teman ketika pulang? Lulusan Australi, kan kelihatan keren bukan? Lalu gimana kalo failed? Kekhawatiran demi kekhawatiran kemudian muncul, Khususnya dalam hal pendidikan. Bukan dalam hal tempat tinggal, makan dan lain sebagainya. Satu yang sangat dikhawatirkan adalah: STUDI.

Kembali ke  memori awal masa kuliah jurusan Ilmu Ekonomi di Universitas Gadjah Mada, bulan Juli 2005, 8 tahun yang lalu (Ah, ternyata aku sudah tidak muda lagi ya :D). Kesan pertama? Haaa kok  bisa keterima? bukannya waktu UM hanya bisa ngerjain 12 soal Matematika Dasar? Status sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM saat itu sungguh membuat hati ini ragu dan takut. Yang kutahu FE UGM adalah salah satu kampus Ekonomi terbaik di tanah air dan lulusannya menjadi garda terdepan dalam kontribusinya membangun Indonesia. Apa iya aku bisa bersaing dengan teman-teman dari berbagai penjuru daerah?

Selama awal-awal masa kuliah S1 aku jalani dengan ala kadarnya. Asal masuk, absen, nyatet kuliah, ngerjain PR di kampus lihat kerjaan teman dan banyak bad habits selama SMA masih terbawa. Hasilnya? Indeks Prestasi pada dua semester awal tidaklah membahagiakan. Aku masih ingat, 3.05 di semester pertama dan 3.24 di semester kedua. Dua semester awal ini membuatku realistis bahwa dengan bertahan di posisi 3.25 di jurusan Ilmu Ekonomi UGM sudah cukup. Dengan itu saja aku bisa dapat kerjaan. Bisa di BUMN, Bank atau apa sajalah. Asal bisa hidup dengan layak. Nggak usah neko-neko dan bercita-cita tinggi. “Udahlah Go, gini-gini aja cukup” batinku. Sikap setengah-setengah dan nggak niat tadi ternyata berbuah pada nilai E (0) alias gagal total pada 3 mata kuliah selama aku kuliah 10 Semester. Dan, ketiga nilai E tadi mewakili sikap-sikap buruk sebagai mahasiswa yang aku harus dihindari setiap pembelajar.

E Pertama untuk Menunda-nunda

Ekonomi Pembangunan 2 adalah ujian hari itu. Malamnya,  aku kebut semalam apa yang harus dipelajari untuk ujian. Kabar bahwa salah satu teman dengan nilai terbaik di angkatan kami yang tidak mendapatkan nilai A cukup membuatku ngeri. Dia saja tidak mendapatkan nilai sebagus itu bagaimana denganku? (Persangkaan kayak gini jangan dicontoh!) Mulailah aku dengan membaca semua materi selama 14 pertemuan terakhir dari awal sampai akhir. Sebuah usaha yang sia-sia sebenarnya. Dalam belajar, 14 kali satu tidak sama dengan 1 kali 14! Esok paginya aku berangkat pagi agar bisa belajar di sekretariat SKI (wuih sholeh bener, belajar aja di ruang SKI 😀 ). Ternyata belajar di tempat yang bernuansa Islami saja tidak cukup (hehehe, ngarep dapat ilham soal). Jadwal ujian adalah 9.15, jam di ruang SKI menunjukkan jam segitu, aku hanya ingin menunda barang 5 menit untuk review. Aku belum yakin siap untuk ujian! Arghhh! Rasa penyesalan muncul, kenapa nggak belajar nyicil dari dulu ya? (Halah, penyesalan kayak gini muncul lagi, tobat sambel :D). Ternyata penundaan 5 menit tadi berbalas air tuba! Jam dinding di SKI ternyata kemunduran 5 menit dari jam di ruang ujian! oh noooo. Peraturan terbaru fakultas menyebutkan barangsiapa yang terlambat ujian lebih dari 15 menit tidak diperkenankan masuk ujian. Tidak ada toleransi. Dan akupun yang terlambat 17 menit pun dilarang ikut ujian oleh penjaga ujian. Walhasil, mlongo keluar kelas. Baru kali aku dapat nilai E, 0 atau semacamnya. 14 semester hilang percuma. Dari kejauhan, seniorku bernama Mas Jarot Aryo Pidekso (Manajemen 2004) dengan tergesa-gesa menuju kelas. Kita sekelas untuk mata kuliah Ekonomi Pembangunan ini. Entah ini jahat atau apa tidak, ada teman dalam kesusahan memang memperingan beban 😛

E Kedua untuk Malas-malasan

Peraturan baru di kampus yang cukup ketat yaitu tentang kehadiran kuliah. Bagi mahasiswa yang sudah absen lebih dari 3 kali kuliah tatap muka (75%) itu berarti bencana. Sisi baiknya, kita dapat 3 kali jatah bolos. Yayyy!! Bagi pemalas, ini kabar gembira. hohoho. Melihat “kuota” membolos tersebut kadang bagi pemalas bisa dilakukan untuk mengerjakan hal lain selain hal akademis. Main PES, ngerjain PR mata kuliah lain (nih manajemen waktu yang parah, bukan?), atau sekedar stay at home alias tidur di rumah. Untuk mata kuliah Ekonomi Publik 2 di semester 4 itu, kuotaku sudah habis. Sudah 3 kali aku bolos kuliah, dengan berbagai macam alasan / tanpa alasan hingga minggu ke-13. Minggu ke-14 alias minggu terakhir adalah saat yang krusial, malam sebelumnya aku drop, sakit. Panas dan demam yang membuatku tidak bisa berangkat ke kelas. Akupun pucat pasi, karena jika aku tidak berangkat nilaiku akan  E, masak dalam satu semester nilai E ada dua ??? Akhirnya, aku memutuskan untuk menggunakan cara kurang terpuji, titip absen teman. Hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Ketika aku titip kepada teman, dia kemudian memberi kabar bahwa tidak bisa karena saat itu di absen oleh Dosen. Oh noooo (lagi). Tapi sekarang aku bersyukur, bahwa titip absen itu tidak terjadi karena pertama itu berarti cheating dan aku mengajak temanku berbuat tidak jujur juga sebuah kesalahan. Kemalasan demi kemalasan yang terkumpul ternyata membawa kita pada kesulitan yang tidak akan pernah kita bayangkan. Dalam kasus saya, nilai E kembali menghias tabel nilai Indeks prestasi saya. Indeks Prestasi semester pada saat itu adalah 2.0. Sounds good? 

E Ketiga untuk Keraguan dan Ketakutan

Ekonometrika, bagi banyak mahasiswa Ilmu Ekonomi mungkin bisa jadi momok yang serius dalam perjalanan akademiknya. Ada beberapa memang yang berhasil, namun banyakkkk yang kurang beruntung. Mata kuliah ini dibagi menjadi dua. Ekonometrika 1 dan Ekonometrika 2. Alhamdulillah, di Ekonometrika 1 aku diampu oleh dosen idola.Bagi mahasiswa ilmu ekonomi UGM, dosen satu ini memang tidak tergantikan. Mungkin karena berhasil memotivasi kami sekelas, aku yang tidak begitu menonjol dalam hal kuantitatif masih bisa survive dengan menjalani satu langkah demi langkah yang beliau berikan. Anehnya, dan memang seharusnya, beliau bisa membawa kami pada suasana bahwa apa yang sedang kita pelajari ini akan berguna bagi perjalanan akademis ataupun karir, atau bahkan dalam menjelaskan fenomena ekonomi negeri. Karena termotivasi akhirnya aku bisa finish dengan nilai B. Not bad lah (berusaha menghibur diri :P), untuk ukuranku itu sudah diluar ekspektasi.

Hal yang lain terjadi pada mata kuliah Ekonometrika 2. Materi lebih advance dengan dosen yang berbeda Aku sebagai mahasiswa, tahu betul beliau ini paling mumpuni dalam hal ekonometrika di kampus. Sudah menjadi legenda jika untuk mendapatkan nilai dari beliau, super duper sungguh sangat sekali susahnya. Isu ataupun gosip ini ternyata mempengaruhi sikapku pada mata kuliah ini. Aku takut, tidak bisa bertahan dan survive. Ekonometrika 1 sebelumnya cukup berhasil, tidak membuatku cukup pede menghadapi mata kuliah ini (walau sebenarnya aku baca-baca lagi, dasarnya udah ada dan udah kupelajari). Rasa takut dan kurang pede ini ditambahi dengan harus mempelajari software E-Views yang menurutku canggih bukan kepalang, hingga saat inipun aku tidak bisa mengoperasikannya. Ketika dosen menayangkan how it works, dengan programming cepat dan berubah-ubah layar dengan cepat, itu sungguh-sungguh membuatku freak. Dimana aku ini? barang apa ini? atau pertanyaan semacam, ini nanti buat ngapain? Akupun end up dengan menyerah. Saat itu aku juga menjadi asisten seorang dosen yang juga sangat sibuk akhirnya aku memutuskan untuk tidak masuk kelas, dan besok mengulang. Aku lari dari mata kuliah ini. Sebuah keputusan yang hingga saat ini kusesali. Cobaaa saja aku bisa mengatasi rasa takut, kemudian menyesuaikan usaha dan manajemen waktu. Isunya bukan dosennya siapa, tapi siapa yang bisa menjalani dengan kesabaran dan penuh keberanian. Huffttt, memang, penyesalan itu di akhir.  

Di Tengah Gurun Ada Oase

Di tengah badai akademik yang tiada terkendali (ceileh bahasanya), alhamdulillah, aku berada di antara banyak orang baik yang siap membantu dan saling memotivasi. Mereka, bagiku, layaknya oase di tengah gurun. Aku yang mendapatkan nilai sangat buruk pada semester 4 akhirnya bisa menjalani kuliah selanjutnya berkat dorongan teman-temanku selama kuliah. Teman sejati memang hadir bahkan ketika kesulitan melanda, bukan saja yang hadir menyapa saat bahagia. Pelajaran demi pelajaran yang dipetik selama kuliah di Bulaksumur bersama mereka juga berarti pelajaran kehidupan: Jangan menunda, jangan malas dan jangan takut. Pun begitu, ketika melihat satu demi satu mereka menunjukkan mekar serta wanginya, semakin semangatlah aku. Mereka saat ini banyak berprestasi di bidangnya, sebagai seorang PNS yang mengabdi pada negara, bekerja di perusahaan ternama, membuka usaha sendiri, ada pula yang sukses sekolah di luar negeri lalu conference ke berbagai belahan dunia dan tak ketinggalan sukses sebagai ibu rumah tangga. Entah kenapa, di tengah-tengah dinginnya Canberra kala musim dingin ini aku merasa lebih optimis aku tidak ingin ketinggalan dengan teman-teman yang juga makin bersinar. Di depan tumpukan materi kuliah Ekonometrika dan Makroekonomi,  aku teringat kebersamaan dengan teman-teman Ilmu Ekonomi 2005 yang selalu menginspirasi, saat-saat di kantin, selasar maupun perpustakaan. Bagaimana kabar? Semoga selalu dalam kebaikan, semoga kita tetap bisa saling menasehati dan menyemangati 🙂

Salam hangat dari kota sepi bernama Canberra

Senin, 24 Juni 2013

signature-pugo