Should I Accept the London School of Economics PhD Economics Offer?

Saya keterima di LSE? Aamiin. Hehehe. Bukannnnnnnn, judul ini memang berasal dari diskusi di sebuah forum bernama www.urch.com. Nggak tahu sih forum tadi terkenal apa nggak, cuman dapet dari google aja. Judul di atas ini saya dapat di laman ini setelah mencari-cari di google dengan kata kunci: [Ph.D in Economics LSE]. ImageBeda Kelas Beda Pertanyaan

Nha, dalam diskusi itu ane kayak membaca Kompasiana, kadang yang lucu bukan artikel utama, tapi komentar-komentarnya. Dari sana ane melihat beberapa hal-hal sebagai bahan perenungan ane sebelum sekolah besok.

Pertama-tama, misal kamu ditanyain gitu jawaban Anda gimana? yang anak Ekonomi? Awalnya, kalo saya sih pengen nyakar-nyakar si penanya!!! (hehehe, selow selow).  Gimana nggak, dapat sekolah itu susah dan dapat satu beasiswa saja sudah alhamdulillah. Buat ane yang kecerdasannya di bawah rata-rata untuk masuk perguruan tinggi ternama, masuk LSE merupakan mimpi di siang bolong. Bagai pungguk merindukan bulan. Meskipun begitu, wajar bagi beberapa orang pertanyaan kayak gitu karena memang mereka sudah berada pada taraf bisa memilih.

Aye jadi inget, dosen aye pernah bilang, waktu awal sekolah S2 memang bukan pada kondisi belum bisa memilih, tapi suatu saat nanti jika sudah berada pada “kelas”-nya kita bisa kok kayak mereka. Uniknya, katanya ada fenomena menarik mahasiswa master pas sudah sekolah di luar negeri. Awal-awal punya ambisi bisa masuk di sekolah-sekolah top pas S3 entar. Eeee, akhirnya layu sebelum berkembang. Setelah ngalamin susahnya sekolah di master, lulus S3 di sekolah biasa-biasa aja udah syukurrrr  😀

Takut atau Over Expectation?

Perenungan lain setelah mbaca-mbaca diskusi kayak gitu, lama-lama ane mikirnya jadi beda gan. Iya sih si penanya pinter (Coba lihat profile-nya dan jika memang itu bener lho dia ngomongin profilenya. hohoho) dan pantes jika diterima di lembaga pendidikan bagus seperti di LSE. Tapi dia pun ternyata juga ditolak oleh 10 institusi yang lain yang menurut dia ok (Dia kebanyak ditolak sekolah Ivy League). Nah, pinter aja nyoba apply sekolah aja banyak apalagi kayak ane gan, dan mungkin agan-agan yang IPK-nya nggak cumlaude kayak ane kudu apply lebih banyak lagi (kite senasib). hehehe.

Selain itu, orang-orang dalam obrolan itu kok kayaknya mereka nggak takut ngomongin hal-hal yang gede. Misal dia si penanya udah daftar tuh ke rombongan top schools in economics. Lah, kenapa ane nggak nyoba kayak die? Bener apa nggak, katanya lulusan UGM itu nampa uga nrimo atawa gampang bersyukur. Belum tahu ada penelitian yang membuktikan sih, cuman dari beberapa pengamatan kayaknya seperti itu. hehe. Dan saya lulusan UGM 😀 Atau bisa jadi bukan karena nrimo  tapi karena takut nggak diterima? Haaaaa kalo ini sepertinya harus ane evaluasi, toh ane anak Ilmu Ekonomi UGM juga telah melewati persaingan ketat dengan ribuan calon mahasiswa buat lulus UM kemudian lulus skripsi hingga wisuda. Perenungan tahun kemaren sih yang ane dapat itu jangan terlalu jahat ama diri sendiri, PEDE dikit lah napa jadi orang. Hohoho.

Disamping minder, penyakit yang lain adalah tersering over expectation ama kampus atau institusi yang hendak kita masuki. Ane dulu mikirnya nggak bakalan lulus dari UGM, karena takut akan ekonometri, matematika dan statistika. Sampai aye pernah dapat E buat mata kuliah Ekonometrika II gan, sungguh ter-laa-luu. Eh eh lulus juga ternyata, meski pada akhirnya kemelut IPK-nya gan. Catatan lain, ane pernah nemuin dan kenal beberapa orang yang pernah kuliah di LSE, Cambridge, Harvard, Wharton, Boston, Cornell dll, dan kesemuanya masih makan nasi gan! So, kita yang masih sama-sama makan nasi, masih bisa kok  jadi mahasiswa di YuKe atau YuEs sono. [Jangan-jangan sama-sama nasi tapi beda lauk gan :P]

Catatan redaksi: Jangan kalah sama Maudy Ayunda gan! Si eneng ini barusan diterima di dua universitas ternama untuk jurusan EKONOMI yaitu di Oxford University dan Columbia University dan konon akhirnya milih Oxford. Semangat Gan, jangan kalah! Stay Hungry Stay Foolish!

Note refleksi nggak jelas di tengah malam saat melawan masuk angin yang mendera …

Kwitang, 18 Februari 2013

signature-pugo

Mistargeting Fuel Subsidy: Who Benefits More?

Source: World Bank, 2012

The first graph shows the percentage of subsidized gasoline consumption among various users in Indonesia in 2008. The unit of measurement is percentages on the chart, while it is deciles segmentation of household consumption for the detailed information.  Furthermore, most of the benefits of subsidized fuel in Indonesia went to commercial users, its percentage is as high as 54%. The remaining 46% is for households’ use. Subsidized fuel that is utilized by households can be breakdown into 10 levels of household income. This estimation indicates that sum of deciles 8, 9 and 10 households might consume more than 60% of the total usage. In contrary the bottom consumers, which are deciles 1, 2 and 3, accounted approximately less than 15% of the total use.

The second graph illustrates the share of monthly benefit, which is earned by 20 household levels in the same year. Moreover, there was progressive movement of proportion of households who report consuming gasoline due to per capita consumption level. Another point to note is that around two-thirds income group households rarely use any gasoline. Comparing the whole groups of per capita consumption, the wealthiest group gained most benefit of the fuel subsidy in 2008 by almost 285,000 IDR/month and the poorest group (ventile 1, 2 and 3) get only 50,000 IDR/month.

The two graphs reveal that mostly the wealthy people get the benefit of subsidized fuel. Thus, it raises a concern that in 2008 fuel subsidies do not necessarily assist the lower segments of the Indonesia population.

Bantuan Langsung Tunai (Unconditional Cash Handouts) as a Compensation for Fuel Subsidy Reduction Policy

The Government of Indonesia has a plan to implement Bantuan Langsung Tunai called BLT (Unconditional Cash Handouts) in order to compensate the reduction of fuel subsidies. The plan is to distribute Rp150,000 to each poor household since the reduction is implemented until nine months after that (The Jakarta Post, March 2012). It is debatable whether this policy is effective and efficient. Some people believe that BLT is an effective way to help the poor in coping with the increase of fuel price. However, it is arguable that BLT might bring more drawbacks than benefits. Based on different perspectives and experiences, it is plausible that government should not implement this ineffective and costly policy.

From the previous implementation in 2008, BLT has several weakness points. One of them is that the possibility of wrongly targeted recipients is quite high. Banerjee et al. (2009) mentions that it is difficult to decide who is eligible for this kind of aid programs in Indonesia, including BLT. The Government lacks reliable data about people incomes. Therefore, before employing BLT program, the data should be credible.

BLT disbursement might lead to social clashes between residences who are aided and who are not. According to Cameron (2011), the miss-targeted of a cash handouts program in Indonesia has a possibility to affect crime’s growth and social capital reduction within communities. There are some examples of riots because of its disbursement. In Ujung Pandang at the late of 2008, where crowd of people who are BLT recipients come at a time then makes a chaos in the city’s main post office. Some people are injured in this disbursement accident (The Jakarta Post, September 2008).

Cash handouts may create a bad habit for society, such as beggar mentality and consumptive behavior. Instead of giving facilities in a long-term effect policy, BLT only gives short-term effect. This condition led people being used to be given instead of getting proper jobs. Because of that reason, some governors in Indonesia rejected to give BLT to their people. Solo and Bantul regency have mentioned about their rejection (The Jakarta Post, March 2012). The usage of BLT also not-well monitored. People who get the aid cannot be controlled to use the money for useful allocation, because there is no obligation to control their consumption.  Some households are more likely to use the money for unintended allocation, such as buy a new cell phone or to buy cigarettes.

Patunru (2012) and The World Bank (2012) state that in economic shock; BLT is helpful because it provides just-in-time cash assistance to households. This liquidity is an advantage of BLT. The BLT disbursement also covers a wide range of people. However, it is wasting resources when the government spends trillions rupiahs for a miss-targeted program. In addition, even though BLT reaches all of regions, it cannot be long last programmed. It means BLT is an expensive policy and has very temporary impact.

In conclusion, the Government of Indonesia should review this policy because its ineffectiveness, social-clashes issues and the possibility to bring a bad habit for society. Therefore, budget should be allocated for education, health, and infrastructure in order to get a wider impact on poverty alleviation. The poverty alleviation program should not be instant solution, but also consider its sustainability and its wider impact on social life.[]

References:

Banerjee, Abhijit et al.  2009. How to Target the Poor: Evidence from a Field Experiment in Indonesia. Web. 2 August 2012. <http://www.cepr.org/meets/wkcn/7/778/papers/ banerjee-hanna-olken.pdf>.
Cameron , Lisa and Shah, Manisha. 2011. Mistargeting of Cash Transfers, Social Capital Destruction, and Crime in Indonesia. Web. 2 August 2012.  <http://users.monash.edu.au /~clisa/papers/BLT_JPubE.pdf>.
Patunru, Arianto A. 2012. Subsidi BBM dan Kompensasi BLT. 24 March 2012. Web. 2 August 2012. <http://regional.kompas.com/read/2012/03/24/04361836 Subsidi.BBM.dan.Kompensasi.BLT>.
The Jakarta Post. 2008. Makassar BLT Rush as Poor Overrun Post Offices. 16 September 2008. Web. 2 August 2012. <http://www.thejakartapost.com/news/2008/09/16/makassar-blt-rush-poor-overrun-post-offices.html&gt;.
The Jakarta Post. 2012. Regions Say no to Direct Cash Assistance for Poor Families. 24 March 2012. Web. 2 August 2012. <http://www.thejakartapost.com/news/2012/03/24/ regions-say-no-direct-cash-assistance-poor-families.html>.
The World Bank.2012. BLT Temporary Unconditional Cash Transfer: Social Assistance Program and Public Expenditure Review 2. Web. 2 August 2012.  <http://documents.worldbank.org/curated/en/2012/02/ 15893823/bantuan-langsung-tunai-blt-temporary-unconditional-cash-transfer>.

Akhirnya ke Singapura!

Tersebutlah Cahyo Setiadi Ramadhan salah satu teman terbaikku selama berseragam abu-abu. Dialah yang kuajak untuk menjalankan ide jalan-jalan ke Singapura di akhir tahun 2009. “Santai saja Bah, nanti aku beliin tiketnya,” kataku santai. Padahal, saat itu aku baru saja resign dari pekerjaan sebagai asisten dosen. Ada duit?  Nggak juga, tapi pede aja lagi.

Nah, cerita menjadi menarik ketika ngobrol bersama seorang senior bernama Dapur tentang rencanaku. By the way, sekilas info, kami memanggilnya mas Dapur karena nama lengkapnya adalah Danang Purwanto. Jika disingkat, jadi Dapur. Atas nama efisiensi mungkin. Oh ya, jangan sekali-kali menambah kata “mu” di belakang namanya karena, orang Jogja akan menganggapmu berkata tidak sopan.

Terkait dengan rencana jalan-jalan ini, dia berkata padaku, bahwa lebih baik aku merencanakan hal lain yang lebih prioritas dan penting. Dia emang lebih bijak. Sudah nikah kali ya. Tapi aku tetep ngeyel pengen jalan-jalan, masih berusaha nyari-nyari duit. Hingga nantinya di akhir Desember 2009 aku akhirnya mengakui apa kata mas Dapur. I did not have enough money. Batal deh. Dan aku pun akhirnya nggak jadi beliin Cahyo tiket.

Tiga tahun berlalu. Umur bertambah. Akupun sudah menikah. Halah. [www.pamer.org :D]. Ternyata, Allah menakdirkanku menikah dengan seorang akhwat cantik yang saat ini harus bekerja di Singapura. What a coincidence! Di sela-sela les bahasa Inggris di Jakarta, saat weekend adalah hari yang ditunggu-tunggu. Tilik istri. Ke Singapura lagi. Akhirnya! Salah satu angan kesampaian. Tiket yang kami pesan 3 bulan sebelumnya sudah di tangan, syarat punya passport pun sudah bukan merupakan hambatan. Berangkatlah saya pada pukul 19.40 tanggal 16 September yang lalu ke Singapura. Judulnya sih tilik istri tapi memang side effect-nya nyenengin juga. Jalan-Jalannnn.

Pukul 9 malam waktu Singapura pesawat Air Asia yang saya tumpangi mendarat. Sudah menunggu istri tersayang, di Bandara. Sebelum berangkat, she told me that, Changi Airport adalah satu-satunya bandara yang semua lantainya pakek karpet. Agak kurang percaya sih. Tapi pas ngeliat sendiri, memang beneran. Ini negara sisa-sisa bener duitnya. Akhirnya kami ketemu di bagian kedatangan, cukup mudah memang karena petunjuk arah bandara tidak membingungkan. Bandara, memang tempat bertemu dan berpisah untuk sementara kami. Yaaa, kayak di drama-drama Korea itulah 😀

Sumber: Dokumen Pribadi

Bagi sebagian orang-orang, jalan-jalan ke Singapura itu biasa aja. Tapi menurutku istimewa karena dua hal. Pertama, karena kekasih hati ada di sana. Yang kedua karena memang banyak hal yang bisa dilihat. Mungkin kali ini alasan kedua saja yang akan jadi cerita. Yang pertama rahasia. 😀

Setidaknya ada dua tempat menarik yang aku kunjungi kemaren: Marina Bay dan Masjid Sultan. Dua-duanya memiliki daya pikat sendiri. Di Marina Bay, kita bisa melihat landmark Singapura yaitu Merlion. Karena sudah sering kita lihat gambarnya di internet dan bisa nyari di google maka nggak perlu diceritain. Meskipun begitu, ada satu hal yang menarik yang kami temukan ketika jalan-jalan disana. Khususnya di malam hari. Apalagi kalau bukan Marina Bay Sands dengan permainan tata lampunya. Saat itu malam minggu (Yes! Akhirnya bisa malam mingguan bareng istri :D), nggak tahu ada acara apa, lampu-lampu yang ada di Marina Bay Sands menyala-nyala dengan harmoni di seberang sana. Kami berdua terpana. Istri yang sudah tinggal selama 5 tahun di Singapura ternyata juga baru pertama kali melihatnya. Dengan kamera dan tripot yang sudah kami bawa, momen indah itu bisa kami abadikan. Sangat reccommended buat couple deh. 😉

Masjid Sultan Singapura dan Saya 😀
Sumber: Dokumen Pribadi

Di hari minggunya, saat sekalian menuju bandara karena memang jadwal pesawat agak mendekati Maghrib, maka kami mencoba ke Masjid Sultan. Masjid Sultan adalah salah satu masjid besar yang ada di Singapura. Terletak di kampung Glam. Jika masih ada budget, maka ada baiknya temen-temen mencoba Murtabak yang dijual di pinggir jalan dekat masjid, katanya sih terkenal. Aku dan istri sih cuman beli Roti Prata pakai telor, makanan khas India yang disantap dengan kari. Karena waktu yang terbatas, maka aku cepat-cepat saja di sana.

Masuk ke dalam masjid dan melihat-lihat beberapa bagian interior masjid yang indah dan tertata rapi. Misal temen-temen pernah melihat gambar-gambar masjid di Aceh dan beberapa provinsi di Sumatera,  Masjid Sultan sepertinya agak mirip-mirip. Yang menarik lainnya,  disana ada semacam media sosialisasi mengenai Islam dan Muslim. Beberapa diantaranya menceritakan value yang dijunjung oleh Islam, seperti tidak menyukai kekerasan, toleran dan sangat mengerti pentingnya keluarga dan pernikahan.  Semua media tadi diatur dengan baik. Cantik.

Yaaaa… Jam menunjukkan jam 18.00 Waktu Singapura. Aku harus ke Bandara! Anyway, akhirnya ke Singapura! 😀

IALF Kuningan, Saat Test IELTS tinggal esok hari menulis jadi satu solusi ketika stress menghantui 😀 , 18 Oktober 2012

P.S: Cahyo, I owe a ticket to Singapore for you. Insya Allah, one day, I will make it 🙂

Mencari Sempurna: Curhat Penulis Amatir

Berinteraksi dengan banyak orang hebat ternyata bisa jadi masalah juga. Maksudku, jika tidak disikapi dengan cara pandang yang baik. Masalah ini baru aku alami berawal, dengan diterimanya aku untuk mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship.  Semenjak bertemu dengan orang-orang sip bin tokcer, aku jadi bertendensi untuk menjadi orang yang selalu ingin kelihatan perfect dalam hal menulis. Dulu pada saat awal-awal masuk enam bulan pelatihan bahasa di Kuningan, aku bertekad, ingin menulis dalam bahasa Inggris minimal satu tulisan per dua hari kemudian di-post di blog. Tekad tinggallah tekad, hingga hari ini (tinggal 9 hari lagi selesai masa pendidikan), hanya dua biji tulisan yang aku posting. Arrrghhh, sungguh tidak konsisten! Karena ingin selalu bikin esai yang masterpiece, overwhelming writing atau sebangsanya, justru membuatku kurang produktif dan kurang bisa mengalirkan gagasan dalam tulisan.

Padahal, sebenarnya banyak ide yang ada di otak. Mulai dengan menuliskan kisah perjalanan, peristiwa menarik selama ramadhan, catatan harian selama di Jakarta hingga isu-isu terkini tentang ekonomi Indonesia, tapi semua itu hanya tinggal ide. Nihil realisasi. Aku malah takut menulis salah. Hasilnya, ragu menuangkan ide, entar jika kayak gini kayaknya kurang yahud, kalo aku nulis ini nanti dicibir orang. Walaupun aku tahu, sebenarnya itu semua tidak masalah. In fact, they don’t care about it.

Kita sebenarnya dalam belajar hanya diminta mencoba, berlatih, tahu akan kesalahan akhirnya paham lalu memperbaiki. Aku jadi ingat, masa-masa kecil, bahwa kita tak pernah takut belajar. Naik sepeda jatuh, bangun lagi, jatuh bangun lagi. Lecet? Nangis? Nggak. Justru kadang ada di antara kita malah tertawa. Itulah hebatnya anak kecil. Pokoknya bandel, maju terus! Yap! Aku rindu semangat itu!

Mencari sempurna memang diperlukan. Kita memang diajarkan untuk berbuat ihsan, dan memang menuju ke arah sana. Meski begitu, aku merasa tidak adil pada diri sendiri jika berharap sampai tujuan dengan satu lompatan. Ia akan  jauh lebih berat daripada menapakkan melangkah dengan berkelanjutan, satu langkah, dua langkah dan seterusnya. Little by little. Don’t expect too much. Dont worry, we are gonna reach the top. Yang harus kita sadar betul-betul adalah bahwa kita memang tidak sempurna, karena sempurna adalah milik Andra and the Backbone. 😀

-Sebuah sudut ruang di Kantor MES, Setiabudi | 9 Oktober 2012 | Tes tinggal 10 Hari lagi-

“Galau” Day di ADS Info Day :D

Okay, maaf jika saya rada lebay. Dapet beasiswa ADS itu seperti seorang perempuan/akhwat dilamar oleh tiga-empat laki-laki/ikhwan pada saat yang bersamaan. Rasanya kayak tahu kapan mau nikahnya, tapi belum menentukan sama siapa. Hehehe. Sok tahu bener yah saya, kayak pernah dilamar saja. Dan saya bukan perempuan a.k.a. akhwat! Kalau nggak salah sih, rasanya bingung-bingung gimana gitu. Mau milih yang satu, nanti nggak dapat kebaikan yang lain. Tapi, pada intinya semuanya baik. Buat yang sholeh, maka mereka kemudian menentukan pilihan bersandar pada Allah, istikharahlah mereka. Sinetron banget yak, tapi bagi yang pernah dilamar pasti tahu rasanya. Hehehe.

Analog dengan perumpamaan dilamar orang, para penerima ADS yang saat ini “galau” sedang “dilamar” oleh banyak universitas yang bagus-bagus di negaranya Julia Gillard. Di dalam kelas pun para calon student ini berdiskusi mau sekolah di mana. Pun begitu mereka kudu struggling buat dapat nilai IELTS yang disyaratkan. Puncaknya kemarin  acara ADS Info Day pada tanggal 14 Juli 2012 di Hotel Mandarin [yang dekat Bundaran HI itu lho], ADS Awardee mendapatkan kesempatan untuk bertanya-tanya atau mendapat informasi mengenai tempat dimana mereka mau sekolah. Makin bingunglah kita karena pilihannya memang banyak. Utusan para universitas dengan sangat welcome dan ramah memberikan informasi tentang kampus mereka. ADS Info Day memang  sekalian promosi kelebihan kampus-kampus, mereka pan juga nyari students. Info yang ditawarkan mereka bisa dari segi fasilitas pendidikan atau juga iklan mengenai kenyamanan kota tempat kampus mereka. Setahu saya, Universitas-Universitas di Australia memiliki sistem pendidikan yang bagus. Begitupula dengan lingkungan Australia yang digambarkan sangat asri dan bersih dan beda ama jakarta deh pokoknya. Yaiyalah. Udah kebayang deh indahnya Melbourne, Sidney yang cozy, Canberra yang sejuk dan ceria serta Perth yang menawan. ADS Info Day memang bener-bener tempat yang pas buat explore pilihan sekolah, apalagi bagi para calon student dikasih makan siang gratis pula.

Counter-nya (1) UNSW dan (2) ANU serta Crawford School. Ramenya student pada nyari Informasi 🙂 [Sumber: Dokumen Pribadi]

Kembali tentang sekolah, untuk bidang ilmu ekonomi yang merupakan bidang minat saya, ada banyak kampus yang menyediakan program yang oke punya. Saat ini sih ada empat kampus yang menjadi incaran saya. Ada The Australian National University (ANU), University of Melbourne (UNIMELB), University of New South Wales (UNSW) dan yang terakhir Monash University, untuk pilihan saya yang mana masih saya rahasiakan. hehehe. Tapi kemaren sudah mengunjungi keempat kampus dan ngambil merchandise-nya terutama tas. Saya kemaren dapat 4 tas, dan temen-temen bilangin saya kayak mau jualan tas. ehehe.

Setelah makan siang yang maknyus di Hotel [perbaikan gizi masmbak!] kami diberikan sesi sharing AUSAID scholarship Alumni. Waktu itu sebagai pengisi acara pertama yaitu Pak Gatot Soepriyatno, Kajur Akuntansi Universitas BINUS [ihi! dia lulusan UGM angkatan 97/98:D juga Monash University] dan pembicara kedua ada Ibu Mukti yang dulunya orang CSIS dan sekarang  jadi Senior Economist di SEADI USAID [Phd in Economics, Australian National University]. Kedua pembicara memberikan materi yang menarik seputar apa yang bakal dihadapi nanti di Australia sono, tentang kehidupan akademik dan pernak-pernik kehidupan sehari-hari untuk mahasiswa master dan Doktoral. Alhamdulillah, beberapa pertanyaan saya yang belum terjawab disampaikan pada materi tersebut, apalagi Bu Mukti di bidang Economics, jadi rada nyambung-nyambung.

Finally, saya mau bilang, dapat beasiswa ADS itu worth it. Banyak fasilitas yang bisa kita dapat. Happy choice-lah pokoknya. Jika worth it, maka itu layak diusahakan bukan?  Ayo guys, jadikan dirimu layak “dilamar”! 😀

-IALF-PlazaKuningan, 24 Juli 2012-

Alumni Sharing Session dan teman-teman sekelas saya yang bahagia nan sejahtera 🙂 [Sumber: Dokumen Pribadi]

Hasil berburu Goody bag 😛 [Sumber: Dokumen Pribadi]

To-do List

Alhamdulillah, masbro! Jika tidak salah, ini adalah tulisanku di Facebook notes yang ke-100. Hehehe. Sebuah pencapaian besar menurutku, karena memang pada dasarnya aku pendiam, terutama ketika tidur. Dan, mungkin ini adalah tulisan pertama di notes dengan status baru! Yak, aku sudah double! Tapi dengan status pengangguran terselubung. Sudah 3 bulan ini aku jobless tapi studyfullllll. Aku tiap hari harus ngerjain soal bahasa Inggris yang namanya IELTS. 🙂

Eniwei, tahu nggak masbro mbaksist? Aye baru seneng bin bahagia nih. Hari rabu kemaren, 4 Juli 2012, istriku sudah bergelar Master dan sudah pulang di hari jumat kemaren di tanggal 13 Juli. Thesisnya bisa dipertahankan dengan baik dan alhamdulillah dapat nilai yang baik juga. Gimana nggak seneng, itu artinya belahan jiwaku *tsahhh* akan bersama-sama di Indonesia. Senangnya lagi bisa puasa bareng dan menghadapi ramadhan bareng. Resolusi ramadhan 1432 yang lalu bisa tertunai sudah. Hihihi.

Okay, kembali ke inti yang mau aku sampein di sini yaitu tentang pencapaian. Seperti yang sudah aku sampaikan di awal bahwa aye sudah nulis 100 notes, aku udah double, istri udah Master, dan bisa Ramadhan bareng. Menurut aye itu pencapaian, meskipun masih dalam tataran capaian pribadi dan keluarga [PR-ku sebagai manusia masih buanyakkk]. Dan lagi, apa yang aku dapat sekarang itu nggak ada apa-apanya, sekali lagi nggak ada apa-apanya. Masih under achievement. Kemaren aku disentil ama seorang temen aktivis yang bisa nulis buku. Aku kan beli bukunya, terus dikasih deh ucapan dan tanda tangan. Pesannya begini: “Karya untuk keluarga sudah, kapan karya untuk bangsa?” Nah nah, ginian nih yang belum bisa jawab. Tapi optimis lah ya bisa suatu saat nanti, seperti kata Aa’ Gym ada 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang!

Itu tadi kan teori masbro? Lalu, aksinya gimana? Gini, setelah aku pelajari dikit-dikit dari pengalaman temen-temen yang sukses, kelirunya kita tu sering kerja tanpa target dan rencana. Nggak tahu mau ke mana, mau ngapain dan kapan kudu nyelesein tugas. Tips sederhana dari temen-temen yang pinter-pinter [intinya aku ngambil pola hidup mereka yang baik] salah satunya adalah bikin to-do list.

Eh, ternyata saya pernah bikin satu! Pas ngontrak di asrama selama 2 tahun. Kalau sekarang udah jarang karena di tengah kewajiban yang makin banyak dengan waktu yang terbatas. Tapi kok makin lama makin butuh juga nih, konsep “plan what you want to do and do your plan” makin penting justru di saat kita sibuk masbro. Maka kubikin deh satu list yang gampang dan kupasang di notice board kamar kontrakan waktu itu:

2009: Lulus
2010: Menikah
2011: Kuliah di Canberra/Tokyo/Seoul/London
2012: Dapat Gelar Master
2013: Haji ke Baitullah

Oke, jika dievaluasi semuanya MELESET! Hahaha, saya lulus di tahun 2010. Diriku menikah di tahun 2012. Dapet beasiswa juga di awal tahun 2012. Dapet gelar Master tentunya juga baru pada tahun 2015 jika lancar. Dan, kemungkinan haji ke Baitullah sepertinya agak susah di tahun 2013. Tetangga mertua ane aja baru daftar tahun 2012 dan berangkat 2017. Wah, kudu cepet-cepet daftar haji nih!

Dari kasus di atas, aye belajar bahwa dalam merencanakan sesuatu memang kudu ditulis dulu dan mengindikasikan apa dan kapan kudu terlaksana. Dari menuliskannya dalam bentuk to-do list ane kemudian jadi terpacu buat memberikan tanda centang atau tick (V) pada setiap list yang sudah dikerjakan. Bagi ane tiap melakukan penandaan bahwa kerjaan selesai itu mengindasikan achievement. Rasanya menyenangkan lho, bisa fulfill our plan. Yang susah dari membuat rencana yaitu istiqomah pada rencana awal, tahu sendiri kan godaan dan distractions itu ada di mana-mana.

Prakteknya nggak susah, dirimu tidak perlu menuliskannya dalam agenda Ipad-mu atau di handphone atau kudu rapi jali. Yang penting kebaca dan mudah diakses. Cukup kertas sederhana, buku agenda atau papan tulis. Kalo nggak salah ada buku khusus yang ngomongin tentang bagusnya mempraktekkan to-do list ini. Coba aja deh masbro, for me it works. Oh iya sebagai bonus saya kasih gambar to-do-list ane pas ngejar beasiswa. Selamat berencana dan mewujudkan mimpimu! [maap jika gambarnya acak adut ;P]

-Kalibata City, 22 Juli 2012-

Sumber: Dokumen Pribadi

Should Gubernatorial Candidates from Outside Jakarta be Allowed to Run for Election in Jakarta?

The recent political system in Indonesia regulates the government in each region should be elected by people themselves in gubernatorial election. Jakarta also will organize this political affair in July this year. In the meantime, the problem regarding the originality of leader becomes a critical debate. Some people argue that the gubernatorial must be from native Jakarta as a requirement. On the other hand, others argue that everybody who is the best candidate must lead Jakarta regardless his originality. This essay advocates belief that gubernatorial election citizens from outside Jakarta, such as Hidayat-Didik, Jokowi-Ahok and Alex-Nono, should be eligible to participate in Jakarta’s gubernatorial election.

The main argument to support is that Indonesia is a democratic country. Every Indonesian citizen has the right to elect and to be elected. In the other words, there is no law state that prevent citizen from outside Jakarta become elected.  Ministry of Home Affair in his official statement declares that citizens from outside Jakarta are allowed to be elected, and this policy covers all of region in Indonesia.

Another reason is that as a centre of Indonesia’s activities, Jakarta has important position in Indonesia wellbeing, whether in economy or in government. If there is something wrong happens in this city it will be an adverse effect in the national affair. As we know in newspaper and the other medias, Jakarta faces never ending problems that should be solved immediately. the tremendous trouble like daily traffic congestion and annually flood and it must be solved by best candidate as long as he or she are Indonesian people. We shall admit that “imported-candidates” show they excellent performance and track record.

Finally, Jakarta citizen now become multi-ethnic society. It has been a meeting point of cultural diversity of Indonesia. Jakarta represents all Indonesian people. In fact, we cannot define Jakartan only who was born in Jakarta.  There are some “kampung” consist of mainly some ethnic who came from outside Jakarta. For examples: Javanese, Bataks, Minangs, Arabs, and Chinese as permanent residences and they already mixed with the native.

In summary, choosing the candidate who is not native Jakarta become visible and might be the alternative way to get the best leader to handle executive body in Jakarta. I believe that we should give them opportunity to realize their plan for better city management and solve the Jakarta’s severe problems. []

Shalat Kak …

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS Al-Baqarah [2]: 153)

==================================================

Kemudian, untuk mereka yang ingin keluarganya sakinah, seorang istri hendaknya mendorong suaminya bangun shalat Subuh berjama’ah di masjid. Ini sama pahalanya. Langkah suami ke masjid menjadi langkah seorang istri. Pulang dari masjid menjadi langkah istri juga. Oleh karena itu, doronglah suami ke masjid agar para istri juga mendapatkan pahala. Saya mengingatkan hal ini karena shalat merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Sebelum jauh-jauh memperbaiki diri, sebelum jauh-jauh mencari solusi untuk segala masalah yang kita hadapi, nomor satu yang harus kita perbaiki adalah shalat. Suatu ketika saya dipusingkan oleh tagihan yang banyak, rezeki juga seret. Ketika shalat Ashar, istri saya mengajak berdialog.

“Kak, masih ingat nggak?”

“Ingat apa?” saya berpikir.

“Ada sesuatu yang kurang dari Kakak,” ujarnya.

“Apaan?” saya bingung.

“Shalat, Kak. Mushala dekat rumah, tapi kakak nggak ke mushala. Ayo ke mushala biar rezeki nambah.”

Astaghfirullah, iya. Selama ini saya jarang shalat di mushala padahal tempatnya dekat. Saat itu saya niatkan nanti shalat Maghrib di mushala. Barangkali, dialog juga merupakan salah satu terapi sakinah. Pukul enam kurang, saya bergegas pergi ke mushala. Setelah shalat, tetangga saya berkata begini, “Tumben, Sup, lagi di rumah, nih?” Saya bilang “Iya nih, lagi ada di rumah.”  Padahal, saya sering ada di rumah. Memang, menjadi ustadz bukan jaminan, yang jadi jaminan adalah orang yang bertaqwa. Kita pun ngobrol sebentar. Ketika saya pamit mau pulang, dia masuk dulu ke rumahnya dan memberi sekantung buah-buahan. Subhanallah … . Sederhana ya, tapi ini membuat kita jadi belajar.

==================================================

Sebuah petikan paragraf dari buku Ust. Yusuf Mansur berjudul “Allah Maha Pemurah, Maka Engkau Gampang Menikah” [Salamadani, 2008]

Dialog yang entah kenapa membuat hati campur aduk selayak gado-gado dekat Sarinah, duh … .

Kebun Sirih, menghitung hari (jadi teringat lagu Krisdayanti) di tengah 4 hari terakhir bulan Oktober, 26.

Tiga Bulan Gue di Jakarta

Dulu gue tahunya yang namanya urbanisasi waktu  masih kelas 4 SD, dan biasanya urbanisasi jadi langganan soal THB (Tes Hasil Belajar) IPS. Sekarang, gue jadi salah satu praktisi urbanisasi itu. Udah tiga bulan gue ada di jakarta. Ceritanya sih nyari pengalaman dan belajar sambil nyari napkah, semacam sekali dayung 2, 3, 4 pulau terlampaui (kayak merek rokok aje!).

Kaki gue menginjakkan pertama kali di tanah si pitung yang gubernurnya bang Foke ini mulai tanggal 31 Mei yang lalu. Waktu itu hari jumat berangkat dari jogja pakek travel. Dimulailah perjalanan anak manusia dari desa pedalaman Bantul Yogyakarta menuju ibukota.

Elo pasti nggak nyangka, gue harus rela lulus diundur sebulan buat nyari napkah ini. Status gue jadi mahasiswa diperpanjang ampek satu bulan. Ya nggak papa lah, yang penting wisuda agustus 2010 pas lima tahun sebelum status mahasiswa tua di kampus makin berkerak.

Udah bosen juga gue ditanyain ama junior, “Mas kapan lulusnya?” Hahaha. Mungkin di Jakarta ini jadi salah satu cara gue menghindar dari pertanyaan-pertanyaan macam entu. Namun satu yang pasti, ada yang ngangenin gue, kok lama kagak keliatan di Jogja (Ya jelas ada lah! Emak gue. Hahahaha)

Nah loh, di Jakarta kagak sama kayak di jogja. Terutama udaranya itu lho, bikin paru-paru gue yang sehat walafiat harus rela dijejali asap-asap. Dari yang mulai knalpot bajaj (nyang kalo diliat serinya sudah sejak ada perang dunia II), ampek mikrolet yang jelas dari chasing-nya kita tahu itu masih terasa nuansa masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Wah elo harus nyobain rasanya “sauna berjalan” di Jakarta.

Kadang miris kalo ada kondektur bilang, “Eh bang, eneng, masih kosong nih.” Padahal kalo gue liat, para penumpang udah bergelantungan nggak jelas. Gue belajar relatifitas kosong dan penuh itu di jakarta. Elo pasti masih inget apa kata biksu Tom Sam Chong: isi adalah kosong, kosong adalah isi.

Udara di dalam yang panas dan bauk, jelas merupakan aroma terapi dan sauna yang tiada duanya, kurang spa kali ya. Untung gue cuman ngerasain itu dua minggu, habis itu naik motor. Udara bersih itu harta brader, jadi jangan elo sia-siain dan bikin makin kotor kota elo yang masih bersih udaranye. Tanamin tuh tumbuhan-tumbuhan, makanya elo harus liat The Inconvenience Truth-nya Al Gorr (Serasa jadi aktipis lingkungan).

Satu catatan lagi, di jakarta emang transportasinya amburadul dah. Elo kagak bisa liat itu di kota lain selain di Jakarta. Lautan manusia pas pada mau berangkat kerja ma sekolah. Kondisi itu bakalan lain kalo weekend, tuh kota yang biasanya gerah ama riweuh bikin lieur minta ampun jadi tiris bin anteung (Lhah, kok malah jadi Sunda 😛 ).

Dari ramainya itulah, elo harus pinter-pinter tahu jurusan-jurusan mikrolet ama angkot yang bisa nganterin elo ke kantor apa sekolah kalo kagak, misal kelewatan dari tujuan elo kagak bisa nyuruh tu supir balik. Wkwkwkwk. Transjakarta ato buswe juga bisa elo pakek misal tempat tujuan elo dilewatin ama halte. Kebetulan tempat gue kagak ada buswe, makanya gue bawa motor, si Supri, dari Jogja. FYI, nganter motor dari Jogja naik kereta dan dianter ampek rumah di jakarta itu habis 275 ribu rupiah. Kadang kalo petugas paket ada yang usil nambahin 50 ribu, jadi bayarnya 325rb. Nah, gue termasuk yang diusilin itu. Anyway, gue lebih nyaman naik motor daripada berjubel di angkot apa buswe. Tahu sendiri lah, kebanyakan nyenggol yang bukan mahram di angkot jadi kebanyakan dosa, itu kata pak uztaz. 😛

Tapi ada  enaknya di jakarta tuh kalo mau naik kereta mau ke mana-mana bisa, gue udah dalam 3 bulan ini bolak balik ke bogor buat main ama ketemu temen sekaligus nyari inspirasi tulisan/paper gue. Lumayan lah lima ribu doang bisa ke bogor. Kalo elo pengen lebih merakyat lagi, ya naik ekonomi; dua ribu doang elo bisa ke mana-mana. Dari kereta ekonomi elo juga bisa tau keadaan rakjat sebenarnja jang harus kita perjoeangkan sodara-sodara.

Kalo dari sisi sosial gue, hal yang belum bisa gue ilangin itu suudzon -berprasangka jelek- tiap liat orang agak aneh, padahal pas pengajian diomongin dilarang suudzon ama orang, sekali lagi itu kata pak uztaz. Padahal orang jakarta  itu banyak yang baik kok. Emang ada yang bilang jahat?. Gue aja ama pemilik kost-an gue selama puasa ini gratis sahur. Coba elo nyari kost-an yang gratisan sahur. Susah bro! Seperti mencari jarum di tengah jerami. Hahaha, lebay dan kurang kerjaan, mending nyari di toko.

Kata orang, ibukota itu lebih kejam daripada ibu tiri, gue nggak sepakat! Buktinya, ada banyak temen-temen gue ama senior-senior yang ketemu calon ibu kandung buat anak-anaknya di ibukota. Hehehehe. Tapi sialnya, gue ditemuin ama orang jahat juga. Hape gue dicopet! Dasar tu copet emang kasian banget, lebih miskin dari gue ternyata. Wkwkwkw. Dudul banget coba, “senter berfasilitaskan hape” kesayangan gue diambilnya. Padahal banyak kenangan tuh senter, eh hape.

Gue bisa nyimpulin emang sekarang pertumbuhan ekonomi nggak nyambung ama yang namanya kemiskinan. Buktinya, senter berhape gue yang butut diembat juga. Udah nggak milih-milih dah, nyang dicuri itu kan sama-sama miskin. Gue yang ngirit naik kereta sejuta umat: Progo aja yang merupakan kasta terendah dalam tingkatan naik kereta aja masih dicopet. Mbok ya nyopet tuh ya di Argo Bromo, Argo Anggrek, Gajayana ato kereta eksekutip lainnya. Lha ini, kumpulan orang tak berpunya jua papa masih saja jadi sasaran. Tapi, mungkin hipotesis Bang Napi emang bener, kejahatan bukan hanya karena ada niatan dari pelakunya tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Makanya saran gue, kalo naik transportasi pokoknya jangan sampe meleng, kudu ati-ati tansah waspada anggone njaga banda. Lho malah basa jawa. 😛

Sisi lain dari hidup di jakarta tuh harus pinter yang namanya ngirit. Buat elo yang masih lajang, mungkin bisa gue prediksi habisnya gaji pertama elo adalah hitungan minggu pertama. Hahahaha. Ya nggak semua orang sih, cuman di jakarta elo harus bisa menata yang namanya keinginan. Apalagi makanan di sini mahal-mahal brader, pecel lele yang merupakan masakan penyambung lidah mahasiswa UGM sana itu kan harganya 5rb di jogja, di jakarta di bawah stasiun Gondang Dia gue harus ngrogoh kocek 11rb belum sama minum. Elo bisa bayangin kalo elo makan 3 kali sehari. Apalagi kalo elo emang sukanya nonton dan happy happy di mall, harus lebih hati-hati tuh.

Wah dulu pada minggu pertama, bisa lho gue cuman makan sekali sehari brader. Maksudnya yang bayar, selainnya numpang di tempat mbak ipar. Hehe. Ternyata itu bukan sebuah prestasi, temen deket gue bisa makan sekali sehari bisa lama banget. Prihatin bener tu bocah, semoga lekas dapet kerjaan yang baik dah (Aamiin!). Ya gitu deh, pertama kali elo emang harus prihatin biar nggak keteteran jika tanggal mendekati kepala dua.

Nha, buat para pekerja swasta dan BUMN biasanya gajian pada tanggal 25 ampek akhir bulan. Kalo departemen pemerintahan biasanya awal bulan. Mulai dari situ elo bisa belajar ngitung-ngitung pengeluaran elo selama sebulan dan liat polanya. Harus detail mana buat makan, kost, laundry (kalo nggak mau nyuci sendiri), transportasi ama nabung. Nabung ini yang agak susah brader and sister. Gue udah nyoba cuman ternyata gatot! Wkwkwkwk. Di bulan pertama gaji gue habis buat pulang balik jogja-jakarta untuk ngurus skripsi dan wisuda. Tambal sulam di mana-mana tapi alhamdulillah gue masih bisa bertahan ampek sekarang. Gue adalah contoh gagal dalam ngelola duit, makanya jangan dicontoh yak. Hehe.

Untuk urusan kerjaan, itu masing-masing personal. Nyari kerjaan (jika memang masih bisa memilih) itu yang bener-bener elo senengin atau setidaknya gajinya nyenengin. Wkwkwk. Biar betah tinggal di jakarta. Kebetulan kerjaan gue yang masih terkait dengan ekonomi sangat membantu gue dalam memahami dalamnya masalah ekonomi. Materi yang gue dapet di kuliah akhirnya harus mendapat penyesuaian dengan apa yang terjadi di lapangan. Makanya gue semakin paham kenapa banyak yang nyaranin kerja dulu buat yang mau nglanjutin sekolah lagi baik di dalam atau di luar negeri, biar kita dapet feeling-nya. Nha selama 3 bulan ini, gue dapet tu feeling. Jadi kata bos gue, ekonom itu ada baiknya mempertimbangkan kebijakan tidak dalam “ruang hampa”. Wah dalem banget dah pokoknya, dan gue sepakat. Makanya elo yang di kampus ada kesempatan jadi asisten dosen jangan sia-siain kesempatan gede itu. Terus bersabar di sana dan nanti elo akan dapet uang saku-nya (so pasti) dan hikmahnya (hahaha sok bijak gue). Jadi, biar kita tahu gimana sih ilmu yang elo pelajari itu bisa elo terapin. Makin paham kita bahwa ilmu kita kepakek di dunia nyata makin semangat buat belajar. Trust me ^^

Satu kata yang bisa merangkum pas kita belajar, bekerja dan mencari pengalaman di kota orang dan negeri orang adalah SABAR. Mudah disebutin, cuman susah dilakuin brader. Karena elo bakal nemu banyak hal yang kadang tidak ada dalam pikiran kita sebelumnya. Banyak deh, nggak bisa gue ceritain satu-satu disini. Elo nanti bakal punya cerita sendiri-sendiri dan pasti unik. Yang jelas elo dengan sabar di rantauan akan bikin kita makin dewasa (hahaha sok dewasa).

Gue udah tiga bulan di jakarta, ternyata banyak pelajaran yang bisa gue ambil, termasuk cara bawa tas biar nggak kecopetan, rute angkot, rute kereta, cara pesen tiket pulang kampung biar nggak kehabisan, jangan masuk lewat tol buat sepeda motor (hal paling geblek yang pernah gue lakuin, wkwkwk), selalu liat tanda di jalan biar nggak tersesat, kerasnya kehidupan di stasiun dan masih banyak lagi. Tapi yang belum banyak gue pelajari emang biar jadi anak gaul di sini, jujur gue nggak suka ke mall, pernah gue tersesat di mall dan kehilangan arah ke tempat parkir motor hehe. Yah gue baru tiga bulan di sini, belum pantes masuk persyaratan member sosialita di ibukota yang biasa kita sebut AGATA: Anak Gaul Jakarta. ^^

Cheers,
Pugo

-Kost-an timur Stasiun Gondang Dia, ditemani nasyid Always Be There oleh Maher Zain ^^V, 6 September 2010